
Diserang rasa bersalah seperti tengah diserang ribuan anak panah yang dilesakan ke dada. Sakit sehingga aliran darah seperti dihentikan. Bibir rapat terkunci, kalimat yang ingin diucapkan tertahan di tenggorokan.
"Kamu tidak mengajakku masuk?" Pertanyaan dari Rahma seperti hembusan angin yang mengembalikan nyawa ke dalam raga.
"Maaf ... maaf, ayo masuk dulu." Baju yang belum dijemur ditinggalkan sementara. "Duduk, Rah! Maaf ya duduknya di tikar. Eh ...."
Sorot kecewa dari Rahma membuat Sofia linglung. Padahal Rahma tidak sedang menghipnotisnya. Beberapa kali Sofia menyentuh perabotan rumah tangga yang tidak diperlukan saat ini. Seharusnya menyediakan minum untuk tamu malah masuk ke dalam kamar membawa selimut bekas Wawan yang telah dilipat.
Tarik nafas, tahan, buang. Sofia melakukan itu beberapa kali mengatakan pada diri sendiri kalau semua akan baik-baik saja.
"Teh atau kopi?" tawar Sofia ketika hati mulai bisa diajak kerja sama. Bersamaan dengan itu Wawan muncul dari dapur dengan wajah yang basah. Dia baru saja membasuh wajah.
Kemunculan Wawan di ambang pintu dapur jauh lebih menarik ketimbang tawaran Sofia. Tatapan mereka bertemu namun Wawan lebih dulu mengalihkan tatapan dan menunduk.
"Rah, teh atau kopi?" sekali lagi Sofia bertanya karena Rahma masih terpaku pada Wawan.
"Eh ... air putih aja." Rahma mngerjap kemudian memalingkan wajah untuk menguasai diri. Tidak dipungkiri gejolak dan rasa kecewa hadir secara bersamaan di dalam hati.
Beberapa tahun yang lalu Rahma dan Wawan sempat dekat namun tak sampai menjadi kisah. saat itu Wawan hanya pemuda desa yang ingin ikut andil dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh ketua karang taruna. Setiap kegiatan selalu mempertemukan mereka. Keduanya tampak akrab dan sering berdiskusi untuk menyumbangkan ide.
Awalnya memang sama-sama tak memiliki perasaan selain saling menghormati sebagai sesama anggota. Akan tetapi anggota lain yang melihat keakraban mereka dan merasa mereka cocok, mulai melontarkan guyonan yang mengarah pada perasaan. Lambat laun bibit cinta yang ditebar oleh mereka mulai berubah, bermekaran seiring pertemun demi pertemuan.
"Cocok kok, Wan, yang satu cantik, yang satu ganteng," ujar salah satu anggota karang taruna.
"Akang mah bisa aja," balas Wawan, namun dia pun tak memungkiri ada desir yang mengalir bersama darah. Mengalir dipembuluh darah hingga menimbulkan rasa hangat dan rona merah di pipi.
"Tapi kalian memang beneran cocok loh. Ah kalau sudah begini tinggal panggil aja Pak Lurah biar sekalian prasmanan," canda salah satu senior mereka di tengah acara yang sedang berlangsung.
__ADS_1
Mendengar nama Pak Lurah Wawan langsung menoleh pada Rahma. Dia tidak menyangka kalau gadis cantik nan pintar itu anak Pak Lurah-pemimpin desa yang terkenal kaya dan berwibawa. Kenapa Wawan tidak mengetahui Rahma anak pak lurah? karena selama ini Rahma selalu berpakaian sopan diikuti tutur kata yang santun. Dia tidak menunjukan bahwa dirinya lahir dari keluarga berada.
Perbedaan strata sosial membuat nyali Wawan menciut. Rasa yang baru mekar layu sebelum dipetik. Sejak itu Wawan mulai menjauh hingga akhirnya menikahi perempuan yang tidak lain adalah sahabat Rahma.
Takdir memang kadang terlihat seperti mengajak setiap insannya bercanda. Bisa-bisanya gadis yang dinikahi Wawan ternyata sahabat dekat orang yang ia jauhi.
Setelah sekian lama menjauh kini mereka kembali bertemu tatap dalam keadaan dan status yang berbeda.
"Apa kabar?" tanya Rahma menatap pria yang sampai saat ini masih ia kagumi.
"Baik." Setelah menjawab pertanyaan dari Rahma, Wawan memilih melanjutkan menjemur pakaian yang belum diselesaikan oleh istrinya. Sengaja menghindar agar rasa yang sudah dikubur tidak kembali muncul kepermukaan. Ia tidak boleh lupa bahwa sekarang ada perempuan yang lebih berhak atas cinta darinya.
Rahma tahu Wawan sedang menghindarinya, namun dia pun tak bisa berbuat banyak. Sebagai perempuan yang menjunjung tinggi adab dia paksa hati agar menerima kenyataan bahwa pria itu tidak bisa ia miliki.
Di dapur, Sofia sengaja berlama-lama. Memberikan ruang pada mereka yang terlihat seperti memiliki ikatan. Meskipun begitu ia tetap memasang telinga dengan baik. Berharap bisa mendengar apa yang dibicarakan keduanya. Mungkin mereka akan membicarakan perasaan masing-masing. Sudah cukup lama menunggu namun ia tak mendengar percakapan apa pun.
"Maaf ya lama, kaki-ku gak bisa diajak jalan cepat," kata Sofia seraya menyodorkan gelas berisi air. Dia tatap wajah cantik yang menyimpan sorot luka itu. "Maaf ya."
"kemarin aku berbohong, kamu pasti kecewa apalagi ...." Kembali kalimat Sofia hanya sampai di tenggorokan. Niatnya dia ingin mengatakan-apalagi saat tahu pria yang menjadi suamiku adalah pria yang kamu kagumi. Namun dia tidak memiliki bukti.
"Iya aku memang kecewa ... coba saja kemarin kamu bilang sudah menikah. Pasti aku siapakan kado istimewa untuk kamu. Sekarang aku hanya membawa kado ini." Rahma mengeluarkan kado kecil dari dalam tasnya dan menyerahkan kado itu pada Sofia.
"Rahma?"
"Ya?"
"Apa Wawan ini orang yang sama yang kamu kagumi?" tanya Sofia mengabaikan kado yang dia pegang. Dia tidak bisa lagi menyimpan rasa penasaran. Pengakuan Rahma waktu di kedai selalu menghadirkan resah kala mengingatnya.
__ADS_1
Rahma diam. Menimang kalimat yang tepat sebagai jawaban.
"Jawab saja!" kata Sofia lagi.
***
Wawan baru masuk kembali ke rumah setelah Rahma pulang.
"Ayo buat perjanjian," kata Sofia saat Wawan duduk dan meluruskan kaki.
"Perjanjian apa?" Wawan menyipitkan mata seraya melipat kaki yang tadi diluruskan.
"Aku akan melayani kamu sebagaimana mestinya seorang istri, tapi ceraikan aku setelah tiga bulan pernikahan kita."
Wawan terhenyak, "kenapa harus bercerai? Boleh aku tahu alasannya?" Buru-buru dia menguasai ekpresi.
Sebenarnya Wawan tidak perlu bertanya seperti itu. Dia juga tahu kalau sang istri belum mencintai dirinya. Namun bolehkah ia meminta waktu agar bisa membuat istrinya jatuh cinta. Membangun keluarga yang disakinah dan penuh rahmat.
"Tiga bulan."
Selain alasan tidak mencintai ada alasan lain yang mendorong Sofia agar meminta bercerai. Pengakuan Rahma. Ya gadis itu mengakui kalau Wawan adalah orang yang dia kagumi selama ini.
"Itu terlalu sebentar. Beri aku waktu untuk merayu Allah. Bagaimana kalau satu tahun?" tawar Wawan. Bukan tanpa perhitungan, dia sudah menghitungnya.
Sofia menunduk, helaan nafasya terdengar berat. Dia mengangkat wajah menatap wajah teduh suaminya. Tidak ada amarah dalam sorot mata pria itu. Pantas jika Rahma dan gadis lain mengaguminya.
"Kenapa harus merayu Allah dulu?"
__ADS_1
"Karena hatimu milik Allah, Dialah yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Termasuk hati kamu. Aku yakin sekeras apa pun hati kamu akan melunak ketika Allah sudah meridhoi kamu untuk aku miliki."
"Kamu itu baik tapi kenapa memilih aku? Padahal ada banyak gadis yang mengagumi kamu, termasuk Rahma. Kalian pernah dekat kan?"