
Gadis itu tetap acuh, tenggelam pada dunianya. Wawan yang memanggil tak ia hiraukan karena telinga tertutup earphone yang tengah memutar lagu galau. Pikirannya mengulang kenangan lama di mana ia dan Wawan pernah begitu dekat namun kini seperti orang asing.
Masih terlihat jelas bagaimana tadi siang Wawan acuh atas kedatangannya. Ia tahu dirinya tidak boleh berharap lagi kepada Wawan namun bisakah mereka tidak seperti ini. Sungguh ini begitu membuat dada sesak. Berusaha ikhlas namun kalimat itu hanya terucap di mulut tidak dengan hati dan perbuatan.
"Rahma?" gadis itu terhenyak ketika tangan Wawan menyentuh pundaknya.
"Maaf." Wawan langsung menjauhkan tangannya dari pundak Rahma.
Rahma mengangguk kemudian melepaskan earphone dari telinga. "Ada apa, Kang?" Setelah menatap beberapa detik ia memalingkan wajah. Tidak. Pesona Wawan tidak boleh lagi ia puja sebelum hati bertambah remuk. Ya dari dulu dia mengakui adanya perasaan itu di dalam dada. Hanya saja tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengutarakan.
"Kamu jalan sendirian dan hari sudah sore. Kamu pasang eraphone di telinga apa itu tidak bahaya?"
Hembusan angin sore membawa desir ketika orang yang pernah ia kagumi bertanya seperti mengkhawatirkan. "Aku lagi nunggu bapak jemput sekalian jalan-jalan sore. Akang sudah mau pulang?"
"Iya, mau bareng?" Bukan maksud memberi harapan kosong, kali ini yang bekerja bukan perasaan melainkan akal. Mana tega ia melihat perempuan jalan sendirian sementara matahari sudah hampir tenggelam. Itu terlalu riskan. Sikap ini berlaku pada siapa pun, bukan hanya pada Rahma.
"Enggak usah, Kang." Rahma menolak karena merasa tidak enah hati pada Sofia. Apalagi setelah pengakuannya kemarin siang. Tidak bermaksud menyakiti namun saat itu ego akan perasaan terlalu dominan. Saat pulang ke rumah dia merutuki sikapnya yang keterlaluan. Tidak seharusnya dia mengatakan kalimat itu pada istri dari pria yang saat ini berbaik hati menawarkan tumpangan. "Aku mau nunggu bapak aja."
"Kalau begitu nunggunya di warung Mang Aban aja. Di sini terlalu bahaya untuk seorang perempuan." Wawan mengedarkan pandangan pada samping kiri kanan jalan yang dipenuhi rumpun bambu.
Bersamaan dengan itu ponsel Rahma berdering, sebuah panggilan masuk dari nomor Pak Lurah.
"Di mana? sudah pulang belum?" tanya Pak Lurah dari sana terdengar mengkhawatirkan.
__ADS_1
"Neng msih di jalan, bapak jadi jemput kan?" Rahma melirik sejenak pada Wawan.
"Aduh kenapa gak bilang dari tadi, urusan bapak belum selesai di rumah Pak Camat. Ya sudah bapak nyuruh Aam aja buat jemput kamu."
"Aam kan masih di tempat kemah, Pak."
"Allah, kalau ada ojek lewat jangan nunggu orang yang bapak suruh datang ya, naik ojek saja!"
Telepon berakhir setelah Rahma menjawab iya. Gadis itu menatap Wawan yang masih duduk di atas motornya.
"Gimana?" tanya Wawan.
"Urusan bapak belum selesai, aku diminta naik ojek."
"Ya sudah bareng saya aja." Wawan memberi isyarat untuk naik.
"Masuk dulu, Kang?" tanya Rahma ketika sudah sampai di depan rumah yang pagarnya saja paling mewah dari rumah sekitar.
"Terlalu sore, kasihan istri saya sendiri di rumah," balas Wawan yang tengah memutar motor dan langsung tancap gas tanpa menunggu ucapan terima kasih dari gadis yang pernah mengusik hari-harinya.
Rahma menatap dengan kecewa, harusnya momen yang beberapa menit lalu menjadi kesempatan untuk ia mengetahui alasan Wawan menjauhinya waktu itu. Saat itu Wawan tiba-tiba menjauh tanpa mengatakan alasannya. Meredam rasa kecewa Rahma mendongak menatap langit yang sudah gelap dan kumandang adzan pun sudah terdengar dari beberapa masjid terdekat. Dia masuk ke dalam rumah membawa kembali hati yang patah.
***
__ADS_1
Lampu rumah sengaja tidak dinyalakan oleh Sofia. Ada rasa tidak nyaman saat beberapa menit lalu ia menerima kiriman foto Rahma yang baru turun dari motor suaminya. Deru motor Wawan terdengar dan berhenti di depan rumah. Pintu rumah masih tertutup rapat karena Sofia tidak ada niat untuk menyambut, pun dengan Wawan yang masih menaikkan motor ke atas teras.
Wawan mengerenyit menatap rumah yang gelap. Ia berpikir bahwa istrinya sedang tidak ada di rumah atau mungkin masih di rumah orang tuanya seperti kata istrinya tadi pagi. Dia pun membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu dibawa.
Begitu pintu terbuka, Wawan terkejut ketika lampu seketika menyala membuat mata mengerjap karena sinar yang tiba-tiba masuk ke dalam retina.
"Kenapa? kaget?" tanya Sofia yang berdiri di dekat sakelar. "Dari mana? Kok baru pelang?" Rentetan pertanyaan dilayangkan Sofia untuk mengetes kejujuran suaminya. "Gak bisa jawab ya?"
Wawan tersenyum dan mendekat, " tadi aa habis belanja dulu dari warung Pak Haji, nih buktinya." Wawan menunjukan kantong kresek berisi bahan masakan. "Kok tumben, ada apa nih?" dia balik bertanya sambil melepas tas kerja yang selalu dia bawa. Kemudian melepas jaket dan juga kaos lalu meneteng handuk. Waktu maghrib hanya sebentar, maka ia akan kehabisan waktu jika menjawab pertanyaan sang istri lebih dulu.
"Aku butuh jawaban bukan pertanyaan," ujar Sofia ketus. "Habis jalan sama Rahma kan?"
Langkah yang sudah meneteng handuk dan siap untuk mandi kembali berhenti. Dia berbalik untuk menelisik wajah sang istri, "Apa artinya Neng tengah cemburu?"
Bibir tipis membuat lengkungan senyum sinis, "gak ada kata cemburu dalam kamusku. Aku hanya tidak suka dengan cara kamu berbohong." Sofia menatap dengan tangan yang dilipat di dada.
Wawan menggelengkan kepala tanda keberatan dengan apa yang baru saja keluar dari bibir istrinya. Dia tidak berbohong. Apa yang dia katakan adalah kebenaran hanya saja tidak lengkap menceritakannya.
"Aku tidak berbohong. Selesai kerja aku langsung pulang tapi mampir dulu di toko Pak Haji. Di jalan aku melihat Rahma berjalan sendirian. Aku tanya kenapa dia jalan sedirian padahal hari sudah sore, dia bilang sedang nunggu di jemput sama pak lurah. Karena tak tega aku tawarkan tumpangan, tapi dia menolak."
"Menolak kok bisa sampai di depan rumah." Terdengar jelas nada jengkel dari cara Sofia bicara.
"Makanya dengerin dulu, aa belum selesai berbica." Wawan tangkup wajah istrinya hingga tatapan mereka bertemu. "Aa hanya-"
__ADS_1
"Lelaki yang pandai bicara adalah lelaki yang pandai berbohong. Ceraikan aku sekarang" Sofia enggan mendengarkan penjelasan, dalam prinsipnya ia tidak ingin diperdaya laki-laki.
Akankah cara ini berhasil membuat mereka berpisah?