
Iris menolehkan kepalanya ke arah sang pemilik suara dengan cepat.
Sesaat setelahnya Iris langsung membulatkan matanya kaget.
"K..kau.."
"Sttss,kita bicara nanti saja." Tegur orang itu saat melihat ekspresi Iris yang sepertinya sangat terkejut dengan kehadirannya.
Iris menggeleng-gelengkan kepalanya berharap agar semua yang ia lihat saat ini adalah mimpi. Namun sayangnya,sekuat apapun Iris menepis,kenyataan berkata lain.
"Dia benar-benar ada di Indonesia? Dan sekarang berada tepat di depanku? Apa yang dia rencanakan?"
♡♡♡
Dua puluh menit kemudian.
Iris bergerak gelisah di atas kursi yang tengah ia duduki. Saat ini,ia dan seseorang dari masa lalunya yang tak lain adalah Ardo itu tengah duduk berhadap-hadapan di dalam sebuah cafe yang jaraknya tak begitu jauh dari tempat Iris berbelanja tadi.
"Ekhmm." Ardo berdehem pelan memecah kecanggungan yang terjadi diantara dirinya dengan Iris saat ini.
Iris yang mendengar deheman Ardo,perlahan mengangkat kepalanya lalu menatap Ardo sekilas. Hanya beberapa detik dan setelahnya ia membuang pandangannya ke arah lain.
"Kau tidak merindukan ku?" Tanya Ardo setelah beberapa saat keduanya saling diam.
Iris yang tadinya membuang pandangan ke arah lain dengan terpaksa membalikkan kepalanya lagi untuk melihat ke arah seseorang yang hampir saja membuat hidupnya hancur dulu.
"Jaga bicara mu Ardo! Kau sudah menerorku dengan pesan-pesanmu beberapa hari ini dan aku yakin kau juga tau pasti kalau aku sudah menikah. Jadi tidak usah bersikap seolah kau tidak tau apa-apa tentang masalah yang dalangnya tak lain adalah dirimu sendiri!"
Iris benar-benar membentak Ardo dengan nada tinggi dan tatapan penuh kebencian. Untung suasana restoran saat itu sepi pengunjung karena memang sedang jam kerja,jika tidak mungkin saja keduanya sudah jadi bahan tontonan karena nada suara Iris yang cukup menggema di ruangan itu.
__ADS_1
Sementara di sisi lain,Ardo tetap tenang dan memasang raut wajah kalemnya. Tak merasa gentar ataupun tersinggung dengan bentakan gadis yang pernah hampir ia nikahi itu.
"Tenang lah Iris. Kita bisa bicara baik-baik,tahan emosi mu dulu. Apa kau tidak mau.."
"Tidak mau! Dan tidak perlu! Apa pun yang saat ini hendak atau tengah kau rencanakan. Semuanya tidak ada artinya,kau tau kenapa? Itu karena aku telah menemukan pengganti yang jauh lebih baik dari dirimu!"
"Semenjak hari dimana kau tidak datang ke pernikahanku,semenjak hari itu juga aku kehilangan respek atas dirimu!"
Ardo menatap rendah gadis di hadapannya ini.
"Sudah menikah katamu? Dengan siapa? Tukang kebun di rumahmu itu??"
"Tutup mulutmu!! Jangan berani-berani kau menghina seseorang yang bahkan jauh lebih bertanggung jawab dari pada pria dari kasta tinggi namun sangat disayangkan mempunyai attitude yang minus."
Bukannya tersinggung,Ardo malah tertawa lantang.
"Iris,Iris. Kau menghinaku hanya demi laki-laki kere itu? Apa kau lupa siapa aku?? Aku tunanganmu Iris,cinta pertama mu dan satu-satunya pria yang pantas membahagiakanmu. Tidak kah kau berpikir bahwa ini semua belum terlambat untuk diperbaiki?"
"Aku tidak gila! Tapi ucapan ku benar bukan? Kita masih bisa bersama Ris,lihat diriku sekarang. Apa kau tidak merindukan semua tentang kita dulu?"
Iris menggeleng sembari membuang mukanya ke arah lain.
"Sama sekali tidak,dan aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Aku harus pulang,kau pergilah kembali ke tempat dimana dirimu seharusnya berada. Tidak usah muncul ke hadapanku lagi."
"Aku sudah punya kehidupan baru saat ini dan aku harap kau tidak mengacaukannya lagi."
Iris berkata sembari mengambil tas dan kantong belanjaannya lalu beranjak pergi dari sana.
"Grep.."
__ADS_1
Sebuah cengkeraman ringan terasa di pergelangan Iris menbuat gadis itu menoleh dengan ekpsresi tak suka.
"Apa lagi?? Apa uacapanku tadi masih kurang jelas? Apa perlu aku.."
"Boleh aku memelukmu?"
"Kau gila??"
Iris menatap takut pada Ardo yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Ardo,jangan macam-macam!!"
"Hanya satu macam!"
Tanpa peduli dengan larangan Iris,Ardo bergerak cepat merengkuh pinggang wanita itu dan dalam hitungan detik tubuh munggil Iris di tarik ke dalam pelukan Ardo.
Di sela-sela pelukannya,Ardo mengedipkan matanya ke arah sudut ruangan.
"Cekrek.."
Tanpa Iris sadari ada masalah baru yang mungkin akan datang nanti ataupun besok.
"Aku tidak akan melepaskan mu dengan mudah,Iris Maharani Bagaskara. Kau milikku!"
♡♡♡
Maaf ya guys. Up nya selingan gini.
Aku lagi fokus kejar kata novel ku yang satunya lagi...
__ADS_1
Soalnya novel ini babnya dikit,jadi harus mulai cari cadangannya...
Mohon dimengerti ya...