
Iris termenung beberapa saat setelah kepergian Damar.
Dua opsi yang Damar berikan padanya tadi memang cukup membuatnya bingung,di satu sisi ia sangat ingin tinggal di rumah orangtuanya namun di sisi lain ia juga ingin Damar ikut serta dengannya.
Semuanya tentu akan mudah jika Damar setuju untuk ikut dengannya dan tinggal kembali dirumah keluarga Bagaskara,namun sayabgnya Damar tidak mau dan malah memberinya opsi untuk pulang dengan resiko kehilangan Damar atau tetap tinggal dengan resiko kemungkinan dirinya akan diusir lagi.
"Bagaimana ini?" Iris menggigit kuku jarinya dengan gelisah.
Waktu terus berputar dan Iris mau tak mau harus memutuskan sebelum nantinya Damar yang mengambil keputusan yang mungkin saja akan membuatnya menyesal seumur hidup.
"Ah,sudahlah. Masuk saja dulu,aku harus berbicara pada Damar dan membuat sedikit penawaran dengannya."
Iris akhirnya menyusul turun dari mobil setelah puas berperang dengan batinnya sendiri.
♡♡♡
"Tok..,tok..,tok.." Daun pintu yang sudah setengah terbuka itu kembali Iris ketuk sebagai tanda jika dirinya akan masuk ke dalam.
Tanpa menunggu intruksi dari Damar,Iris tetap berjalan masuk hingga akhirnya langkah kaki gadis itu membawanya ke depan pintu kamar Damar yang tampak tertutup namun tidak rapat.
"Damar,boleh aku masuk?" Tanya Iris dengan nada pelan.
Lama tak ada jawaban,hingga saat tangan Iris berniat mendorong daun pintu. Damar tiba-tiba muncul di hadapannya dengan satu alis terangkat.
"Sudah buat keputusan?" Tanya pria itu to the point.
__ADS_1
Iris meneguk ludahnya dengan kasar selama beberapa hanya kehinangan yang sengaja dibiarkan tercipta diantara mereka.
"Huh,Iris. Kau tau kalau aku.."
Iris memejamkan matanya dengan tangan terkepal erat.
"Huh.."
"Baiklah aku bersedia kembali tinggal di sini." Jawab gadis itu sesaat sebelum Damar menyelesaikan kalimatnya.
Damar terdiam. "Maksudmu?"
Iris menarik napas pelan sembari mengendorkan otot wajah dan tangannya yang tadi sempat tegang.
"Aku bersedia untuk tinggal kembali di sini. Tapi bisakah kau janjikan satu hal padaku?" Tanya Iris dengan nada hati-hati terutama di akhir kalimatnya.
Damar tak langsung menjawab,melainkan mengamati terlebih dahulu gerak-gerik Iris. Setelah memastikan kelakuan gadis itu normal tak mencurigakan,Damar pun berucap lagi.
"Baiklah,apa maumu?"
Iris langsung tersenyum untuk pertama kalinya setelah beberapa jam ini ia dilanda ketakutan terutama tadi sepulangnya ia dari rumah sakit.
Segera gadis itu menarik tangan Damar dan menautkan kedua jari kelingking mereka.
"Janji kalau kau tidak akan mengusirku dan memarahi ku sebelum kau mendengarkan penjelasanku."
__ADS_1
Damar mengernyitkan dahinya. Ucapan Iris barusan bukanlah permintaan ataupun pernyataan,melainkan penekanan atas sikap ceroboh Damar kemarin dan kedua tangan mereka saat ini sudah bertaut. Jadi apa artimya Damar tidak punya keputusan untuk menolak?
"Apa aku harus menuruti ucapanmu?" Tanya Damar.
Iris mengangguk.
Damar melepaskan tautan kelingkingnya dari kelingking Iris kemudian menatap Iris penuh intimidasi.
"Bagaimana jika kau benar-benar menghianatiku?"
"Kau boleh memintaku pergi namun tidak dengan mengusirku seperti kemarin. Bisakah?"
Damar terlihat berpikir sejenak menimang ucapan Iris.
Setelah beberapa saat ia pun mengangguk.
"Baiklah aku setuju dengan syaratmu."
Ucapan Damar membuat Iris tersenyum lega.
Namun senyuman lega Iris perlahan berganti jadi kerutan kebingungan saat netranya menangkap tatapan Damar yang masih mengintimidasi,berikut ucapan pria itu cukup membuat Iris kembali gugup.
"Sekarang giliran mu,jelaskan padaku apa saja kejadian yang terjadi setelah kedatangan mantan tunanganmu itu??"
♡♡♡
__ADS_1