Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Wawan Bertemu Rahma


__ADS_3

Saat memasuki ruangan, tatapan Sofia tertuju pada Wawan yang tengah berbaring memejamkan mata. Pengakuan Rahma beberapa jam lalu masih berdengung jelas di dalam benak. Sedikit mengusik rasa yang entah apa maksudnya.


Mungkinkah Wawan ini, pria yang tengah memejamkan mata yang ini yang dikagumi seorang Rahma. Gadis itu cantik, pintar juga lahir dari keluarga berada, lalu apa yang membuat dia kagum pada pria yang Sofia saja tidak merasa tertarik.


Masih jadi pertanyaan di dalam benak Sofia, kenapa bayak orang yang begitu menyayangi Wawan termasuk kedua orang tuanya. Sekecil apa pun Wawan bergerak, selalu diperhatikan oleh Pak Yanto dan Bu Asmirah.


"Mana yang sakit? Mau dipijit?"


"Mau ke mana? Biar bapak yang antar."


"Makan dulu ya, ibu sengaja masak untuk 'aa."


Kalimat-kalimat itu sering didengar Sofia dari kedua orang tuanya sejak Wawan dirawat. Begitu istimewa kah ia di mata mereka? tapi karena apa? Sebab Sofia sendiri tidak melihat keistimewaan itu dari Wawan. Tidak ada yang bisa dibangkankan, jangankan harta, rupa pun tidak.


"Assalamualaikum." Terdengar ucapan salam seiring pintu ruangan yang terbuka, menghentikan pikiran Sofia yang tengah melalanglang buana untuk menemukan keistimewaan Wawan.


"Waalaikum salam," jawaban serempak dari orang yang ada di dalam termasuk Sofia yang refleks ikut menjawab.


Ternyata Mang Dahlan dan Teh Ai yang datang menjenguk. Mereka datang tak hanya membawa doa dan senyuman melainkan membawa serta buah tangan "Buat Kang Wawan biar cepat sembuh. Biar tancap gas lagi," kata Mang Dahlan diiringi candaan dan meletakan keranjang berisi buah-buahan di atas nakas. "Sakit apa, Kang Wan?"


"Katanya tipus, Mang," jawab Pak Yanto yang datang menyusul setelah kedatangan Bu Asmirah bersama Dani. Dani sendiri memilih pulang setelah menjenguk sebentar.


"Tipus? Ya Allah." Teh Ai yang bicara. "Lekas sembuh, Mang Wawan."


"Mau gak terserang tipus gimana atuh da Wawan mah kerjanya gak tau nyari apa. Kerja terus sampai sering melewatkan waktu makan. Jajan enggak, ngerokok juga enggak. Padahal mah santai aja yang penting pekerjaan beres." Mang Dahlan menarik kursi kosong untuk duduk sedangkan istrinya memilih beridiri di sampingnya padahal Pak Yanto sudah memberikan kursi kosong.


"Iya. Kemarin saja saya menemukan bekalnya masih utuh," sambung Teh Ai. Perempuan itu langsung menutup mulut merasa telah salah mengatakan sesuatu.


Otomatis tatapan Pak Yanto dan Bu Asmirah langsung tertuju kepada Sofia. Sorot matanya seolah mengatakan "lihat! ini gara-gara kamu." Sofia mendengus dan memalingkan wajah.

__ADS_1


"Terlalu rajin," ralat Teh Ai. "Sepertinya takut gak bisa membahagiakan istri ya, Mang Wan?" Teh Ai sedikit tertawa.


Pak Yanto membenarkan ucapan Teh Ai sedangkan Wawan yang ditanya hanya mengulas senyum. Dia belum memiliki cukup tenaga untuk menjawab pertanyaan.


"Sepertinya mah bakal ijin agak lama ini, Mang Dahlan," kata Pak Yanto. Dia mewakili menantunya untuk izin.


"Tidak masalah, Pak Yanto. Istirahat aja dulu, pekerjaan mah da gak ada habisnya. Nanti juga masih kebagian. Kalau butuh pinjaman selama gak kerja tinggal bilang ya Kang Wan."


Wawan kembali mengulas senyum.


"Pinjam apa ari 'Aa. Kan Mang Wawan punya simpanan." Teh Ai menyela ucapan suaminya.


Sofia yang mendengar itu langsung melirik Wawan. Simpanan? Bukannya uang di ATM yang dia pegang hanya ada tiga setengah juta. Masa mau pakai uang itu, mana cukup. Belum lagi setoran motor.


"Iya tabungan Wawan udah gede ya. Siap buka konveksi sendiri, Mang Wan? Cepat sembuhlah biar segera terwujud."


"Bapak mau jenguk dulu bu lurah, Bu. Ibu mau ikut?" tanya Pak Yanto.


"Emang Bu Lurah kenapa, Pak?" Bu Asmirah merapihkan kursi yang tadi diduduki Mang Dahlan.


"Kata Rahma darah tingginya kumat." Sofia menjawab lebih dulu. Dia menatap Wawan karena penasaran dengan ekspresi suaminya ketika mendengar nama Rahma. Kalau ada sesuatu diantara mereka pasti air muka Wawan akan berubah. Akan tetapi yang ditunggu Sofia tak kunjungan terlihat. Wawan nampak santai ketika mendengar nama itu.


***


Setelah hampir satu minggu dirawat akhirnya Wawan diijinkan pulang.


"Kuat, 'A?" tanya Pak Yanto ketika Wawan turun dari brankar. "Kalau gak kuat biar bapak gendong."


"Jangan, Pak. Kuat kok," tolak Wawan merasa tidak enak apalagi harus digendong oleh orang yang dia hormati.

__ADS_1


"Pakai ini saja." Sofia muncul membawa kursi roda. Sedangkan Bu Asmirah sudah keluar lebih dulu membawa barang yang digunakan selama menunggui Wawan.


"Terima kasih, Neng," ucap Wawan dengan tersenyum. Perhatian seperti ini saja sudah sangat membuat dia bahagia. Berbeda dengan Sofia yang menanggapinya acuh. Ia biarkan kursi roda itu didorong oleh bapaknya.


Di halaman klinik mobil Pak RW berserta Pak RW sendiri yang menjadi sopir telah menunggu. Barang yang tadi dibawa bu Asmirah sudah dimasukkan ke dalam bagasi. Seperti biasa karena belum memiliki mobil sendiri maka mobil Pak RW yang jadi pinjaman utama. Pak RW sendiri tidak mempermasalahkan itu. Tidak dibayar pun tidak masalah yang penting bahan bakarnya saja diisi.


"Sehat, Kang Wawan?" tanya Pak RW.


"Alhamdulillah, Pak, sudah lebih baik." Wawan selalu menjawab diiringi senyum. Mungkin sikap ramah itu yang membuat dirinya disayangi dan dihormati orang lain.


"Siap gas lagi dong biar Pak Yanto dan Bu Asmirah segera menimang cucu," canda Pak RW membuat mereka tergelak.


Mereka pun memasuki mobil setelah membantu Wawan masuk lebih dulu dan memastikan kenyamanannya. Pak Yanto duduk di samping kemudi. Bu Asmirah, Wawan dan Sofia duduk di kabin tengah.


"Sofia!" panggilan tersebut mengurungkan tangan Sofia yang hendak menutup pintu. Dari pintu klinik Rahma tampak berlari menghampiri. "Sudah mau pul-ang ...?" Kalimat itu tidak selesai saat tatapan Rahma bertemu dengan Wawan yang duduk di antara Sofia dan Bu Asmirah.


Sofia menoleh pada Wawan, ini merupakan kesempatan untuk mengetahui perasaan pria itu.


"Iya, ini sudah mau pulang. Kamu masih di sini?"


"Gimana keadaan ibu, Neng Rahma?" tanya Bu Asmirah melongokkan kepala.


"Iya, Alhamdulillah ibu sudah mendingan, Bu. Besok kayaknya sudah bisa pulang," jawab Rahma dengan senyum yang kaku. Wajahnya sangat kentara menyimpan rasa penasaran apalagi melihat Wawan bersama dengan keluarga Sofia. Akan tetapi melontarkan banyak pertanyaan sekarang bukanlah waktu yang tepat. "Sofia boleh aku main ke rumah kamu?"


"Boleh atuh, Neng. Masa gak boleh." Kali ini yang menjawab adalah Pak Yanto dari kabin depan. Sofia pun mengangguk penyetujui ucapan bapaknya namun setelah mobil melaju dia menyesali telah menyetujui permintaan Rahma.


Mobil pun melaju meninggalkan Rahma yang menyimpan sejuta tanya. Begitu juga dengan Sofia. Dia kembali menoleh pada Wawan yang memejamkan mata.


"Apa benar mereka memiliki hubungan?" tanya Sofia dalam hati. Entah kenapa dia mulai merasakan resah saat mengetahui Rahma-sahabatnya mengagumi pria bernama Wawan. Padahal nama Wawan kan bukan hanya satu di desa itu.

__ADS_1


__ADS_2