
Pukul 23:25
Malam sudah begitu larut,namun di sebuah kamar yang ada di rumah sakit sesosok pria yang tak lain adalah Damar tampak masih enggan mengistirahatkan tubuhnya.
Kedua bola matanya terus saja terfokus pada sesosok gadis cantik berwajah pucat yang tampaknya masih betah terpejam kendati tadi dokter sudah memeriksa dan mengatakan jika kondisinya tidak terlalu buruk.
"Hoammm..." Damar mengerjab-ngerjab pelan saat merasakan kantuk yang mulai menyerang indera penglihatannya.
Di liriknya jam di pergelangan tangannya,sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Damar kemudian mengalihkan lagi pandangannya ke arah Iris. Gadis itu terlihat masih anteng dengan ketidaksadarannya yang membuat Damar lagi-lagi harus menarik napas dengan berat.
"Huh,sayang. Kapan kau akan sadar?" Damar mulai bertanya dengan nada lirih,satu tangannya ia gunakan untuk mengelus puncak kepala Iris dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk menggenggam jemari Iris.
"Sadarlah,aku berjanji setelah kau sadar. Aku akan mendengarkan penjelasanmu,bahkan akan langsung memaafkanmu walaupun kau tidak memintanya lagi."
Damar kembali berbisik di samping Iris,namun hasilnya tetap sama. Gadis yang masih tidak sadarkan diri itu tidak mungkin memberi respon apapun.
"Sayang..,apa kau sengaja tidur berlama-lama karena menghindariku?" Damar mulai melantur dengan menanyakan pertanyaan yang sudah jelas-jelas tidak akan terjawab.
"Hei,sadarlah. Aku mohon.." Damar mulai berulah dengan mempermainkan kelopak mata Iris,kata kelopak mata gadis itu ia buka sedikit,kadang pula ia usap. Sungguh tingkah Damar malam itu sudah seperti orang gila.
"Bangun Iris,kalau kau tidak bangun jangan salahkan aku jika aku membuatmu..." Damar tidak melanjutkan ucapannya dengan lancang melainkan berbisik ke telinga Iris.
Entah apa yang ia bisikkan yang jelas setelah berbisik,laki-laki itu terlihat tersenyum riang bahkan kini Damar juga tampak mulai memposisikan dirinya ke atas brankar Iris yang memang berukuran cukup besar.
"Aku beri kau waktu untuk menjawab pernyataanku tadi sampai besok pagi. Jika besok pun kau belum sadar,maka aku akan benar-benar mewujudkan ancaman yang tadi. Entah kau siap atau tidak siap. Aku tidak peduli!" Pria itu terdengar mengancam Iris sembari memeluki tubuh hadis itu erat-erat.
Hingga dua puluh menit berlalu,setelah semua tingkah gilanya. Damar akhirnya tertidur di aras brankar yang sama,di dalam selimut yang sama dan dengan posisi tubuh dan tangan memeluk Iris.
Memang tidak ada yang istimewa,namun perlu di sadari. Jika malam itu,adalah malam pertama bagi Damar,memeluk Iris tanpa paksaan ataupun ancaman dari Iris dan siapapun. Malam itu,ia murni memeluk Iris atas dasar keinginannya sendiri.
♡♡♡
"Eughh.." Lenguhan dari bibir Iris membuat Damar yang rasanya baru saja terlelap langsung tersadar.
Damaf refleks membangunkan sedikit kepalanya yang tadi berada di antara ceruk leher Iris dan kini beralih mengamati wajah Iris.
__ADS_1
Terlihat bulu mata gadis itu bergetar dan itu berhasil membuat senyum di bibir Damar mengembang.
Segera ia turun dari kasur dan betapa kagetnya Damar saat menyadari jika waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi.
Panta saja,ia sudah terlelap beberapa jam dan wajar jika Iris sudah sadar.
Damar pun memencet tombol yang ada di samping brankar dan beberapa menit setelahnya beberapa dua orang petugas medis datang.
Setelah Damar menjelaskan sedikit tentang keadaan Iris pagi ini,doker tadi mulai memeriksa Iris.
"Bagaimana dok?" Tanya Damar sesaat setelah dokter tadi menurunkan stetoskopnya.
Dokter wanita tadi terlihat tersenyum ramah.
"Begini pak Damar,kondisi nona Iris saat ini sudah semakin membaik. Suhu tubuhnya sudah kembali normal,denyut jantungnya juga sudah kembali normal,bahkan ruam-ruam bekas alerginya pun sudah semakin berkurang dan saya yakin,tidak lama lagi nona Iris pasti akan sadar."
"Benarkah?" Damar menatap dokter di hadapannya ini dengan tak pecaya.
Pasalnya semalam Damar juga menananyakan hal yang sama dan dokter tersebut juga mengatakan kalau Iris sudah membaik namun faktanya. Iris belum juga sadar hingga kini.
"Eugh.." Sekali lagi Iris melenguh dan kali ini kelopak mata gadis itu benar-benar terbuka meski harus mengerjab-ngerjab dengan kening berkerut. Menyesuaikan kondisi cahaya yang ada di dalam kamar itu.
"Saya tinggal dulu ya pak Damar." Dokter bername tag Isabela itu lansung berlalu setelah mengucapkan kalimat yang sedikit menyindir ketidakyakinan Damar terhadapnya tadi.
Damar acuh terhadap sindiran dari dokter wanita tadi,fokusnya saat ini adalah pada sosok Iris yang terlihat melamun setelah sadar dari pingsannya itu.
"Sayang,syukurlah. Kau akhirnya sadar,bagaimana keadaanmu? Apa masih pusing atau bagian mana yang sakit? Beritahu aku.."
Damar berkata sambil berjalan mendekati Iris dan hendak mengelus kepala gadis itu.
Namun belum sempat tangan Damar menyentuh pucuk kepala Iris,gadis itu sudah lebih dulu menghindar dengan cara menggeser kepalanya.
Damar menatap Iris heran. "Sayang,kenapa?" Tanya Damar sedikit khawatir.
Mungkinkah kemarin Iris terbentur atau bagaimana,jadi kepalanya sakit dan ia tidak mau Damat menyentuh bagian yang sakit itu.
__ADS_1
"Mau aku bantu duduk?" Damar kini beralih memegangi kedua lengan Iris dengan lembut dan membantunya duduk.
Kali ini tak ada penolakan dari Iris,namun walaupun begitu gadis itu tetap tak mengeluarkan suara apapun.
Damar yang masih senang karena Iris sudah sadar dari pingsannya,tak mempermasalahkan diamnnya Iris.
Ia menganggap Iris masih lemes,sehingga mungkin belum ada tenaga untuk sekedar berbicara padanya.
"Mau minum atau makan sesuatu?" Tanya Damar lagi setelah beberapa saat.
Gadis yang sudah dalam posisi bersandar setengah duduk itu menggeleng,pandangannya masih terlihat datar dan lurus ke depan tanpa menoleh walaupun Damar mengajaknya berbicara.
Tak lama setelahnya,satu orang perawat datang sembari mendorong meja berisi makanan dan minuman serta obat-obatan yang harus Iris konsumsi saat itu.
"Makan dulu,lalu minum obat ya?" Pinta Damar pada Iris.
Gadis itu terlihat mengangguk walaupun dengan pandangan yang masih lurus ke depan.
Damar mendengus,sedikit kesal.
"Madep sini nona Iris Maharani Bagaskara,bagaimana caranya aku menyuapimu jika kamu tidak mau menghadap ke sini?" Damar bertanya dengan nada jengkel.
"MADEP SINI!!" Suruhnya lagi dengan penuh penekanan.
Iris akhirnya menoleh setelah Damar memutar paksa kepalanya agar mau menghadal ke arah dirinya.
Namun lagi-lagi hal menjengkelkan terjadi. Iris memang menghadapkan kepalanya ke arah Damar. Namun posisinya menunduk sehingga Damar tetap tidak bisa bertatapan dengan gadis itu dan hal itu benar-benar membuat Damar jengkel.
"Nona Iris,ada apa denganmu? Hadap ke sini atau aku akan memarahimu!!"
"Hiks.."
Damar membelalakan matanya kaget.
"Sayang,kenapa kau menangis?????"
__ADS_1
♡♡♡
Kenapa Iris nangis? Ada yang ngiris bawang merah di dekat dia kah?