Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Kenapa Wawan?


__ADS_3

Di tengah gelap malam yang diiringi guntur dan hujan deras, tubuh kurus itu memacu kendaraan menyusuri jalan. Berharap menemukan ia yang dicinta dan belum terlalu jauh. Tubuh lapar yang belum diisi makanan sejak siang ia abaikan. Rasa tanggung jawab pada mertua dan juga Tuhan lebih besar dari pada rasa lapar itu.


Setiap menemukan perempatan ia berhenti sejenak. Menyusuri satu persatu perempatan tersebut.


Rasa sabar dan pengorbanan itu membuahkan hasil. Ia yang dicari berada di depan sana tengah berjalan ketakutan. Tas yang dibawa ia peluk erat. Sesekali menengok ke belakang takut akan pria berambut gondrong yang tengah mengikutinya.


Ada rasa sesal dalam dada. Ada pertanyaan yang bergelut dengan akal. Kenapa harus perempuan yang berjuang, kenapa saat itu dia tidak menerima ajakannya. Apa cinta memang seperti itu, perempuan yang harus berjuang. Kalimat-kalimat seperti itu terus berputar dalam otak Sofia yang menyebabkan langkahnya kian memelan. Saat menoleh ke belakang pria gondrong yang mengikutinya semakin dekat.


"Mau kemana, ikut neduh dulu di sini sama abang." Pria gondrong itu sedikit berteriak.


Sofia yakin pria itu bukan pria baik-baik, maka dari itu ia ambil langkah seribu untuk melarikan diri. Jalanan yang licin karena diguyur hujan membuat kaki terpeleset beberapa kali. Saat tubuh tak lagi seimbang, dia benar-benar terpeleset.


"Kan sudah bilang jangan lari," kata si pria gondrong itu menyeringai. Ia sengaja memelankan langkah untuk membuat Sofia semakin takut. Apalagi wajangnya memang tampak sangar.


"Ayo naik!" Wawan yang sejak tadi memperhatikan dari jarak jauh langsung melajukan motornya dan berhenti tepat di samping Sofia. "Cepat naik!" Wawan sedikit membentak karena Sofia malah menatapnya. Ini bukan adegan sinetron yang harus saling tatap-tatapan dulu untuk menciptakan adegan romantis. Wawan yakin tubuhnya yang kurus dan belum terisi tidak akan mampu melawan pria gondrong berbadan besar.


Setelah Sofia naik, Wawan langsung memutar balik ke arah pulang. Tidak ada percakapan, hanya deru angin yang menerpa wajah menemani mereka. Sofia sibuk dengan pikirannya sedangkan Wawan sibuk menahan lapar juga pusing akibat hujan.


Sampai di rumah, mereka melihat seseorang tengah mengetuk rumah mereka. Saat mendengar deru motor, orang tersebut berbalik badan. "Kalian dari mana?" ternyata itu Dani-kakaknya Sofia.


"Ngambil paket, a," dusta Wawan. Bukannya seorang suami adalah pakaian bagi istrinya begitu pun sebaliknya. Tidak mungkin ia katakan kalau istrinya berusaha kabur untuk menemui mantan kekasihnya. Itu sama saja dengan menelanjangi diri sendiri. Apa kata mereka jika sampai kabar ini tersebar.


"Hujan-hujan begini?" Dani mengerutkan kening. Nampak sekali dia ragu dengan jawaban adik iparnya. Ia tatap Sofia yang tidak berani membalas tatapannya.

__ADS_1


"Iya, soalnya tukang paketnya kemaleman. Katanya gak bisa nganter paket sampai ke sini." Satu kebohongan telah menutupi kebohongan lain. Setelah ini pasti akan banyak kebohongan-kebohongan lainnya.


"Kan bisa besok."


"Udahlah A' gak perlu banyak tanya. Awas dingin." Sofia turun dari motor, meminta sang kakak agar tidak menghalangi jalan. "Mana kuncinya?" lanjutnya dengan nada ketus meminta kunci pada Wawan yang masih memarkirkan motor di teras.


"Kalau bicara sama suami itu pakai sopan santun sedikit, Fia. Wawan itu suamimu." Dani menatap tidak suka akan tingkah adiknya.


"Banyak omong," balas Sofia melengos masuk. Dia langsung membawa tubuhnya ke kamar mandi. Sedangkan Wawan masih harus menghadapi kakak iparnya yang masih menatap curiga.


"Masuk dulu, A?" tawar Wawan.


Melihat tubuh yang menggigil Dani memutuskan menolak. Bukan waktu yang tepat jika ia mendebat sepasang suami istri yang terlihat aneh di matanya. "Besok saja, tadi Aa mampir cuma mau memastikan kalian aja. Aa pulang ya." Dani menghampiri motornya kemudian pergi setelah melihat Wawan mengangguk.


"Gak masak?" tanya Sofia yang sudah berganti pakaian. Ia mulai merasakan lapar namun ketika ke dapur hanya menemukan bahan makanan yang masih mentah.


Wawan yang ditanya tidak menjawab. Ia benar-benar merasakan tubuhnya mulai tidak enak. Jangankan untuk memasak, untuk membuka mata dan menjawab pertanyaan dari sang istri saja sungguh tidak sanggup.


Karena Wawan tak kunjung menjawab akhirnya Sofia memasak makanan untuk sendiri. Merebus mie instan bersama telur. Dia makan sendiri dan tidak menawari suaminya.


***


Sinar matahari mengubah sejuknya pagi akibat hujan kemarin malam menjadi hangat. Namun Wawan masih dengan keadaan seperti semalam saat Sofia keluar dari kamar. Padahal bisanya pria itu bangun lebih awal, mencuci pakaian dirinya dan sang istri lalu menyiapakan makanan. Akan tetapi pagi ini tidak ada Wawan yang seperti itu yang ada hanya Wawan yang masih memejamkan mata di bawah selimut.

__ADS_1


"Wan! Wan?" Terdengar suara pria memanggil Wawan dari luar rumah. Akan tetapi yang dipanggil masih memejamkan mata dengan rapat.


Sofia yang baru saja dari kamar mandi menoleh pada suaminya.


"A, ada yang manggil," ujar Sofia berdiri di samping tubuh Wawan yang masih setia dengan mata terpejam. "A! A Wawan! Ih dasar kebo," gerutu Sofia beranjak meninggalkan sang suami yang tak kunjung bangun. Dia buka pintu yang sejak tadi diketuk oleh seseorang yang ada di luar.


"Eh," tangan yang tadi mengetuk pintu itu menggantung saat pintu dibuka tanpa aba-aba. "Wawan ada?" tanya seorang pria hampir seumuran dengan Dani-kakaknya.


"Ada, tapi masih tidur. Siapa ya?"


"Mang Aweng, teman kerjanya Wawan." Pria bernama Aweng itu menyodorkan tangan yang langsung dibalas oleh Sofia tapi tak menyebutkan siapa dirinya dan statusnya. "Wawan mau kerja gak?" lanjut Mang Aweng.


"Gak tau, dibangunkan juga gak bangun-bangun."


"Maksudnya?" Mang Aweng menatap bingung. Tidak bangun-bangun di sini artinya apa.


"Cek aja, orang dibangunkan dari tadi juga gak bangun-bangun."


Pikiran buruk langsung merasuk ke dalam benak Mang Aweng. Dia langsung menerobos masuk untuk memastikan keadaan Wawan. "Wan ... Wan?" Mang Aweng menguncang tubuh yang tak kunjung membuka mata. "Wan?" sekali lagi ia mencoba namun tak berhasil.


"Telepon Pak RW sekarang!" titah mang Aweng yang mulai panik begitu juga Sofia. Dia ikut-ikutan panik karena tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya sehingga Mang Aweng menyuruhnya untuk menghubungi Pak RW.


"

__ADS_1


__ADS_2