Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Ingin Pulang


__ADS_3

"Sayang,kenapa kau menangis??" Tanya Damar dengan herannya. Ia berusaha menenangkan dan menarik dagu gadis itu agar mau menatapnya,namun bukannya tenang Iris malah makin terisak dan hal itu membuat Damar tambah heran.


"Hei! Tenanglah! Jelaskan pelan-pelan,apa ada yang menyakitimu atau apa ada ucapanku yang menyakitimu?"


Iris masih bungkam dengan tangis yang masih terus berlanjut.


Damar yang memang merasa lelah karena hampir semalaman tidak tidur pun dibuat kesal dengan tingkah laku Iris pagi ini.


"Nona Iris dengar! Aku bukan peramal ataupun cenayang yang bisa mengerti tanpa mendengarkan penjelasan! Tangisanmu itu bukan bahasa dan aku tidak akan pernah mengerti di mana letak masalah yang membuatmu menangis jika kau tidak menjelaskan! Tolong kerjasamanya nona Iris? Jangan seperti ini!"


Damar berbicara dengan nada membentak tanpa ia sadari.


"Pak Damar,bu Iris. Ada apa??"


Dokter Isabela yang baru saja masuk langsung bertanya heran saat mendengat keributan kecil yang menyambut kedatangannya.


Damar menoleh sembari meletakkan mangkuk yang ia bawa ke atas meja dorong tadi dengan sedikit kasar.


"Saya tidak tau apa yang terjadi dengan istri saya dok! Waktu saya menawarinya makan,dia mengangguk. Tapi ketika saya meminta dia untuk menghadap ke arah saya."


"Dia menggeleng,saya paksa dia menghadap ke arah saya,dia mau tapi menunduk. Saya hanya meminta dia agar mendongak,karena saya kesulitan menyuapinya jika dalam posisi menunduk."


"Namun anehnya tidak tau salah saya dimana,dia tiba-tiba menangis. Apa dokter bisa memeriksa istri saya lagi? Saya takut dia mengalami trauma atau sejenisnya mungkin."


Damar berkata sambil melirik ke arah sang istri yang tampak masih menunduk,namun untungnya kali ini ia sudah tidak menangis lagi.


Sementara itu,dokter Isabela yang mendengar penjelasan Damar tentang kondisi Iris,kini mulai mendekati gadis itu dan menyentuh bahunya pelan.


Iris terlihat tersentak saat dokter Isabela menyentuh bahunya,kelihatan sekali jika sedari tadi gadis itu melamun. Bahkan mungkin,pembicaraan Damar dan dokter Isabela tadi tidak ia gubris.


"Nona Iris,apa ada gejala lain yang anda rasakan saat ini?" Tanya dokter Isabela pada Iris sembari mengusap-usap bahu gadis muda itu dengan pelan.


Iris terlihat menggeleng-geleng.


"Saya mau pulang." Ujarnya datar, setelah beberapa saat.


Dokter Isabela menghentikan usapannya di bahu Iris dan menatap ke arah gadis itu dengan heran.

__ADS_1


"Nona Iris yakin? Tidak ada yang sakit lagi?"


"Tidak. Saya hanya mau pulang!" Kali ini Iris berbicara dengan nada yang lebih tegas.


Perubahan emosi Iris yang tidak stabil membuat dokter Isabela menerka jika ada sedikit trauma yang mengangganggu mental gadis itu. Entah apa penyebabnya,mungkin Damar tau.


"Nanti biar aku tanyakan secara pribadi pada pak Damar." Batin dokter Isabela.


"Em,nona Iris. Perihal permintaan nona tadi,sepertinya sudah bisa diizinkan. Berhubung keadaan nona sudah semakin membaik,saya mengizinkan nona untuk pulang. Hanya saja nona harus menunggu sebentar,karena ada satu dua hal yang ingin saya bahas bersama suami nona."


"Nona tidak keberatan kan? Jika harus menunggu sebentar?"


Iris kini mengalihkan pandangannya ke arah dokter Isabela,tatapan menajam namun sesaat kemudian berubah seperti orang ketakutan.


"S..saya pulang s..sendiri saja. A..apa bisa?" Tanyanya dengan nada gugup.


Dokter Isabela menghela napas pelan. Ia makin yakin jika ada guncangan mental yang menganggu emosi gadis itu..


"Nona Iris,sebaiknya ikuti saran saya. Saya janji tidak akan menyita waktu lama,saya hanya perlu berbincang sedikit dengan suami nona. Lalu setelahnya meresepkan obat dan vitamin untuk nona. Selesai."


"Setelah semuanya selesai,nona boleh pulang. Lagipula saat ini kondisi nona masih sedikit lemah,tidak baik pulang sendiri. Takut ada apa-apa di jalan ya? Nona Iris mengerti kan maksud saya?" Dokter Isabela bertanya dengan nada selembut mungkin.


"Sayang,dengarkan kata dokter Isabela. Kau tunggu di sini sebentar,lagipula di sini ada aku. Kenapa kau malah seperti orang yang ketakutan?" Tanya Damar dengan nada sedikit bingung.


"A..aku..,aku.."


Dokter Isabela segera menenangkan gadis yang tampak ketakutan itu dengan cara membantunya berbaring.


"Tenang ya nona Iris,tidak perlu takut begitu. Ada perawat yang menemani nona Iris di sini. Tenang ya."


Dokter Isabela sedikit menekan pundak Iris agar mau berbaring,mau tak mau gadis itu pun  menurutinya.


Setelah memastikan Iris tenang,dokter Isabela pun mengamit Damar agar mengikutinya ke luar ruangan.


♡♡♡


"Ada apa ya dok?" Tanya Damar saat keduanya sudah berada di ruangan dokter Isabela.

__ADS_1


Dokter wanita tersebut menatap Damar dengan menyelidik sebelum akhirnya kembali angkat suara.


"Begini pak Damar,saya mengamati ada yang aneh dengan tingkah nona Iris. Seperti mengalami trauma,namun untuk penyebabnya saya belum tau pasti. Karena itu saya mengajak pak Damar ke sini."


"Apa pak Damar tau,apa penyebab nona Iris bisa seperti itu? Em,maksud saya apa ada hal yang terjadi sebelumnya yang sekiranya mungkin menjadi pemicu traumanya nona Iris? Apa pak Damar tau?"


Damar terdiam sebentar.


"Penyebab ya?" Batin Damar bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa mugkin karena aku mengusirnya kemarin? Atau karena kejadian pagi kemarin,yang di ceritakan warga semalam? Tapi untuk kejadian itu,aku sendiri tidak tau pasti bagaimana kronologisnya."


"Pak Damad,bagaimana?" Dokter Isabela mengulangi pertanyaannya,karena Damar malah melamun dan tidak menjawab.


Damar terkesiap dari lamunannya,kemudian mengusap wajahnya sebentar.


"Huh,begini dokter Isabela. Sebelum istri saya saya bawa ke sini,kami memang sempat mengalami sedikit keributan,namun yang belum bisa saya pastikan,apakah memanh keributan antara saya dan istri saya yang menjadi pemicu atau ada hal lain."


"Hal lain? Maksud bapak?"


Damar mengusap wajahnya lagi kali ini dengan gerakan frustasi.


"Huh,yang ini saya sendiri belum tau pasti bu. Saya hanya mendengar informasi dari beberapa tetangga saya,mereka bilang. Pagi kemarin ada orang yang mendatangi rumah kami dan orang itu ingin memperkosa istri saya. Untuk kronologis kejadiannya,saya belum tau pasti."


Damar menjelaskan dengan gamang,tentang informasi yang baru ia dapatkan sebagian itu.


Dokter Isabela mengangguk paham. "Baiklah pak Damar,sampau di sini saya sedikit mengerti. Berarti memang ada pemicu yang membuat kondisi nona Iris seperti ini."


"Lantas saya harus bagaimana dok?" Tanya Damar cepat.


Dokter Iris tersenyum menenangkan. " Beruntung traumanya tidak parah pak. Nona Iris masiy bisa mengingat dirinya sendiri,orangtuanya,bahkan bapak. Dia juga tidak histeris setelah tadi sadar dari pingsannya,itu artinya kondisinya masih baik."


"Hanya perlu sedikit waktu untuk membuat beliau merasa tenang lagi,karena dari yang saya liat. Nona Iris ini sedikit takut,terutama saat menatap pak Damar. Mungkin kemarin ada beberapa hal yang terjadi diantara kalian yang membekas di ingatan nona Iris."


"Saya sarankan,setelah pulang nanti. Coba pak Damar tanyakan baik-baik,dan berkomunikasilah dengan bahasa yang lebih lembut dan halus pada nona Iris. Agar,nona Iris tidak merasa terintimidasi lagi. Pak Damar bisa kan?" Tanya Dokter Isabela mengakhiri penjelasannya.


Damar mengangguk. "Akan saya usahakan dokter."

__ADS_1


Setelah dirasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi,dokter Isabela pun memberikan resep obat untuk nanti Damar ambil di bagian apoteker.


♡♡♡


__ADS_2