Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Istriku


__ADS_3

Iris turun dari taxi dengan langkah tergesa-gesa,jantungnya masih berdegup kencang,napasnya terlihat naik turun tak beraturan bahkan kedua mata dan wajahnya masih terlihat memerah. Dari rautnya,terlihat jelas jika gadis itu tengah meredam emosinya.


"Pria kurang ajar! Berani-beraninya dia mengancam dengan mengatakan aku ini miliknya dan tidak akan melepaskan aku dengan mudah. Dia pikir,siapa dia!"


"Apa dia pikir aku sudi tetap bersamanya? Cih,sama sekali tidak!"


Iris mengomel sendiri di depan pekarangan rumahnya dengan raut wajah yang benar-benar jengkel.


Tin...


Tin...


Tin...


Suara klakson mobil dari arah belakang membuar Iris terjingkat kaget.


"Astaga..!" Pekik Iris sembari melompat ke samping.


Di lihatnya mobil miliknya yang tadi pagi ia pinjamkan pada Damar berjalan memasuki pekarang rumah. Kedua alis Iris mengernyit heran.


"Tumben,ini kan masih siang. Kenapa Damar sudah pulang?" Batin Iris bertanya pada dirinya sendiri.


Damar memarkirkan mobilnya tepat di depan teras rumahnya dan Iris dan tak lama setelahnya pria itu terlihat turun dari mobilnya. Dengan langkah cepat pula Iris berlari menuju ke tempat Damar berada dan mensejajarkan posisi mereka.


"Kau sudah pulang? Sesiang ini?"


Tanya Iris to the point pada sosok suaminya ini.


Damar melepaskan jas yang ia kenakan kemudian menyampirkannya ke pundak Iris. Ia mengelus pelan kepala Iris seraya tersenyum membuat Iris malu sendiri.


"Aku belum pulang bekerja nona,tapi hanya izin kembali ke rumah sebentar. Tadi pun aku menyelesaikan pekerjaan lebih cepat agar lebih cepat istirahat dan bisa mengajak seseorang makan siang bersama." Damar berkata dengan nada lembut dan sok misterius.


Iris mencibir dengan mencebikkan bibirnya. "Cih,memangnya siapa seseorang yang ingin kau ajak makan siang itu?"


Damar menatap Iris dalam kemudian mengusap puncak kepalanya lagi. "Tentu saja dengan istriku." Ucapnya lugas tanpa canggung sedikitpun.


Iris kembali salah tingkah dengan ucapan Damar barusan. Dengan cepat ia menurunkan kantong belanjaannya dan memukul pundak Damar dengan asal.

__ADS_1


"Kau ini! Sejak kapan jadi pintar menggombal ha? Siapa yang mengajari mu?" Iris bertanya dengan nada pura-pura curiga.


Damar menghela napas pendek mendengar jawaban Iris yang menurutknya agak menjengkelkan itu.


"Aku tidak menggombal nona. Aku memang pulang untuk makan siang dengan istriku dan istriku itu nona Iris,memang mau bagaimana lagi penyebutannya?" Tanya Damar dengan nada agak kesal.


Iris menyengir kaku dengan pernyataan Damar barusan.


"Hehe,maafkan aku ya. Habisnya kau kan biasanya kaku. Jarang-jarang begini,aku kan jadi merasa aneh."


"Huh,terserah nona saja. Tapi lain kali aku harap nona akan terbiasa karena jika seperti yang saya dan nona pernah sepakati kita akan menjadi suami istri seutuhnya cepat atau lambat. Itu pun jika nona tidak ada keinginan untuk pergi."


Lagi-lagi Iris memukuli pundak Damar.


"Ish,kau ini bicara apa? Aku tidak akan kemana-mana. Sudah aku bilang aku hanya mau denganmu. Memang kemana lagi aku pergi jika kau saja sudah ku anggap rumah."


Damar tersenyum hangat mendengar pengakuan Iris barusan.


"Terima kasih untuk ungkapan hatimu barusan nona,saya berharap nona tidak akan perah menyesal menjadikan saya rumah dan semoga saja saya juga tidak mengecewakan nona."


"Kita pegang janji kita,oke.." Iris berkata seperti ABG yang baru jatuh cinta sembari menaikkan satu jari kelingkingnya ke hadapan Damar.


Damar tersenyum kemudian menyambut jari kelingking Iris dengan jari kelingking miliknya.


"Saya berjanji nona."


"Jadi kapan kita makan siangnya?" Iris mengalihkan pembicaraan sembari menurunkan tangannya dari hadapan Damar begitu pun dengan Damar yang melakukan hal sama pula.


"Kita akan makan siang sekarang nona,tidak mungkin di tunda lagi. Waktuku istirahatku bisa habis." Ujar Damar.


Iris mengangguk kemudian melangkahkan kakinya dan bersiap masuk ke dalam rumah namun belum sampai tiga langkah ia kembali berhenti kemudian menoleh ke arah Damar dengan raut panik.


"Damar,aku belum memasak untuk makan siang. Kau lihat.." Iris menunjuk kantong belanjaannya.


"Aku bahkan baru pulang dari supermarket. Bagaimana ini??"


Damar menggeleng sembari tertawa kecil.

__ADS_1


"Hah nona,kau ini. Tenang saja,aku bawakan makan siang yang aku beli tadi. Kita makan makanan yang aku bawa saja."


Iris kembali memasang wajah leganya.


"Huh,syukurlah." Ujarnya sembari melanjutkan langkahnya menuju rumah."


♡♡♡


"Saya berangkat kerja lagi ya. Nona hati-hatilah di rumah dan jika ada apa-apa hubungi saya."


Iris mengangguk paham sembari memasang senyum manisnya.


Saat ini ia tengah mengantarkan Damar ke depan pintu karena pria itu akan kembali berangkat bekerja.


Iris mengangkat tangannya kemudian mengulurkannya ke hadapan Damar membuat pria itu menatap Iris dengan heran.


"Ada apa nona?" Tanya Damar bingung.


"Sungkem dulu,biar aku gak jadi istri durhaka." Ujar Iris setengah bergurau.


Damar mengembangkan senyum dibuatnya.


Dengan senang hati Damar menjulurkan tangannya dan langsung di sambut senang oleh Iris.


"Aku masakkan makan malam spesial nanti ya,jangan sampai kau makan siang di luar."


"Siap istriku."


Damar berkata dengan diiringi ciuman mesra di kening Iris.


Iris terdiam mematung dengan tindakan Damar barusan.


"Astaga,jantungku..."


♡♡♡


Mesra-mesraan nanti nangis!! Huuuuuu

__ADS_1


😂😂😂


__ADS_2