Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Tingkah Sofia


__ADS_3

Sebelum menjawab pertanyaan Sofia, Wawan menatap menerawang jauh, lalu menoleh dan menatap sang istri. Mengunci tatapannya.


"Darahku selalu berdesir, dadaku selalu berdebar saat melihat kamu. Bayangan kamu tersenyum selalu hadir di saat aku memejamkan mata, membayangi setiap gerak langkahku seperti bayangan yang tidak pernah jauh dari tubuh. Kamu menjadi obat dalam lelahku. Sofia ... nama indah itu yang selalu kupinta dalam sujud."


"Aku tanya apa jawabnya apa. Dasar pembual." Sofia melemparkan bantal yang langsung ditangkap oleh Wawan. Meskipun mengatakan demikian, desiran dalam dada kala mendengar kalimat manis dari sang  suami tak bisa disembunyikan. Pipinya merona. "Terus gimana dengan perjanjian kita?"


"Kalau dalam satu tahun aku berhasil membuat kamu jatuh cinta, maka kita tidak akan bercerai."


"Itu artinya kalau gagal kamu akan melepaskan aku?"


Wawan menghela nafas, pasrah jika akhirnya apa yang dia usahakan tidak berhasil. "Apa perjanjian ini perlu diperkuat dengan hitam di atas putih serta materai?" tanya Wawan.


"Tidak perlu, aku yakin aku tidak akan melanggar perjanjian ini," jawab Sofia yakin setelah menimang lebih dulu sebelum menjawab.


"Benarkah?" Wawan kembali bertanya dengan senyum penuh arti.


"Ya, kita lihat saja."


"Berarti malam ini aku boleh meminta hakku?"


Lagi-lagi keputusan yang Sofia buat menjadi bumerang untuk diri sendiri. Wawan menyetujui usul darinya itu artinya dia pun harus menjalankan  tugasnya sesuai kewajiban sebagaimana mestinya seorang istri. Termasuk menyerahkan diri sepenuhnya pada suami. Lalu bagaimana kalau ternyata Wawan yang berhasil? Jelas dirinya tidak akan bisa melarikan diri dari seorang Wawan.


"Gimana?" Wawan kembali bertanya, kali ini dia bersedekap dan menelengkan kepala. sialnya itu justru membuat Wawan terlihat semakin tampan di mata Sofia.


"Jangan malam ini aku belum siap," jawab Sofia gugup. Dia memalingkan wajah ke jendela secepat angin menyentuh gordyn hingga menimbulkan gerak melabai.

__ADS_1


"Baiklah berarti besok?" goda Wawan dengan mengedipkan mata. Bahkan dia mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Saking dekatnya mereka dapat merasakan hembusan nafas lawan di hadapannya. Mereka-ulang adegan yang gagal gara-gara Hanifa kemarin.


Sofia sudah memejamkan mata, mencoba pasrah jika akhirnya Wawan memaksa. Bukan kecupan yang ia dapat melainkan usapan lembut tangan Wawan di pipi. Pria itu tidak memaksakan keinginannya, mengendalikan naluri kelelakiannya bukan hal yang sulit karena dia sudah terbiasa puasa.


Belum banyak perubahan yang terjadi setelah membuat perjanjian yang tidak memiliki kekuatan hukum itu. namun Sofia mulai menepati janjinya, salah satunya menyiapkan makanan untuk Wawan. Dengan belajar dari youtube, Sofia tidak lagi memberi makan Wawan hanya dengan telor dadar. Tumis kangkung dan oseng tempe disajikan untuk makan malam.


"jangan protes kalau makanannya tidak enak. Apresiasi hasil belajarku," kata Sofia seteleh mengisi piring untuk suaminya. Sikap ketus belum hilang sepenuhnya namun ia mulai mengurangi.


"Ini pasti enak," ujar Wawan segera menyuapkan makanan itu ke mulut. Tidak sabar ingin merasakan masakan sang istri.


"jangan meledek, kalau tidak enak katakan saja tidak enak. Tidak perlu membual untuk merayuku, aku pasti menepatinya."


"Tapi ini memang enak," puji Wawan. Sedikit asin tidak ia permasalahkan yang penting tidak keasinan seperti telor dadar kemarin.


Usai makan malam Sofia juga mencuci piring bekas mereka makan. Mengabaikan larangan Wawan yang memintanya agar mencucinya besok. Setelah kegiatan mencuci piring selesai dan tangan sudah dilap menggunkan handuk, dia masuk ke dalam kamar dan berbaring. Menatap langit kamar sambil menimang keputusannya. Sudah benarkah jalan yang ia ambil? Siapkah ia berbagi ranjang dan melayani suaminya? Pertanyaan itu tidak sempat terjawab karena rasa ngantuk mulai mendera.


Sofia tersentak, kaget ketika kakinya di sentuh oleh Wawan namun urung untuk membuka mata. Ia takut Wawan akan memaksa meminta haknya seperti perkataannya tadi siang. Namun pikirannya salah karena Wawan berniat membersihkan luka di kakinya serta mengganti perbannya dengan yang baru.


Selesai mengganti perban, Wawan tatap wajah cantik yang tengah memejamkan mata. Mengelus pipinya serta menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah.


"Kalau aku boleh egois, aku ingin bahagia sampai akhir dengan kamu. Hanya ada tentang kita bersama anak-anak yang lucu. Aku hanya berharap Allah akan melunakkan hatimu sehingga kamu ikhlas menerimaku sebagai teman perjalananmu sampai akhir ... Selamat tidur sayang, semoga besok kamu bangun dengan senyum kebahagiaan." Tak ketinggalan Wawan mendaratkan kecupan di pipi istrinya.


Sofia yang belum sepenuhnya lelap menahan nafas merasakan tubuhnya meremang. Dia bertahan sampai Wawan keluar dari kamar lalu ia membuka mata. Menyentuh pipi yang tadi dikecup serta menyentuh dada yang kembali merasakan desir yang tak ia pahami.


Ia mulai gelisah.

__ADS_1


***


Sofia berusaha bangun pagi, namun tetap saja kedualuan oleh Wawan. Ketika hendak menuju dapur mereka berpapasan di pintu. Wajah Wawan sudah kembali segar, tidak lagi terlihat pucat seperti beberapa hari ke belakang.


"Kenapa dicuci?" tanya Sofia melihat Wawan menenteng ember berisi pakaian yang sudah dicuci. "Bukanya itu kewajibanku?"


"Gosok gigi sama basuh wajah dulu ya. Nanti 'Aa kasih tahu kenapa 'Aa mencuci." Wawan membawa cucian itu untuk dijemur.


"Pria aneh," gumam Sofia seraya melangkah ke kamar mandi. Wawan menyuruhnya untuk gosok gigi dan membasuh wajah, namun Sofia malah mandi. Dia kembali ingin menguji kesabaran suaminya. Penasaran setebal apa rasa sabar pria itu. Apakah sama seperti dirinya yang memiliki kesabaran setipis tisu. Kita lihat saja.


"Neng?" Wawan menggedor pintu kamar mandi. "Neng kamu masih di dalam?"


Sofia segera menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Dia pikir suaminya akan marah ternyata ia salah tebak lagi.


"Ada apa?" Sofia bertanya dengan ekspresi yang menyebalkan.


"Aa pikir kamu kenapa-kenapa. Sudah 45 menit kamu di dalam belum keluar juga. Cepat pakai baju 'Aa sudah menyiapkan sarapan."


Kening Sofia berkerut, "kamu tidak marah?"


"Mana pernah aku marah yang ada aku takut kamu kenapa-kenapa di dalam. Sudah cepat sana, memangnya gak dingin apa? Atau ...?" Wawan menatap dengan sorot menggoda.


Sofia menerobos tubuh Wawan, berlari ke dalam kamar dan mengunci pintu. Dia baru sadar kalau dirinya seperti tengah menggoda iman suaminya.


"Iiihhh bodoh," rutuk Sofia di dalam kamar. Malunya sungguh luar biasa. Bagaimana bisa ia terlihat seperti tengah menggoda padahal selama ini dia yang mati-matian menolak kehadiran Wawan. "Astaga Sofiaaaaaaa."

__ADS_1


Sementara itu di luar kamar Wawan tertawa terpingkal-pingkal. Sekarang dia punya bahan untuk menggoda istrinya. Semoga saja doa yang dipanjatkan tadi subuh segera Allah kabulkan .


__ADS_2