
Diagnosa dokter menyatakan bahwa Wawan sakit tipus dan harus dirawat. Sofia tersenyum kecut, baru beberapa hari menikah sekarang dia harus repot mengurus orang sakit. Apalagi saat bapak dan ibunya harus pulang karena anaknya Dani juga demam.
"Kamu tunggu di sini, nanti bapak balik lagi ke sini. Jangan kemana-mana," kata Pak Yanto sebelum pulang. Sekarang tidak ada lagi sorot mata yang tajam sepeti tadi siang.
"Bapak aja yang pulang, Ibu temani aku di sini." Sofia menatap sang ibu memberi tahu lewat sorot mata kalau ia keberatan ditinggal sendiri.
"Ibu kan harus ke rumah kamu. Rumah belum dikunci, kalau nyuruh bapak mengambil pakaian ganti untuk kamu takutnya gak cocok. Tunggu saja, nanti ibu usahakan balik lagi setelah memastikan keadaan keponakan kamu."
Helaan nafas terdengar dari Sofia. Dia tidak lagi menyanggah karena hal itu percuma. Dia melengos, duduk di kursi tunggu bersama penunggu pasien lainnya. Dia harus bermalam di klinik, tidur di kursi tunggu. Benar-benar tidak ada kenyamanan.
Belum lagi dengan biaya perawatan. Sedikit banyak pasti mengeluarkan uang karena suaminya bukan pekerja yang memiliki kartu jaminan kesehatan. Kartu ATM yang diberikan Wawan dua hari yang lalu belum ia cek isinya. Penasaran dengan isinya, ia pun menghampiri ATM dan melakukan pengecekan saldo setelah orang tuanya pulang.
Sofia tersenyum kecut melihat sisa saldonya. "Cuma tiga juta setengah saja sok-soan suruh aku yang pegang. Tau gini aku kabur beneran kemarin." Sofia tetap menggerutu mengabaikan tatapan orang lain yang menatapnya heran. Dia kembali ke ruang rawat Wawan dan menatap suaminya dengan tatapan benci. Menarik kursi tunggu untuk ia duduki menghadap pada Wawan.
"Kalau aku tidak menikah dengan kamu, aku yakin tidak akan repot. Tau gak sih kamu ini benar-benar merepotkan. Mau tidur saja harus tidur di kursi seperti ini. Ya Allah dosa apa aku sampai nikah sama kamu."
Ketimbang menyadari kesalahan yang dibuat sendiri, manusia memang lebih sering menanyakan kesalahnnya melalui doa. Bukankah manusia seperti itu termasuk manusia sombong. Merasa dirinya tidak melakukan kesalahan padahal sudah pasti banyak. Setiap gerak gerik bisa jadi sebuah dosa yang tidak disadari.
Sofia memejamkan mata dengan kepala menelungkup di blangkar. Ia abaikan perawat yang masuk untuk memeriksa keadaan Wawan. Mumpung tidak ada bapak dan ibu, sekarang dia bebas tanpa tekanan. Tidak harus melakukan ini dan itu lagi.
Tidur nyenyak Sofia harus terganggu ketika merasakan usapan di puncak kepala."Kenapa?" tanya Sofia sambil mengucek mata.
"Kenapa tidur di sini?" tanya Wawan dengan suara lemah.
__ADS_1
"Disuruh bapak sama ibu. Ada apa?"
"Mau ke kamar mandi, boleh Aa minta tolong!" Meskipun ketus Sofia tetap memapah dan mengantar suaminya ke kamar mandi. Menunggui sampai keluar dan kembali ke ranjang rawat.
"Besok kalau bosan pulang saja. Gak papa Aa sendirian di sini," kata Wawan setelah dibantu naik kembali ke blangkar rawat.
"Biar aku dimarahi bapak dan ibu lagi?"
Wawan tersenyum, "bukan, tapi Aa takut Neng bosan nungguin Aa. Kalau bapak tanya bilang saja disuruh Aa pulang."
"Tetap aja bapak pasti marah. Lagian aku heran, apa sih istimewanya kamu sampai bapak dan ibu kelihatan sayang banget sama kamu. Apa-apa aku yang salah. Kemarin bapak sampai marahin aku pas tahu kamu sakit. Pasti A Dani yang lapor sama bapak." Untuk pertama kalinya Sofia bicara panjang lebar dengan Wawan. "Kamu pasti puas kan aku dimarahi bapak. Seneng kan?" Sofia melipat tangan di dada.
"Maaf ya, kalau gara-gara Aa, kamu sampai dimarahi bapak." Permintaan maaf itu terdengar begitu tulus, tidak terdengar seperti mengejek.
Wawan kembali tidur setelah sarapan dan minum obat. Sofia yang bosan memilih keluar dan menghampiri kedai kopi yang mulai rame. Dia duduk di sana ditemani Jus jeruk dan beberapa makanan lainnya.
Dari kejauhan dia melihat seorang perempuan memakain kerudung panjang melabaikan tangan dan menghampiri. "Sofia bukan ya?" tanya orang tersebut.
Sofia mendongak menatap orang yang menghampirinya. Wajahnya seperti tak asing tapi ia lupa siapa namanya. "Iya ... siapa ya?"
"Ya ampun kamu pasti lupa. Boleh aku duduk?" orang tersebut menarik kursi kemudian duduk di seberang Sofia. "Aku Rahma anaknya Pak Kades. Ingat kan?"
"Oooooh Rahma. Ya ampun kamu cantik banget setelah tinggal di kota. Kapan pulang?" Sofia berseru girang ketika mengingat bahwa orang yang duduk di seberang adalah teman lama.
__ADS_1
"Kemarin sore. Biasa darah tinggi Ibu kumat jadi aku diminta pulang sama bapak. Kamu lagi apa di sini? Sama siapa?" Rahma mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Aku ... aku lagi nunggu teman yang sakit." Sofia berbohong karena tak ingin diketahui dirinya sudah menikah.
"Teman? Pacar kali ah," goda Rahma. "Masih sama yang lama?"
Kisah Sofia dengan Hakim memang diketahui oleh teman-temannya. Sofia mengangguk, tersenyum malu-malu sambil menyeruput jus jeruknya.
"Ya ampun, awet banget kalian. Itu kalau nyicil motor tiga tahun sudah lunas kali ya," kekeh Rahma. "Kapan nih aku dapat undangan dari kalian?" Rahma tersenyum menggoda.
"Kapan-kapan lah," balas Sofia. "Kamu selalu nanya kapan kami akan menikah lah kamu aja masih sendiri. Orang kota pasti ganteng-ganteng kan?"
Banyak yang berpikir kalau mereka yang tinggal di kota pasti cantik dan ganteng. Padahal tergantung mereka yang merawat diri. Masih banyak yang mengkatagorikan bahwa cantik dan tampan itu dilihat dari kulit. Jika putih maka sudah pasti cantik dan ganteng.
Rahma menggelengkan kepala, tangannya terangkat memanggil pelayan kedai. Dia memesan minuman juga makanan. "Aku justru ingin menikah sama orang sini."
"Oh ya siapa?" Sofia tampak penasaran siapa pria yang ditaksir putri pak kades ini. Pastilah yang ditaksir orang-orang tertentu seperti guru, atau pegawai pemerintahan. Secara bapaknya seorang kepala desa sudah pasti yang dipilih juga bukan orang biasa.
Rahma tersenyum membayangkan orang yang dicintainya. "A Wawan?"
Uhuk, Sofia tersedak minuman yang tengah diseruput kala mendengar nama suaminya disebut. Wawan? Wawan siapa yang dimaksud Rahma? Apa Wawan suaminya? Kalimat itu berputar diotak tanpa permisi.
"Kamu kenal gak?" tanya Rahma yang dijawab gelengan kepala oleh Sofia. "Masa gak kenal, itu loh kakak kelas kita. Sudah lama aku gak bertemu dia. Entah sudah nikah atau belum, aku harap sih belum. Makanya aku seneng banget pas diminta pulang sama bapak. Semoga aja sebelum aku kembali ke kota bisa bertemu dia dulu."
__ADS_1
Mereka berpisah setelah Sofia menerima panggilan dari Dani yang menayankan keberadaannya. Kakak dan Ibunya sudah berdiri di halaman klinik. Meski tersenyum tapi kegundahan yang entah disebabkan apa mendera Sofia. Apa karena pengakuan Rahma tadi? Ah sepertinya tidak mungkin. Bukankah dia tidak mencintai Wawan. Atau sudah mulai mencintai? Bukanya cinta dan Benci itu sangat tipis perbedaannya.