
Damar tiba di rumah tempat tinggalnya dan istrinya itu tepat jam setengah enam sore.
Setelah memarkirkan mobil dengan benar Damar pun bergegas memasuki teras rumahnya.
Terlihat pintu sedikit terbuka membuat Damar menghela napasnya dengan berat.
"Ck. Istriku ini ceroboh sekali. Apa dia takut,jika tiba-tiba ada orang jahat yang masuk lalu memculiknya bagaimana? Huh,membuar khawatir saja."
Omel Damar sembari mendorong pelan pintu yang memang sudah terbuka itu.
"Kriett.." Pintu sedikit berdecit ketika di dorong membuat Damar mengerutkan alisnya bingung. Apalagi pintu tersebut terasa seperti ada yang mengganjal.
Damar mengamati lebih detail ke bawah selah pintu. Terlihat samar-samar seperti ada benda berwarna hitam mengganjal di selah bawah pintu.
Damar mengernyitkan kedua alisnya dan dengan penasaran ia mengambil benda yang sempat membuat pintu rumahnya sulit di dorong.
"Apa ini? Coklatkan?" Damar bertanya pada dirinya sembari sembari membolak-balik benda yang terasa berbentuk kotak yang masih terbungkus plastik hitam tersebut.
"Ah,biar aku bawa masuk saja. Mungkin ini coklat milik istriku yang tak sengaja jatuh dari keranjang belanjaannya tadi siang." Gumam Damar lagi sambil berjalan masuk ke dalam.
Samar-samar tercium aroma masakan dari arah dapur membuat Damar yang tadinya memasang wajah lelah kini terlihat kembali bersemangat dan langsung membelokkan langkahnya menuju dapur.
__ADS_1
"Selamat sore.." Sapa Damar tepat di sebelah pundak Iris membuat wanita itu menoleh dengan ekspresi kaget.
"Astaga kau ini.." Iris terlihat memasang wajah protes sembari mengusap-usap dadanya yang berdebar kencang karena terkejut dengan kehadiran Damar.
"Kau mengagetkan ku tau!" Ketus Iris sembari mematikan kompor dan beralih mengambil mangkok yang sudah ia siapkan lalu mulai menuangkan lauk yang ia masak tadi ke dalam mangkok tersebut.
"Grep.." Sebuah pelukan yang terasa di perutnya membuat Iris menghentikan aktivitasnya dengan pipi bersemu merah.
"D..Dam.."
"Maaf ya.." Lirih Damar memotong ucapan Iris.
"Maaf untuk apa?" Tanya Iris heran.
Kata Damar dengan nada yang dibuat semakin lirih bahkan terkesan ada unsur manjanya.
Iris mencebikkan bibirnya. "Sudah-sudah jangan bermanja-manja begitu. Lebih baik kau mandi sana,memangnya tidak gerah? Habis pulang kerja malah langsung ke dapur?"
Damar menggeleng. "Tadinya memang gerah,tapi setelah melihat nona. Gerah yang saya rasakan mendadak hilang."
Bibir Iris seketika berkedut. "Gombalan macam apa itu? Kau berniat merayu atau melawak hah?" Tanya Iris dengan tawa kecil menghiasi bibirnya.
__ADS_1
"Kau memang lebih baik mandi Damar dan setelah mandi baru kau ke sini lagi. Kita makan malam sama-sama. Sana mandi.." Suruh Iris sambil mendorong pelan tubuh Damar agar menyingkir dari dekatnya.
Damar akhirnya mengangguk pasrah saat tubuhnya di dorong oleh Iris.
Dengan langkah yang kembali di buat lunglai ia menunduk ke lantai untuk mengambil tas kerja yang tadi sempat ia jatuhkan sebelum ia memeluk Iris.
Setelah mengambil tas,Damar pun berlalu ke kamarnya dan Iris.
Sesampainya di kamar,Damar meletakkan tas kerjanya di atas meja kemudian beralih membuka jas yang ia kenakan.
"Pletak.."
Bunyi benda terjatuh membuat atensi Damar teralihkan. Pandangannya menunduk ke bawah mencari benda apa yang barusan jatuh dari saku jasnya itu.
Pandangan Damar tertuju pada benda berbalut plastik hitam yang terlihar tergeletak tak jauh dari kakinya.
Ia berjongkok memunguti benda tersebut sembari berguman.
"Ini kan benda yang tadi aku temukan di depan pintu,yang tadi ku kira coklat milik nona Iris." Gumam Damar sembari membolak-balik lagi benda tersebut dan mengamatinya lebih detail.
"Tapi kalau coklat yang dibeli di supermarket harusnya tidak perlu di bungkus beginikan? Atau jangan-jangan ini memang bukan coklat?" Damar kembali bertanys pada dirinya sendiri sembari terus mengamati benda itu dengan cermat.
__ADS_1
"Sepertinya memang bukan coklat,lebih baik aku buka saja agar tau apa sebenarnya yang ada di balik plastik ini."
♡♡♡