Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Penyelesaian 3


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit. Namun pergerakan di dapur rumah Damar sudah nampak sangat sibuk.


Iris yang berperan sebagai istri tampak sudah bangun dan sigap bergegas ke sana kemari,terkadang ia mengambil terigu ke kulkas,lalu setelah mengantarnya ke meja ia berbalik lagi lalu kembali membawa satu gelas susu cair plus satu butir telur,dan bahan-bahan seterusnya yang ia butuhkan akhirnya tersusun rapi di atas meja.


Selesai dengan bahan-bahan,Iris mulai mengambil langkah untuk membuat adonan. Hari ini rencananya gadis itu akan membuat kudapan berupa pancake sebagai menu sarapan.


Bunyi hentakan daun pintu yang terbuka kemudian tertutup mengalihkan pandangan Iris dari adonannya . Beberapa detik berselang sosok Damar muncul dari ambang pintu dapur.


Seperti yang sudah-sudah Iris menampilkan senyum manisnya.


"Selamat pagi. Kau sudah bangun?"


Damar memutar bola matanya dengan malas. "Keliatannya bagaimana?"


Iris tercengir. "Hehe,itu tadi basa-basi."


Damar memilih tak menanggapi,ia kemudian menarik salah satu kursi lalu mendudukinya.


"Apa menu sarapan hari ini?"


"Pancake." Iris menunjukkan adonannya yang ia buat dengan cara memiringkan mangkok. "Aku baru pertama kali membuat pancake doakan semoga tidak gosong ya."


Damar mendengus. "Dramatis sekali."


"Biarin." Sahut Iris sembari mencebikkan bibirnya.


"Kau tidak lupa kan pesanku semalam?" Damar membuka pembicaraan lagi.


Iris mengangguk. "Tidak lupa. Tenang saja,aku sudah menyiapkan pakaian kerja."


Iris menjawab dengan nada tenang. Pikirannya tetiba melayang pada kejadian semalam.


Ia ingat sekali,semalam saat ia menunggu Damar pulang. Ia ketiduran di sofa ruang tamu,begitu terbangun ia mendapati dirinya sudah berada di kamar dengan posisi Damar yang tertidur juga di sebelahnya.


Jam empat subuh saat Iris terbangun lagi,ia mendapati Damar juga sudah terbangun. Sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya pria itu mengutarakan sesuatu yang membuat Iris terheran-heran sekaligus senang.


Kabarnya kemarin malam Damar keluar untuk mengurus keterlibatan Imelda dalam kasus penguntitan Iris yang menyebabkan Iris hampir do lecehkan oleh Ardo.


Karena keterlibatannya,Imelda dilaporkan ke pihak berwajib dan juga dipecat tanpa pesangon.

__ADS_1


Kabar kedua yang Iris dapat adalah dirinya mendapat tawaran kerja. Tidak,bukan tawaran lagi melainkan permintaan khusus. Dalam satu bulan ke depan Rima,manager Damar katanya akan menikah.


Otomatis kesibukan mempersiapkan pernikahan di luar negeri membuatnya tak bisa menghandle kantor. Karena hal itu,Damar di tugaskan untuk menggantikan posisi Rima dan itu Rima minta secara langsung pada Damar.


Sementara itu di posisi asisten manager juga kosong setelah Damar dipindah tugaskan. Untuk mengisi kekosongan posisi,Rima merekomendasikan Iris pada Ridwan papanya.


Menimang Iris bukan awam dan sudah pernah bekerja di posisi yang hampir sama sebelumnya,Ridwan pun mengiyakan tanpa banyak komentar.


Semua berita barusan benar-benar baru Damar sampaikan subuh tadi. Berita yang terlalu tiba-tiba itu tak ayal membuat Iris tak bisa tidur lagi.


Setelah menyanggupi berita yang Damar sampaikan,Iris lantas bangun. Menyiapkan style pakaian yang harus ia kenakan lalu menyiapkan juga untuk Damar.


Beruntung bagi Iri,kopernya kemarin tidak hilang karena dikembalikan juga oleh warga yang menemukannya kemarin. Alhasil dengan keberadaan pakaian-pakaiannya di dalam koper,pagi ini ia bisa menyiapkan semuanya dengan baik.


♡♡♡


Dua puluh lima menit kemudian..


"Sarapan sudah siap..."


Iris meletakkan sepiring pancake berlapis yang sudah diberi toping cherry dan madu ke hadapan Damar.


"Enak.." Komentar Damar saat sepotong kecil pancake berhasil memasuki rongga mulutnya.


Iris terlihat berbinar dengan komentar yang barusan Damar beri.


"Benar enak?" Tanyanya memastikan.


"Coba saja punyamu kalau tidak percaya."


Iris mengangguk,kemudian memotong pancake miliknya dengan sendok lalu mencomotnya menggunalan garpu.


Satu kunyahan memasuki mulutnya,sensasi manisnya kulit pancake dan lumernya madu membuat Iris diam-diam mengakui bahwa pancake buatannya memang enak.


Sarapan terus berlanjut hingga makanan di masing-masing piring berhasil ditandaskan.


Damar beranjak dari kursinya kemudian berdiri membawa piring kotor yang ia pakai ke wastafel.


"Nyuci piringnya nanti saja sepulang bekerja." Tegur Damar saat melihat Iris mengambil spon pencuci dan  sabun.

__ADS_1


"Tapi.."


"Hampir pukul tujuh nona manis. Kau harus mandi belum lagi berdandan,kita bisa terlambat kalau harus menunggumu mencuci piring dulu."


Mendapat peringatan seperti itu,Iris tak punya pilihan lain selain menuruti. Ia pergi ke kamar menyusul Damar yang sudah lebih dulu melangkah.


"Mandilah di kamar mandi sini. Biar aku yang mandi di kamar mandi luar."


Damar meraih handuk serta pakaian yang sudah disiapkan lalu berlalu keluar memberi ruang bagi Iris untuk membersihkan diri tanpa perlu canggung.


Dua puluh menit berlalu,kini kedua manusia atau lebih tepatnya Damar sudah siap untuk berangkat. Di meja rias,Iris terlihat sibuk memoles beberapa jenis rangkaian make up yang sama sekali tidak Damar mengerti.


Pusing melihat kegiatan istrinya berdandan,Damar memilih keluar dan menunggu Iris di ruang tamu.


Sepulub menit setelahnya,Iris akhirnya keluar dengan tas jinjing dan juga dandanan yang sudah on point.


Damar sempat mengerjab dengan senyuman tipis.


"Cantik." Gumamnya lirih sangat lirih sehingga Iris hanya bisa melihat gerakan bibirnya saja.


"Ada apa?" Tanya Iris sembari menghampiri Damar. Damar menggeleng. "Tidak ada. Ayo keluar,ada yang ingin aku tunjukkan lagi." Ujar Damar sembari mengamit tangan Iris dan membawanya keluar.


Mata Iris dibuat terbelalak begitu Damar membuka pintu depan.


"K..kamu beli mobil baru?" Tanya Iris tidak dengan raut percaya.


Damar menggeleng. "Tidak beli cash sih. Ini mobil kantor dan nona Rima memberi akses agar aku menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan bekerja. Katanya agar lebih fleksibel saat bekerja terutama di lapangan."


Iris mengangguk paham. "Semacam inpentaris ya?"


Damar mengangguk. "Kurang lebih begitu. Jadi mau berangkat sendiri atau bersama?"


"Bersama."


Jawaban Iris memberi angin segar bagi Damar. Damar langsung menekan central lock dan membukakan pintu bagi sang istri.


Pagi itu untuk pertama kalinya Damar berangkat ke kantor bersama Iris dalam posisi rekan kerja sekaligus atasan bagi Iris.


♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2