
Karena hari ini adalah hari sabtu dan itu artinya akhir pekan,Damar terpaksa pulang sedikit lebih terlambat dari biasanya.
Ada beberapa pekerjaan tambahan yang harus ia selesaikan agar nanti di awal minggu ia tidak kelabakan,terutama di hari senin. Hari yang menjadi musuh bagi sejuta umat.
Damar menolehkan kepalanya ke arah Iris yang tampak sudah tidur di sebelahnya dengan kepala ia telungkupkan di atas
meja.
Jam di sebelah Iris sudah menunjukkan pukul lima sore yang artinya sudah lewat satu jam dari jam pulang kerja seharusnya.
Suasana di luar ruangan Damar juga sudah terasa sepi,sepertinya para karyawan lain termasuk Rima dan papanya Ridwan sudah lebih dulu pulang.
Rima pun sepertinya sengaja tidak mengajak Damar pulang seperti biasanya,mungkin karena ada Iris yang bersama dengan Damar saat ini. Jadi Rima tak enak menganggu,sehingga memilih pulang duluan.
Damar menghela napasnya dengan berat dan dengan cepat ia membereskan dokumen-dokumen yang ada di atas meja kerjanya.
Niatnya ia ingin membangunkan Iris,namun ternyata gadis itu sudah lebih dahulu mengangkat kepalanya tepat setelah Damar selesai mengemasi barang-barang kerjanya.
"Kau sudah selesai bekerja?" Tanya Iris dengan suara seraknya sambil mengucek-ngucek matanya.
Damar mengangguk dengan wajah cueknya.
Damar kemudian menggeser kursi yang ia duduki lalu beranjak dari tempatnya.
"Berhubung nona sudah bangun juga,jadi sekarang pulanglah. Hari juga sudah malam dan saya juga harus pulang. Dan maaf,saya tidak bisa mengantar nona karena saya tidak punya kendaraan. Jadi nona pulanglah ke rumah nona tanpa saya antar." Kata Damar dengan nada dingin.
Iris menggeleng cepat.
"Aku ikut pulang denganmu,aku tidak mau pulang ke rumah papa,aku kan istrimu."
Seketika bahu Damar lemas. Ia kira Iris akan berhenti mengganggunya,ia kira Iris akan lelah. Tapi nyatanya gadis itu belum mau menyerah.
"Bolehkan aku ikut denganmu?" Tanya Iris lagi dengan tatapan penuh harap.
Damar menggeleng. "Maaf,nona. Tapi tempat tinggal saya,kecil dan gerah. Anda tidak akan mampu tinggal di sana,jadi pulanglah."
Iris menggeleng lagi. "Aku bawa kipas angin kecil,jadi tidak akan gerah."
"Kasur di kamar saya hanya ada satu dan ukurannya kecil. Sedangkan di kamar sebelahnya hanya ada kasur lantai. Jadi tidak ada tempat tidur untuk anda."
"Aku kan bisa berbagi kasur denganmu. Lagipula tubuhku ini kecil,pasti akan muat jika satu kamar dan satu tempat tidur denganmu."
__ADS_1
Damar mengusap wajahnya dengan kasar.
"Nona,ada apa denganmu dua hari ini? Kenapa tingkah nona terlihat aneh? Sejak kapan nona mau sekamar dan satu kasur denganku? Kenapa nona terkesan ingin memerankan peran istri? Apa tuan Bagas memberi nona ancaman? Apa ini perintah tuan Bagas? Kenapa nona terus menggangguku?"
Tanya Damar dengan beruntun dan nada yang sangat frustasi.
Iris seketika memasang rambut sedih.
"Kenapa memangnya? Apa aku tidak boleh memerankan tugas sebagai istri? Aku kan memang istrimu. Ini murni kemauanku,bukan atas permintaan ataupun paksaan papa,dan satu lagi. Aku tidak mengganggu mu,aku hanya ingin menemani mu bekerja dan menemani akhir pekanmu besok. Apa dirimu sebegitu beratnya menerima kehadiranku?" Tanya Iris terdengar miris.
Damar jadi tidak tega melihat sang istri yang sudah berkaca-kaca dan mungkin aka menangis sebentar lagi.
Damar pun dengan terpaksa meraih tangan Iris dan menenangkannya.
"Baiklah,baiklah. Maaf jika saya menuduh nona yang tidak-tidak,maaf jika ucapan saya menyakiti nona. Tapi nona,saya mohon saat ini pada nona. Nona pulang ya,tuan dan nyonya pasti khawatir jika nyonya tidak pul..."
"TIDAK MAU!! AKU MAU PULANG JIKA ITU KE RUMAH KAMU!!"
"Tapi nona.."
"Aku tidak peduli."
Iris menjawab cepat sambil menerobos tubuh Damar dan berjalan keluar ruangan Damar.
Terserahlah dengan apa yang nanti akan Iris perbuat,yang jelas saat ini Damar ingin pulang dan menjauh dari Iris yang terus menempelinya seperti lintah.
♡♡♡
Suasana di rumah Damar malam ini terasa horor.
Bagaimana tidak? Saat sampai di rumah dan membuka pintu,Damar dikagetkan dengan keberadaan Iris yang ternyata sudah lebih dulu sampai dan sekarang tengah duduk di sofa sambil memangku sekotak dessert box.
Damar menghela napasnya lagi dengan kasar.
"Hufhh..,nona kenapa anda tidak pulang?" Tanya Damar dengan nada beratnya.
Iris melebarkan senyumnya tanpa rasa berdosa.
"Memangnya aku harus pulang kemana? Istri kan memang seharusnya tinggal bersama suami. Jadi aku akan tinggal di sini bersamamu,karena aku istrimu dan kau adalah suamiku. Bukankah seharusnya begitu?"
"Tapi nona,bukankah kita sebentar lagi akan ber.."
__ADS_1
"Tidak akan. Sudahlah! Aku mau mandi,apa di kamar kita ada kamar mandinya?"
Damar menggangguk.
Iris segera berdiri dari posisi duduknya sambil menyerahkan dessert box tadi pada Damar.
"Ini,sisanya masih banyak. Kau harus menghabisnya jika tidak,aku akan menangis sepanjang malam dan mengganggumu agar kau tak bisa tidur. Aku juga akan berteriak-teriak agar para tetanggamu merasa terganggu. Intinya jika kau tidak memakan sisa dessert box milikku itu,aku akan membuat kekacauan. Kau paham?"
Damar tak menjawab,tapi langsung menyendokkan sesuap dessert box dengan ukuran besar ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan susah payah.
"Byuagayymyuna nyuna ? kyau syudah pyuas kyan skyuarang??" (bagaimana nona? Kau sudah puas kan sekarang??)
Tanya Damar dengan nada jengkel dan susah payah karena dirinya berbicara sambil mengunyah.
Iris tertawa melihat kelakuan Damar,ia segera mengecup pipi Dmaar sekilas lalu setelahnya berlari masuk ke dalam kamar yang ia ketahui adalah kamar milik Damar.
Sedangkan Damar? Pria itu membeku di tempat setelah mendapatkan ciuman cepat dari gadis yang selama ini selalu mencaci dan mencari keributan dengannya.
"Kurang ajar,kenapa jantungku malah berdebar kencang begini?" Batin Damar heran.
"Tidak,tidak,tidak. Aku tidak boleh terjebak pada pesona nona Iris,terlalu berbahaya." Batin Damar lagi.
Damar lalu dengan segera menghabiskan sisa dessert box tadi,lalu setelah habis. Ia menaruh boxnya di wastafel dan berbalik kembali menuju ke kamar satunya lagi.
Ia berniat membersihkan diri di sana dan tidur di sana juga. Ia sudah memutuskan untuk tidak tidur sekamar dengan Iris karena takut melakukan hal yang macam-macam yang nantinya bisa saja mereka sesali.
Sementara itu,Iris yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian menggunakan baju Damar,kini berjalan keluar untuk mencari keberadaan sang suami.
Dan saat ia mendengar ada bunyi aktifitas seseorang di kamar satunya,ia masuk ke sana diam-diam dan berbaring di atas kasur kecil yang ada di sana.
Ia akan menunggu sampai Damar keluar dari kamar mandi,tidak peduli Damar menolaknya atau apa pun itu. Intinya mereka harus tidur di kamar yang sama.
♡♡♡
Jangan lupa ingatan...
Eh salah.
Like vote komen...
Aku mau kontrak novelnya hari ini wkwkwkwkwmw😁😁😁
__ADS_1
Doain reviewnya cepet..