Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Karena Aku Istri Mu!


__ADS_3

Sepertinya siang hari ini adalah hari penuh kekesalan bagi Damar. Di cafe tadi,ia di buat darah tinggi oleh kelakuan Iris dan ternyata tidak berhenti sampai di situ.


Karena bisa di lihat saat ini,Iris kembali berulah dengan mengikuti Damar hingga masuk ke dalam perusahaan tempat Damar bekerja.


Bukan tidak di usir,tapi lebih tepatnya Iris tidak mempan di uzir padahal sudah berkali Damar memintanya pergi baik dengan nada rendah maupun nada tinggi.


Memang sudah dasarnya Iris kebal dan keras kepala,jadi usiran Damar hanyalah dianggap angin lalu oleh Iris.


♡♡♡


Kedatangan Damar ke perusahaan yang di ikuti oleh Iris menarik perhatian banyak karyawan kantor. Sebagian dari mereka mengenal siapa Iris. Hal itu karena Iris ini merupakan salah satu Investor di perusahaan itu.


Namun bukan hanya hal itu yang membuat karyawan lain bertanya-tanya. Pasalnya tadi sebelum keluar untuk makan siang,Damar keluar bersama Rima dengan posisi berangkulan.


Dan kini,saat kembali Damar justru di gandeng dengan sangat posesif oleh Iris sedangkan Rima malah terlihat seperti bodyguard yang membuntuti Iris dan Damar dari belakang.


Sungguh pemandangan yang membagongkan.


Semua orang tau jika Damar adalah karyawan baru yang beruntung karena bisa cepat naik jabatan dan sangat dekat dengan Ridwan Gunawan sang CEO dan juga Rima,anak dari Ridwan sendiri.


Lalu sekarang apa lagi yang berpihak pada Damar? Iris membuntutinya? Tentu saja hal itu menjadi kasak-kusuk di kalangan karyawan. Damar yang mereka lihat pertama kali hanyalah seorang karyawan bisa yang seharusnya tidak berada di posisi seistimewa sekarang? Tapi kenapa bisa? Kenapa bisa Damar begitu dekat dengan orang-orang terpandang bahkan kini berjalan berangkulan dengan Iris,seolah Iris adalah kekasihnya.


Tatapan menusuk semakin Damar rasakan,terutama saat ia,Iris dan Rima memasuki lobi dimana semua mata karyawan menatap mereka dengan tatapan seolah mata mereka akan keluar dari tempatnya.


"Tinn.."


Dentingan pintu lift terdengar bersama dengan keluarnya satu sosok yang membuat Damar tercekat di tempatnya.


"T...tuan.."


"Om Ridwan!!" Pekik Iris sambil melepas rangkulannya dari tangan Damar dan berlari untuk menyalami sosok yang ia panggil om Ridwan tersebut.


Sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Ridwan Gunawan,ayah dari Rima sekaligus bos besar pemilik perusahaan tempat Damar bekerja saat ini.


"Loh Iris? Iris Maharani toh? Kok tumben ke sini? Ngikutin Damar ya?" Tanya Ridwan yang memang sudah akrab sambil menyambut uluran tangan dari Iris.


"Hehe,iya om. Om Ridwan apa kabar?" Tanya Iris sok ramah.


Damar mundur ke belakang sambil mendekati Rima dan mulai berbisik.

__ADS_1


"Nona,bisa tidak. Bawa saya pergi dari tempat ini?" Bisik Damar seperti orang yang sedang di kejar-kejar warga karena habis maling ayam.


Rima seketika menyikut rusuk Damar dengan tak kencang.


"Jangan macam-macam kak. Lagi pula,dia itu istrinya kak Damar. Kak Damar jangan jadi suami durhaka yang tidak mengakui istrinya sendiri. Sudah ayo,kita naik ke lantai atas untuk bekerja. Biarkan papa dan nona Iris ngobrol-ngobrol di sini."


"Ya sudah ayo."


Damar segera menyambar tangan Rima dan bermaksud masuk ke dalam lift meninggalkan Iris dan Ridwan yang terlihat asing beramah tamah.


"Damar,tunggu!"


Panggil Ridwan membuat Damar terpaksa menghentikan langkahnya.


"Ada apa ya Pak?" Tanya Damar dengan nada beratnya.


Ridwan memberi kode pada Damar lewat ekor matanya.


"Itu,Iris. Istri kamu,di bawa naik ke atas aja. Buat nemenin kamu bekerja,tidak apa-apa kok. Hari ini saya beri kelonggaran bagi pengantin baru seperti kamu,istrinya boleh di bawa masuk kerja."


Goda tuan Ridwan membuat Damar menegak ludahnya dengan kasar sedangkan Iris tersenyum penuh kemenangan dan seluruh karyawan di sana menatap tak percaya ke arah Damar dan Iris.


Really?


Dan jawabannya adalah 'yes'


Terbukti saat ini Damar,dengan langkah terpaksanya menggandeng Iris memasuki lift dan naik ke lantai atas,ke tempat dirinya bekerja. Diikuti Rima juga di sebelahnya.


Sungguh laki-laki yang beruntung dan laris manis.


♡♡♡


"Kalian satu ruangan??" Tanya Iris tak percaya.


Ia tentu saja kaget karena saat ia di bawa masuk ke tempat yang katanya adalah ruang kerja Damar. Rima ikut juga masuk ke sana,sebagai gadis yang ingin dianggap istri. Wajarkan jika reaksi Iris terlihat kaget.


"Apa-apaan ini? Mana bisa begitu? Memangnya kantor tidak melarang kalian berdua satu ruangan? Atau karena kamu anaknya om Ridwan?" Tanya Iris pada Rima dengan nada sewotnya.


Rima tersenyum kecil melihat reaksi Iris yang agak berlebihan. Ia pun meletakkan tas jinjing yang ia bawa tadi ke atas meja kerjanya dan mulai menjelaskan.

__ADS_1


"Begini sebenarnya nona Iris. Ruangan kerja ini milik kak Damar,ruangan kerjaku ada di sebelah sana,di pintu pertama sebelum ruangan ini."


"Namun karena kak Damar adalah asisten dan aku merasa aku akan sering membutuhkan bantuan dia,akhirnya aku memindahkan sebagian perlengkapan kerja ku kemari. Seperti laptop dan dokumen-dokumen. Sengaja ku lakukan hal itu untuk mempermudah pekerjaan kami."


"Tapi tak apa,untuk hari ini. Jika memang nona keberatan atau nona butuh waktu berdua dengan kak Damar,saya akan pindah ke ruangan saya kembali."


"Kalian nikmatilah waktu berdua di sini,aku akan bawa dokumen-dokumen dan laptop ku ke sebelah. Permisi ya.."


Ujar Rima sambil mengambil kembali tasnya,menjinjing dokumen dan memangku laptop lalu berjalan keluar meninggalkan Iris dan Damar yang terlihat menatapnya dengan penuh rasa bersalah.


♡♡♡


"Nona Iris,diamlah!" Tegur Damar pada Iris yang sedari tadi mengoceh ini dan itu serta mengganggu konsentrasinya bekerja dengan cara menyodorkan handphonenya beberapa kali pada Damar untuk menunjukkan apa yang tengah ia tonton kini.


(sebuah tayangan drama korea serial romantis dan Iris ingin Damar melakukan hal yang sama padanya dan tentu dengan cepat Damar menolaknya)


"Nona,jika anda tidak diam juga. Saya akan benar-benar mengantarkan anda pulang. Apa anda memang mau saya antar pulang?"


"Tentu saja tidak mau." Iris memberenggut kesal.


Detik berikutnya,Iris mendorong kasar kursi kerja Damar ke belakang dan duduk di pangkuan Damar dengan posisi seperti koala.


Damar seketika menahan napasnya.


"Nona? Apa yang kau lakukan?" Tanya Damar dengan nada gugupnya.


Iris mengecup pelan sebelah pipi Damar seraya berkata.


"Aku sedang bermanja-manja dengan suamiku karena aku adalah istrimu. Memangnya tidak boleh? Kau kau marah dan mengusirku lagi? Begitu?" Tantang Iris dengan berani.


Damar memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.


Bahkan kini bukan hanya pelipisnya yang berdenyut. Tapi sisi lain tubuhnya juga ikut berdenyut membuat Damar ingin sekali menghabisi gadis di depannya ini dalam hitungan menit.


Istri kurang ajar!!


♡♡♡


Jangan Lupa Like Vote Komen..

__ADS_1


__ADS_2