Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Minder...


__ADS_3

Iris bertepuk tangan sambil menatap puas hasil kerjanya selama hampir setengah hari itu.


Jam sudah beranjak menuju siang dan setelah perjuangan panjang hingga beberapa kali kuku-kuku cantik milik Iris patah. Kini usaha Iris membuahkan hasil yang cukup bisa diberi apresiasi.


Sepiring ayam goreng tepung berwarna agak kecoklatan di tambah dengan sayur tumis kangkung yang dihiasi tabungan bawang goreng gosong tampak terhidang apik di atas meja.


Ya walaupun keliatan agak absurd dari warna sayurnya,tapi percayalah. Rasanya lumayan pas karena Iris mencampurkan perasa makanan ke dalamnya secara telaten dan selalu mencipipinya untuk memastikan apakah rasanya pas atau tidak.


Kini tinggal satu lagi tugas yang ingin Iris lakukan. Mengemasi makanan yang ia bawa tadi ke dalam rantang lalu membawanya ke kantor tempat Damar bekerja.


Iris terlihat mengambil kursi untuk membuka lemari yang ada di atas kabinet dan setelah menemukan beberapa tempat bekal,Iris pun membawa turun salah satu rantang berwarna hijau tua dari dalam sana.


Iris pun mulai menata makanan yang ia ingin ia bawa dengan rapi ke dalam rantang,setelah selesai. Ia masuk ke kamar untuk mengambil papper bag yang ia pesan via online.


Dan setelah selesai mengemasi bekal tadi dengan rapi,Iris bergegas mandi lalu bersiap untuk ke kantor Damar dengan mobil miliknya sendiri.


♡♡♡


Perjalanan yang di hadang macet membuat Iris datang ke kantor Damar saat para karyawan sudah selesai istirahat siang.


Iris tak pantang mundur. Ia masih dengan PDnya mendekati meja resepsionis dan meminta izin masuk.


Beruntung resepsionis yang ada di sana mengenali Iris,jadi tanpa banyak drama Iris diperbolehkan naik ke atas untuk menuju ruang kerja Damar.


Setelah lift yang mengantarkan Iris menuju lantai tempat ruang kerja Damar berhenti,Iris pun keluar lift lalu berjalan dengan sedikit gugup menuju ruang kerja Damar.


"Tok..,tok..."


Dua kali Iris mengetuk pintu. Belum terdengar ada jawaban.


Karena merasa tak sabar,Iris langsung memutar handle pintu dan..


"Ceklek.."


Pintu coklat dari bahan kayu jati itu akhirnya terbuka bersamaan dengan mengerutnya dahi Iris saat melihat pemandangan yang ada di dalam sana.

__ADS_1


"Nona Rima? Kenapa anda di sini?" Tanya Iris tak suka saat melihat ada rival yang tengah berada di ruang kerja suaminya ini.


Rima menunjukkan beberapa kotak makanan yang ada di hadapan ia dan Damar.


"Kami sedang makan siang nona,tadi ada meeting virtual dengan perusahaan William company,karena meetingnya cukup lama. Aku dan kak Damar melewatkan jam makan siang. Untungnya tadi pagi aku membawa bekal,jadi karena aku pikir kak Damar juga belum makan aku berinisiatif membagikan bekalku padanya.


Rima menjelaskan dengan nada pelan agar Iris tak salah paham.


"Oh ya,nona Iris mau bergabung?" Tanya Rima lagi dengan ramah.


Iris melengos.


"Tidak usah. Terima kasih,aku sudah makan siang dan kebetulan aku ke sini juga karena ingin mengantarkan makan siang untuk suamiku!!"


Iris berjalan mendekat kemudian meletakkan rantang berwarna hijau tua tadi ke atas meja Damar dengan gerakan lugas.


"Sayang,aku memasak makan siang untukmu. Tenang saja,kali ini aku jamin bisa dimakan kok. Aku sudah membukanya tadi.."


Iris meyakinkan Damar yang terlihat tak antusias dengan kedatangannya.


"Kau tidak mau membukanya?" Tanya Iris dengan nada sedikit kecewa saat melihat Damar malah masih sibuk memakan bekal milik Rima ketimbang membuka bekal yang ia bawa.


"Tek.."


Damar membuka tutup bekal makanan yang Iris bawa tadi dan langsung mengerutkan kedua alisnya saat melihat kangkung yang sudah berubah warna menjadi kuning kehitaman.


Rima yang ikut melihat makanan buat Iris,tanpa sadar tertawa lepas.


"Astaga, apa kangkungnya terpapar pestisida??


Tanya Rima sembari tertawa melihat bentukan bekal yang Iris bawa.


Damar kembali menghela napas dengan berat sembari mendorong pelan bekal makanan milik Iris ke sisi meja.


Wajah Iris terlihat memerah menahan malu.

__ADS_1


Rima yang melihat gelagat Damar dan Iris menjadi ingin bertanya lagi.


"Nona Iris,boleh aku tanya? Apa sebelumnya nona sama sekali tidak bisa memasak?" Tanya Rima dengan hati-hati.


Iris tak menyahut,ia malah membuang pandangannya ke arah lain.


Melihat kelakuan Iris,Damar hanya bisa geleng-geleng kepala sedangkan Rima kembali tertawa kecil.


"Sepertinya dugaan ku benar ya,nona Iris memang..."


"CUKUP NONA RIMA!! Aku datang ke sini bukan untuk kau pojokkan. Aku memang tidak bisa memasak,tapi setidaknya aku berusaha demi suamiku. Harusnya kau sebagai seseorang yang bukan siapa-siapanya Damar tak perlu ikut campur!! Kau mau jadi pelakor??"


"Nona Iris!! Jaga bicara anda!!" Terdengar suara Damar menegur Iris dengan dingin.


"Nona Rima hanya bertanya,jangan berlebihan dan seharusnya nona memang tidak tersinggung. Nona Rima membicarakan faktanya bukan? Nona memang belum bisa memasak dan..."


Damar tak jadi melanjutkan kalimatnya saat melihat Iris berbalik badan lalu lari keluar dari ruangan Damar tanpa menutup pintu.


Kepergian Iris membuat Damar dan Rima saling pandang,rasa bersalah juga menyelimuti hati Rima saat itu.


"Kak,aku minta maaf." Ujar Rima lirih.


Damar mengerutkan keningnya.


"Untuk apa?"


"Nona Iris sepertinya tersinggung dengan ucapanku ya? Aku tidak bermaksud menghinanya. Aku hanya.."


"Sudahlah,tak apa. Nona Iris memang gadis yang cukup sensitif,sebagai suaminya. Saya yang ingin mewakilinya untuk meminta maaf atas kata-kata yang nona Iris keluarkan tadi. Maafkan istri saya nona Rima.."


Rima menggeleng. "Tidak,tidak Damar. Tidak boleh begitu,nanti sebelum pulang aku akan membawa kau ke toko kue lalu kita beli kue sebagai permintaan maaf pada nona Iris ya,aku benar-benar tak enak padanya."


Damar terlihat bepikir sejenak kemudian mengangguk.


"Baiklah.." Jawab Damar akhirnya.

__ADS_1


"Sepertinya sikap ku tadi juga keterlaluan,aku akan meminta maaf." Batin Damar.


♡♡♡


__ADS_2