
"Tok...tok...tok..."
Bunyi ketukan pintu di pagi hari itu terdengar bertubi-tubi membuat Damar dan Iris yang tengah menikmati sarapan pagi mereka jadi merasa terganggu.
"Siapa yang bertamu sepagi ini??" Celetuk Iris dengan raut cemberut.
"Tidak sopan sekali. Jangan-jangan itu nona Rima,awas saja jika dia. Aku akan..."
Iris tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat Damar beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruang depan,sepertinya pria itu akan memeriksa siapa tamu yang ada di luar sana.
"Ceklek.."
Pintu terbuka dan Damar sempat terdiam kaku saat melihat siapa manusia yang mengganggu mereka sepagi ini.
"Nyonya besar? Papa?" Sapa Damar dengan nada bingungnya.
Tuan Bagas terlihat tersenyum ramah sedangkan nyonya besar melihat wajah Damar dengan raut yang kurang bersahabat.
"Mana anak saya??" Tanya nyonya Bagas dengan nada sinis.
Belum sempat Damar menjawab,dari arah belakang terlihat Iris muncul sambil membawa piring yang berisi sisa makanannya dan Damar yang belum habis tadi.
"Loh,mama,papa??" Iris bertanya dengan nada heran. "Kok tau aku di sini? Mama sama papa nge-hack ya?"
Tuduh Iris dengan tanpa melihat situasi dan kondisi.
Damar menghela napasnya dengan berat sedangkan nyonya Bagas mendengus kesal.
Lain halnya dengan tuan Bagas,beliau malah merespon pertanyaan sang anak dengan senyuman lega
"Huh..,papa lega kamu baik-baik saja. Semalaman papa sama mama tidak bisa tidur karena memikirkan kamu yang menghilang seharian kemarin,puncaknya tadi malam. Papa yang sudah bingung mau mencari kamu kemana,sampai tiba-tiba om Ridwan telepon papa dan cerita-cerita. Katanya kemarin siang kamu main-main ke kantor om Ridwan buat nemuin Damar."
"Papa lega bukan main saat mendengar kabar tentang kamu,papa juga bertanya di mana Damar tinggal sekarang dan akhirnya om Ridwan kasih alamat rumah ini dan ternyata benar. Saat kami berkunjung ke sini,ternyata kamu memang di sini. Papa lega sekali sayang,jadi bagaimana rasanya tinggal di sini? Kamu senang?"
"Senang.." Iris menjawab dengan cepat dan nada yang sangat yakin.
"Nyonya besar,papa. Mari masuk terlebih dahulu. Kebetulan saya saya dan nona Iris sedang sarapan pagi. Bila tidak keberatan,kita bisa sarapan sama-sama."
Tawar Damar pada kedua mantan majikannya sekaligus mertuanya itu.
"Tidak perlu.." Ketus nyonya Bagas.
"Terimakasih Damar,kebetulan kami belum sarapan."
__ADS_1
Tuan Bagaskara malah meralat ucapan istrinya dan berlalu masuk ke dalam rumah sederhana milik Damar tersebut.
Iris yang melihat papanya sudah lebih dulu masuk ke dalam,menatap pada sang mama dan Damar secara bergiliran.
Melihat mamanya menatap Damar dengan sinis dan tidak mau masuk ke dalam. Iris jadi jengkel dan ia pun sewot.
"Mama kalau gak mau masuk pulang aja. Rumah Iris sama Damar memang begini keadaannya,kecil dan sempit. Tidak sebagus dan sebesar rumah mama dan papa." Kata Iris menyindir dengan kalimat yang kejam dan ketus.
Nyonya Bagaskara melongo tak percaya mendengar pernyataan anak tunggalnya itu barusan.
"Mama gak salah denger Ris? Kamu ngusir mama?" Tanya wanita paruh baya itu dengan nada tak percayanya.
Iris mengendikkan bahunya. "Ya siapa suruh ekspresi mama kayak gitu pas ngeliat Damar. Iris gak suka ya sama orang yang natap suami Iris kayak orang punya dendam. Damar itu suami Iris,mama benci sama Damar artinya mama benci Iris juga."
Nyonya Bagaskara semakin menatap putrinya itu dengan tatapan heran sekaligus bingung.
"Ris? Sejak kapan kamu jadi membela Damar begini? Apa yang Damar lakukan padamu hah? Jangan-jangan dia..."
"Damar gak ngelakuin apa-apa ke Iris ma. Iris memang sudah sepenuhnya sadar kalau Damar itu suami yang terbaik buat Iris jadi Iris ada di sini,bersama-sama dengan Damar di sini karena Iris menjalankan kewajiban Iris dan menghormati Damar sebagai suami Iris."
"Tidak bisa begitu. Ingat Ris,kalian menikah karena terpaksa dan dia hanya suami pengganti. Kamu lupa? Dia itu..."
Iris menatap tajam mamanya seketika.
Potong Iris cepat dengan kalimat usiran yang secara langsung tanpa tendeng aling-aling.
Damar dan nyonya Bagas melotot bersamaan.
"Nona Iris,jangan begitu.." Tegur Damar dengan raut wajah yang merasa bersalah pada mertua perempuannya itu.
"Nyonya maafkan nona Iris. Dia mungkin masih lapar karena itulah emosinya kurang stabil. Alangkah baiknya sekarang nyonya masuk dulu,menyusul tuan besar. Kasian beliau sendirian di ruang makan."
Pinta Damar dengan nada yang lembut dan juga sopan.
Nyonya Bagas terlihat melengos namun satu kakinya sudah terlihat melangkah dan dari gesturnya,sepertinya wanita itu akan masuk ke dalam rumah.
Damar pun menarik lengan Iris yang menghalangi jalan dan membawanya ke samping tubuhnya untuk memberi ruang pada nyonya Bagas agar ia bisa masuk ke dalam rumah.
Benar saja. Beberapa detik setelahnya,nyonya Bagas terlihat berjalan memasuki rumah kecil Damar itu dengan gayanya yang angkuh.
Iris menatap Damar dengan tidak suka.
"Kenapa meminta mama masuk? Dia akan membuat masalah nantinya." Gerutu Iris tak suka dengan tindakan Damar barusan.
__ADS_1
Damar mencebikkan bibirnya.
"Nona tidak salah bicara?" Sindirnya. "Bukankah selama ini nona lah yang sering membuat masalah."
Iris melotot. "Masalah apa? Aku tak pernah membuat masalah!"
"Yah,dia tidak sadar diri." Batin Damar mencibir.
Tanpa mempedulikan raut protes Iris,Damar berjalan masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan Iris yang masih cemberut di depan pintu dengan tangan membawa piring berisi makanan yang sudah dingin karena terlalu lama dianggurin.
♡♡♡
"Kalian berdiskusi apa saja di luar sana? Papa sampai sudah nambah dua kali loh." Celetuk tuan Bagas saat melihat nyonya Bagas,Iris dan Damar memasuki ruang makan disaat dirinya sudah hampir selesai sarapan.
Tidak ada dari mereka yang menyahut pertanyaan tuan Bagas.
Iris dan nyonya Bagas terlihat langsung duduk di kursi kosong yang ada di sana sedangkan Damar memilih berdiri dan memperhatikan. Seperti biasan. Ia mencoba sadar posisi.
Tuan Bagas yang melihat kelakuan Damar merasa kurang suka. Ia pun memprotesnya.
"Damar duduklah. Jangan begitu,sebagai tamu kami merasa di acuhkan jika kami sedang duduk di sini dan kau malah berdiri di sana. Ayo duduk dan sarapan sama-sama."
Damar tersenyum kaku mendengar pernyataan mertua laki-lakinya itu.
Dengan segala kecanggungan yang ada,ia pun duduk di antara keluarga besar Bagaskara tersebut.
Nyonya Bagas terlihat mulai mencidukkan sesendok nasi beserta lauk dan mencicipinya secara perlahan.
Sejenak ia terdiam meresapi rasa makanan yang barusan masuk ke mulutnya.
Setelah mengunyahnya dengan perlahan,ia pun bertanya.
"Siapa yang memasak makanan ini?" Tanya nyonya Bagas.
Iris dan Damar kompak menunjuk satu sama lain membuat kedua orang tua yanh ada di sana bingung.
"Jadi siapa yang memasak??"
♡♡♡
Jangan lupa
Jejaknya...
__ADS_1