
Menyandarkan tubuh lelah setelah mendorong motor sejauh tiga ratus meter dari kawasan belanja. Sepanjang jalan itu pula Sofia tak berhenti mengomel. Namun Wawan tetaplah Wawan dia tidak membalas atau membentak. Padahal sama-sama lelah. Belum lagi kalimat Sofia yang terus membandingkan dirinya dengan Hakim.
Sampai di rumah Sofia tetap menunjukan sikap tidak baik. Menawari minum saja tidak. Dia lebih sibuk pada kantong kresek berisi belanjaan yang dibeli tadi.
Bu Asmirah yang baru pulang dari sawah melihat Wawan yang tengah bersandar sambil memejamkan mata di kursi teras. Saat masuk rumah ia mendapati putrinya yang tengah menikmati cemilan di depan televisi.
"Apa sih, Bu?" Sofia tidak terima saat cemilan yang tengah dinikmati direbut oleh sang ibu.
"Kamu yang apa-apaan. Ongkang-ongkang kaki, enak-enak di depan tv. Suami-mu dibiarkan tidur di luar. Kamu mau bapak tahu dan mengomeli kamu lagi."
"Sekarang saja aku diomeli sama Ibu. Apa bedanya sama bapak," sanggah Sofia. Dia rebut kembali cemilan si tangan sang ibu.
"Kamu ini ...."
"Neng tidak salah, Bu. Saya memang sengaja tidur di luar, lagi merasakan angin sepoi-sepoi." Wawan muncul di ambang pintu, memamerkan senyum yang dibalas wajah kecut oleh istrinya.
Merasa sebal dengan suaminya, Sofia masuk ke dalam kamar mandi. Dia teriak di dalam sana. Memaki Wawan sepuasnya.
***
Demi menghindari pertengkaran dengan sang istri yang disebabkan campur tangan mertua, Wawan memutuskan mengajak sang istri pindah ke rumah yang dia bangun. Rumah sederhana yang lebih kecil dari rumah mertuanya. Rumah yang memiliki dua kamar, ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga. Dapur lengkap dengan kompor dan beberapa alat makan. Di bagian samping dapur terdapat kamar mandi dan tempat jemuran.
Di dalam kamar terdapat tempat tidur yang tak jauh beda luasnya dengan yang dipunya Sofia di rumah orang tuanya. Terdapat juga satu lemari yang masih memiliki ruang untuk menyimpan pakaian Sofia, sebab Wawan hanya memiliki pakaian sedikit. Enam kaos polos berlengan pendek, kemeja panjang tiga, dua baju koko, empat celana hitam panjang, dua celan pendek sebatas lutut, dalaman dan dua jaket.
Di ruangan tamu hanya terdapat televisi berukuran sedang bersama raknya. Untuk duduk ada karpet sebagai alasnya. Tidak ada sofa.
Meskipun kecil, rumah tersebut begitu nyaman dan elegan karena Wawan selalu merawatnya. Tanaman hias yang di tanam pada pot di halaman rumah menambah kesan cantik pada rumah tersebut.
__ADS_1
"Ayo masuk!" Wawan masuk lebih dulu untuk menyalakan lampu. "Rumahnya kecil tapi semoga Neng nyaman di sini."
Sofia tak menjawab, namun tetap mengikuti hingga langkahnya berhenti di ambang pintu kamar. "Aku tidur di mana?"
Wawan yang tengah mengambil tas pakaian sang istri menoleh. "Kamu tidak ingin kita tidur satu kamar?"
Senyum kecut Sofia menjadi jawaban.
"Baiklah, Neng bisa tidur di kamar. Saya bisa tidur di sini," tunjuknya pada karpet di ruang tamu. Kamar satu lagi memang belum tersedia kasur. Masih menjadi satu ruangan kosong.
Saat sang istri tengah memasukan pakaian, Wawan bergerak di dapur. Dia memasak tumis kangkung dan telor dadar untuk makan malam. Usai memasak dia panggil sang istri untuk makan bersama.
"Besok, Aa mulai kerja lagi. Neng gak papa kan ditinggal sendiri di rumah?" tanya Wawan di tengah menikmati makan malam.
"Heem," jawab Sofia acuh.
Banyak omong, ucap Sofia di dalam hati.
Usai makan malam tidak lagi obrolan untuk menghangatkan suasana yang terasa sepi. Sudah menikah dan saat masih jadi bujangan tak ada bedanya untuk Wawan. Sang istri masih enggan disentuh dan ia pun tidak bisa memaksa.
Tidur beralaskan karpet di ruang tamu tak jadi masalah. Yang penting membuat sang istri nyaman lebih dulu. Wawan percaya seiring waktu berjalan cinta bisa tumbuh karena selalu bersama.
Hingga malam berlalu dan pagi mulai menepi, Sofia masih belum keluar dari kamar. Padahal kemarin Wawan sudah bilang bahwa dia akan kembali bekerja. Salah sekali pikiran Wawan yang mengira Sofia akan bangun lebih awal dan menyiapkan bekal untuknya. Harapan itu hanya harapan yang menguap bersama hangatnya mentari pagi. Wawan berangkat bekerja setelah meminum teh hangat yang dia buat.
Setelah memastikan Wawan berangkat dengan mendengar deru motornya, Sofia baru keluar dari kamar. Selimut yang dipakai Wawan sudah terlipat rapih bersama bantalnya. Di dapur juga tidak mendapati barang kotor. Alat makan bekas makan malam sudah bersih dan tersimpan rapih di tempatnya.
"Tau begitu, bangunnya nanti aja," kata Sofia menggaruk rambut sambil menguap. Dia kembali ke kamar dan bergelung di dalam selimut.
__ADS_1
Pukul sembilan dia mulai merasakan lapar. Namun dia bingung karena tidak bisa memasak. Alhasil dia menahan lapar menunggu sampai Wawan pulang. Kalau dia pulang ke rumah orang tua demi meminta makan. Sudah pasti dia akan dapat ceramah dari ibu dan bapaknya.
Wawan sendiri pulang tepat waktu, sebagai penjahit di konveksi milik Mang Dahlan. Saat tiba di rumah bukan senyum yang menyambut dirinya melainkan wajah cemberut dari Sofia.
"Lama banget sih kerjanya. Lapar tau harus nunggu kamu pulang. Kamu bawa makanan?"
Wawan menggelengkan Kepa, "Kenapa tidak masak? Kan beras ada, tahu sama telur juga masih ada sisa semalam," balas Wawan santai setelah menaikan motor ke teras rumah.
"Aku gak bisa masak," terang Sofia.
"Kalau begitu ayo belajar masak bersama. Masak telur mudah kok." Wawan berjalan ke dapur lebih dulu. Dia cinyohkan cara menghiduokan kompor, mengocok telur, kadar bumbu hingga menggorengnya.
Meski katanya lapar dan tidak memiliki tenaga, tapi Sofia tetap saja cerewet. Dia tidak ingin Wawan hanya tersenyum doang. Inginnya Wawan marah dan dia akan mengadu pada orang tuanya. Ujungnya mereka bercerai itu keinginan Sofia.
Ponsel yang ada di genggaman Sofia berdering. Terdapat nomor baru yang tertera di layar. Wawan menoleh dan menyuruh sang istri mengangkatnya.
"Hallo," ucap Sofia setelah meneken tombol loud agar suaranya dapat didengar juga oleh Wawan. Sofia sendiri merasa takut ketika mendapat telepon dari nomor asing.
"Ini nomor Sofia bukan?" tanya orang di seberang sana. Suaranya suara perempuan.
"Betul, ini siapa ya?" Ragu-ragu Sofia bertanya dan menoleh pada Wawan.
"Neng Ayu ini ibunya Hakim dari Kebumen. Hakim sakit dan terus menyebut nama kamu. Neng ayu bisa gak datang ke sini untuk menjenguk Hakim. Sudah satu minggu dia di rawat di rumah sakit. Selama satu minggu juga dia menolak makan. Bisa ya?"
Wawan memalingkan wajah dan menggigit bibir. Bohong jika dia mengaku baik-baik saja. Jelas dia tahu siapa Hakim karena selalu di sebut oleh Sofia. Bahkan di malam pertama mereka.
Makanan yang sudah matang dibawa ke depan televisi sebagai pengalihan agar tidak mendengar jawaban istrinya.
__ADS_1