
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Usai berkenalan dengan para tetangganya tadi pagi,Iris akhirnya ikut mereka berbelanja di gang depan. Kini saat kembali ke kediaman Damar,Iris terlihat membawa sekitar empat kantong kresek bening,berukuran sedang yang berisi sayur-sayuran yang tadi ia beli.
Iris pun masuk ke rumah,berjalan menuju dapur dan meletakkan sayur-sayuran tadi ke atas meja makan.
Kini dirinya tampak terdiam menatap keempat kantong kresek bening di hadapannya itu.
"Sayur-sayur mentah-mentah ini harus aku olah gimana ya? Aku kan gak bisa masak. Duh,kok aku sampai gak kepikiran ya?" Batin Iris sedikit merutuki kebodohannya.
Bisa-bisanya ia membeli banyak bahan makanan mentah,tapi tidak tahu bagaimana cara mengolahnya.
"Aduh,bagaimana ya?" Batin Iris lagi sambil menggigit jari telunjuknya dengan raut gelisah.
Iris kemudian berjalan bolak-balik mengintari meja makan,sembari berpikir tentang bagaimana cara ia mengolah makanan-makanan tersebut.
Hingga...
Mata Iris tertuju pada pintu kamar utama yang terlihat di tutup dengan rapat.
Iris menghentikan kegiatannya yang tengah mengintari meja itu. Lalu detik berikutnya Iris berguman.
"Damar pasti saat ini ada di kamar utama. Kira-kira dia sedang apa ya?"
"Apa aku bertanya pada Damar saja ya? Dia mungkin pandai memasak,dia kan laki-laki mandiri. Ya benar,sebaiknya aku bertanya padanya saja.."
Iris bermonolog dan setelahnya dengan yakin ia pun kemudian berjalan mendekati pintu kamar utama.
Saat sudah sampai di sana,Iris mengangkat tangannya dan bersiap untuk mengetuk pintu.
Namun belum sampai tangannya menyentuh daun pintu. Iris tiba-tiba menurunkan tangannya lagi.
Iris kemudian membatin di dalam hati.
"Tidak,tidak boleh. Aku tidak boleh mengganggu Damar. Dia pasti masih kesal karena ulahku semalam."
"Aku harus meredam amarah Damar dengan menyiapkan suprise berupa makanan hasil masakanku sendiri. Lalu nanti aku persembahkan pada Damar,dia pasti senang memakan masakan buatan istrinya sendiri."
"Ya benar,benar. Ide yang cemerlang,sebaiknya aku belajar memasak dengan bantuan tutorial you tube saja. Pasti sama mudahnya dengan acara masak-masak yang ada di tv. Aku akan mencobanya."
"Aku pasti bisa. Aku kan istri yang baik dan mandiri."
"Ya,Iris!! Ayo semangat! Kau pasti bisa."
Iris mengangkat tangannya ke atas dengan telapak terkepal,lalu setelahnya ia berjalan kembali ke meja makan dengan langkah bak seorang ksatria yang akan pergi ke medan pertempuran.
Semangat yang menyala-nyala terlihat di kedua bola matanya.
Selamat berjuang,Iris Maharani!!
โกโกโก
Tiga puluh menit kemudian...
__ADS_1
"Hua......."
"Mama..."
"Papa....."
"Damar..."
"Hua..."
"Tolong aku.....!!!"
Terdengar teriakan sekaligus tangisan kencang dari arah dapur,membuat Damar yang tengah meminum kopi sambil membaca buku di kamarnya jadi terganggu konsetrasinya.
Damar kenal sekali dengan suara teriakan itu dan sebenarnya ia malas keluar. Tapi jika di dengar-dengar,tangisan yang tak lain berasal dari suara Iris itu terdengar makin keras.
Dengan terpaksa,Damar pun keluar kamar dan
berjalan menuju sumber tangisan yang tak lain adalah dari dapur rumahnya.
"ASTAGA!!!"
Damar memekik nyaring dengan tangan ia letakkan di dada saat melihat kondisi dapurnya saat ini.
"Apa-apan ini??" Teriak Damar menggelegar untuk kedua kalinya.
Terlihat tempat sampah terguling tumpah di bawah tempat pencucian,lalu daun sawi yang berhamburan.
Dua buah wortel yang belum selesai di kupas,kentang yang belum di kupas tapi sudah di rendam dengan air,daging yang belum di potong tapi sudah berada di dalam wajan yang berisi minyak dengan kompor yang tidak menyala
Damar menggeleng tak percaya.
Sebuah umpatan sudah siap meluncur dari mulutnya.
"Kurang ajar,siapa yang..."
"Hua........๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ"
Terdengar suara tangisan dari pojok lemari yang berhimpitan dengan kulkas membuat atensi Damar teralihkan.
Damar pun menoleh ke belakangnya dan betapa kagetnya ia saat mendapati Iris tengah menangis sesegukan di pojok sana.
Amarahnya yang tadi sudah di ujung tanduk,seketika mereda. Berganti dengan rasa penasaran tinggi tentang apa yang sudah terjadi di dapur dan kenapa istrinya itu bisa menangis.
Damar juga sedikit iba melihat Iris yang terlihat ketakutan. Ia pun berjalan pelan-pelan mendekati Iris,berjongkok di depsnnya,lalu mulai bertanya.
"Nona Iris..? Anda baik-baik saja? Apa yang terjadi barusan? Kenapa anda menangis?"
Tanya Damar dengan nada selembut mungkin.
Iris terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mata tertutup. Tangisannya pun terdengar semakin kencang membuat Damar semakin panik.
Ia mencoba membantu Iris berdiri sembari merangkulnya.
__ADS_1
"Heii,cup..,cup..,cup.." Hibur Damar seperti pada anak kecil.
"Nona tenanglah. Sekarang,jelaskan pelan-pelan padaku. Apa yang membuat nona menangis?" Tanya Damar sekali lagi.
Iris mulai membuka matanya dengan perlahan. Sambil masih dengan sesegukan,ia mencoba menjelaskan.
"A..aaku menangis karena itu...,huhuuhu..."
Iris menunjuk ke atas meja. Di sana tampak ada talenan yang di atasnya terdapat bawang merah yang sudah di iris sebagian.
Sontak hal itu membuat mata Damar membola malas.
Ia melepaskan rangkulannya dari tubuh Iris dan berniat kembali ke kamar lagi. Ia merasa Iris sengaja mengerjainya pagi ini.
Namun saat Damar hendak melangkahkan kakinya kembali ke kamar.
Iris menghentikan Damar dan langsung melompat ke pangkuan Damar membuat pria itu mau tak mau harus menangkap Iris dan menahan berat badan dirinya agar tak jatuh menimpa Iris.
Posisi Iris saat ini sudah seperti koala membuat sisi lain dari tubuhnya bergejolak.
"Nona,apa yang anda lakukan?" Tanya Damar dengan suara berat sembari mencoba menurunkan Iris,namun gadis itu memiting erat tubuhnya.
"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya ingin kau tetap di sini dan temani aku memasak." Pinta Iris dengan nada yang dibuat sangat manja.
Damar melengos ke arah samping.
"Saya tidak mau."
"Kau harus mau,karena aku sudah membeli banyak bahan masakan dan sayang jika tidak di olah."
"Kalau begitu,nona olah saja sendiri. Lagi pula,saya tidak pernah meminta nona untuk membelinya."
"Isshh,kau itu jahat sekali. Aku kan sedang mencoba menjadi istri baik untukmu. Aku juga belajar memasak,agar nanti kau bisa menikmati masakan buatan istrimu sendiri. Harusnya kau senang dan mau menemaniku,bukan malah membiarkan aku melakukannya sendiri."
Damar berdecak kesal. "Tapi nona. Anda baru belajar memasak saja,dapurnya sudah berantakan. Jika dilanjutkan,mungkin rumah kecil saya ini akan tinggal puingnya saja. Jadi daripada memasak,lebih baik nona pesan saja makanan jika memang nona lapar."
"Aku tidak mau. Aku mau belajar memasak,dan kau harus mengjariku. Titik."
"Tapi nona.."
"Ajari atau aku akan membuat keka..."
"Baiklah! Baiklah! Sekarang nona turun dan aku akan mengari nona cara memasak yang benar. Nona puas?"
"Yeayyyy...."
โกโกโก
Jangan lupa bahagia teman-teman wkwkwkw
Like vote komen juga jangan lupa
Apalagi votenya,ingat today day-nya is senin
__ADS_1
Hehe....