
Sebelum berangkat bekerja, Wawan memasak lebih dulu. Membuat bekal untuk dirinya juga sang istri. Tidak tega rasanya membiarkan snah istri kelaparan seperti kemarin. Padahal dirinya pun sama tak makan.
Saat akan berangkat pintu kamar masih tertutup. Sejak semalam mereka memang tidak saling bercengkrama. Sofia lebih asik dengan ponselnya di dalam kamar. Entah apa yang dikatakan sang istri pada ibunya Hakim yang meminta agar putranya dijenguk. Yang jelas Sofia tidak meminta izin atau mengatakan apa pun pada dirinya.
Mengendarai motor Wawan berangkat ke tempat kerja. Meninggalkan sang istri yang entah sudah bangun atau tidak.
Saat subuh Wawan mengetuk pintu kamar Sofia memang sudah bangun hanya saja dia malas untuk bersitatap dengan pria yang bukan pria idaman. Ia memilih berbalas pesan dengan ibunya Hakim.
"Dari Bandung ke kebumen naik apa, Bu. Soalnya saya belum ada pengalaman?" Sofia mengirimkan pesan balasan atas pesan semalam.
"Naik kereta aja biar cepat, naik bus juga bisa. Kalau naik bus bisa langsung turun di kebumen kalau naik kereta harus turun di stasiun Kuotarjo. Dari sana ke rumah ibu gak terlalu jauh kok. Dekat perbatasan."
Ada rasa ragu dalam hati apalagi harus bepergian ke tempat yang belum pernah ia datangi sama sekali. Namun rasa rindu pada ia yang dicinta sudah begitu menggulung dan membuncah.
Setelah memastikan Wawan berangkat, Sofia turun dari ranjang. Dia masukan beberapa pakaian ke dalam tas. Setelah mencuci wajah dan berganti pakaian ia tak lantas berangkat. Dia bingung harus memesan tiket kereta di mana.
Berkutat pada ponsel hingga tak menyadari bahwa hari smekain siang. Saat menyadari itu, dia sambar tas dan keluar dari rumah. Bodo amat dengan Wawan. Kalau pun dia sampai marah itu yang Sofia inginkan selama ini.
Menggunakan ojek Sofia minta diantar ke terminal.
***
Wawan yang baru saja membuka kotak bekal, mengurungkan niat untuk makan siang ketika mendengar kabar dari Teh Ai. Padahal cacing di dalam perut telah berdemo meminta haknya untuk segera dipenuhi namun diabaikan oleh Wawan.
Dia lebih khawatir pada sang istri yang katanya ada di terminal. Gegas Wawan sambar kunci motor. Dengan tergesa dia pamit pada Mang Dahlan.
"Wawan kenapa?" tanya Mang Dahlia pada Ai yang baru pulang dari pasar.
"Mau nyusul Sofia, tadi aku lihat dia ada di terminal kayak orang kebingungan." Teh Ai meletakan barang yang dia bawa.
__ADS_1
"Aneh-aneh aja si Sofia. Jangan bilang dia mau kabur dari Wawan."
"Husss ah, aa mah sok ngagosip. Kedengaran Pak Yanto bisa jadi masalah loh," kata Teh Ai mengingatkan.
Tiba di terminal Wawan celingukan mencari istrinya. Foto yang di tunjukan Teh Ai yang dikirim ke ponselnya ia jadikan patokan.
"Mang, duh maaf, tadi lihat teteh-teteh ini gak?" tanya Wawan pada orang yang tengah duduk menikmati kopi.
Dari orang tersebut Wawan tahu kalau istrinya menuju terminal Leuwi Panjang. Gegas dia menyusul angkot yang katanya baru berangkat sepuluh menit yang lalu.
Setiap ada angkot Wawan memelankan laju motor untuk memastikan istrinya ada di dalam atau tidak. Dua angkot sudah dia lewati namun sang istri belum juga terlihat.
Di perempatan lampu merah, Wawan turun dan menepikan motornya. Berlari ke arah angkot yang berhenti di dekat garis penyebrangan. Benar di sana dia menemukan sang istri. Perempuan itu tengah fokus mengetik sesuatu di layar ponsel.
"Turun!" titah Wawan membuat Sofia mendongak.
Namun perintah itu tak membuat Sofia turun. Keberadaan Wawan dianggap tidak ada oleh Sofia hingga matanya kembali fokus pada ponsel.
"Berhenti di sana, Kang. Ini istri saya pergi tidak pamit."
"Enggak, jalan aja, Mang," sanggah Sofia tidak ingin ikut turun bersama suaminya.
Beruntung sopir angkot tersebut tidak ingin terlibat masalah dan dituduh telah melarikan istri orang. Dia menepi setelah melewati lampu merah seperti permintaan Wawan.
"Turun, jangan sampai bapak tahu kamu bersikap seperti ini," kata Wawan. Peluh di keningnya tak dihiraukan.
"Enggak, aku mau menjenguk Hakim."
"Tapi kamu tidak pamit. Ayo pulang!"
__ADS_1
"Ya udah aku pamit sekarang," keukeuh Sofia.
Penumpang lain saling berbisik dan merasa terganggu karena Sofia tak kunjung turun. Padahal mereka juga sama sedang diburu waktu.
"Turun aja, Teh. Selesaikan dulu masalahnya. Kita sudah terlambat nih," kata salah satu penumpang di setujui penumpang lainnya.
"Enggak, ayo Mang jalan terus," tolak Sofia. Dia bahkan semakin merangksek ke dalam dan memeluk tasnya.
Kesal dengan drama di bawah terik matahati, Wawan keluarkan ponsel dari saku celana. "Oke kalau tidak mau pulang aku telepon bapak sekarang."
Kalau sudah bawa-bawa nama bapak, Sofia tidak bisa berkutik lagi. Dengan wajah cemberut dia turun dari angkot dan mengikuti Wawan ke arah motornya.
Sampai di rumah Wawan tidak banyak bicara. Pengaruh lapar ditambah drama di bawah terik matahari membuat dia sangat marah namun lebih memilih diam. Berkata dalam keadaan marah bisa saja menyakiti hati istrinya. Wawan masih tidak mau itu.
"Masuk kamar!" titah Wawan. Tidak ada lagi kelembutan dalam nada biacranya. Kali ini benar-benar dingin bahkan Sofia saja sampai berjengkit.
Tak pernah dia lihat lelaki seperti Wawan marah. Ini yang dia tunggu, tapi kenapa suaminya tidak lagi bicara. Padahal Sofia sangat menantikan, berharap Wawan memukul atau menatap dirinya. Sayangnya Wawan malah terpekur sambil bersandar di dinding.
***
Perubahan cuaca sudah berganti sejak tiga pekan yang lalu. Siang kadang sangat panas namun begitu menjelang sore, awan hitam terlihat bergumulu dan membentuk curah hujan yang teramat deras.
Wawan mengerjakan mata, rumahnya masih dalam keadaan gelap. Saat lampu menerangi ruangan ternyata dia baru sadar kalau hari sudah malam.
Bergegas dia ke dapur dan menyiapkan makan malam. Saat sudah matang, dia menghampiri kamar dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Sekali lagi Wawan ketuk namun jawaban sama yang ia dapat.
Kawatir terjadi yang tidak-tidak pada istrinya, Wawan dobrak pintu yang haya dikunci menggunakan slot biasa. Ruangan kamar sama gelapnya seperti tadi, hanya terasa hembusan angin dari jendela yang masih terbuka.
Saat lampu menyala, di situlah Wawan tidak menemukan istrinya. Tas yang tadi di abwa snah istri juga tidak ada. Hanya ada jendela yang terbuka sangat lebar. Istrinya kabur lagi.
__ADS_1
Allah, Wawan mengusap wajah dengan cara kasar. Sofia benar-benar menguji kesabarannya. Harus kemana dia mencari, di luar juga hujan turun begitu deras. Petir dan kilat tak mau kalah untuk menunjukan kekuasaan Tuhan.