Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Ardo Menggila


__ADS_3

"A...ardo?"


"Halo manis,kita bertemu lagi." Ardo menampilkan senyum lebarnya,bertolak belakang dengan wajah Iris yang malah terlihat shock berat.


"Apa yang membuatmu datang pagi-pagi ke sini? Bukankah sudah ingatkan untuk tidak menemuiku lagi? Kau tuli ya?"


"Wow..,wow..,calm down baby. Aku hanya ingin bertandang,kenapa marah-marah begitu?" Ardo menatap mantan tunangannya itu dengan tatapan dan senyuman yang menjengkelkan.


"Apa aku boleh masuk?" Tanyanya lagi dengan tak tahu diri.


Iris melotot tak suka dengan tingkah polah Ardo pagi itu. Tangannya terangkat dan menunjuk ke luar gerbang.


"Pergi kau dari sini!! Aku tidak sudi menerima tamu sepertimu!"


Iris mengusir Ardo dengan nada tinggi.


Bukannya pergi,Ardo malah nyelenong menggenggam tangan Iris dan membalikkan badannya secara paksa.


"Oh ayolah Iris,aku ini hanya mantanmu. Bukan pengintai yang ingin membunuhmu,tidak usah memasang pertahanan berlebihan seperti itu."


Ardo berkata sembari merangkul bahu Iris dan membuat seolah-olah ia dan Iris memang berjalan dalam posisi mesra.


"Blizzt.." Kilatan lampu kamera berhasil mengabadikan momen barusan tanpa siapapun sadari.


"Bagus..,bencana akan segera datang di rumah tangga mu yang baru seumur jagung itu." Batin seseorang yang saat ini tengah memasang senyuman tipis sembari melangkah pergi meninggalkan bangunan yang sedari tadi ia intai.


Sementara itu di dalam rumah...


Iris mati-matian melepaskan dirinya dari rangkulan Ardo dan bersiap untuk memukul pria brengsek itu dengan tangannya.


"Grep.." Ardo menahan pergelangan tangan Iris dan mencengkramnya dengan kasar.


Ditariknya tubuh ringkih Iris kemudian dihempaskannya ke dinding.


"Sudah ku peringatkan Iris,bersikap sopanlah sedikit. Aku sudah bersabar menghadapi segala keangkuhan dan sikap sok jual mahalmu itu. Pembantu saja kau nikahi,kenapa aku kau tolak? Berapa sih harga dirimu sampai bisa bersikap sesombong ini??"


"Plak..."


Tangan kanan Iris yang tidak di cengkram berhasil mendarat mulus di pipi Ardo.


Kebencian,amarah dan dendam semakin berkobar di kedua mata Ardo. Pria itu mengeraskan rahangnya kemudian menarik kasar rambut Iris.


"Berani kau menamparku hah?? Mau ku patahkan tangan mu??"


Ardo mencengkram lagi tangan kanan Iris dan menaruhnya di atas kepala membuat pergerakan gadis itu semakin sulit.


"Ardo lepaskan aku!!"

__ADS_1


Iris meronta-ronta dengan segala upaya,berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Ardo.


"Ardo l..lepas.." Iris berbicara dengan suara tersengal-sengal.


"NEVER!!"


Ardo membentak Iris dengan nyaring,dan setelahnya ia menempelkan,tidak tepatnya memghimpitkan tubuh Iris ke dinding dengan posisi tubuhnya lah yang mengunci pergerakan Iris.


Bahkan kini kedua kaki munggil Iris ia jepitkan di antara kakinya dan itu berhasil membuat Iris tak bisa memberontak lagi.


Gadis itu mulai terisak takut saat merasakan kegilaan Ardo yang sepertinya sudah lewat batas.


Apalagi kini tatapan Ardo padanya berubah,yang tadinya penuh amarah berubah jadi tatapan penuh nafsu,seolah siap memangsa Iris saat itu juga.


"L..lepas.." Iris masih berusaha menghiba pada Ardo dengan sisa-sisa keberaniannya.


Ardo tersenyum smirk. "Tidak usah takut begitu sayang,aku akan melepaskanmu setelah kita selesai bermain-main. Lagipula memangnya kau tidak mau merasakan kehangatan dari cinta pertamamu ini?"


Iris menggeleng cepat dengan air mata yang sudah berlinang.


"J..jangan,A..ardo,a..aku mohon." Iris benar-benar sudah kehabisan akal.


Namun Ardo tetaplah Ardo,ia tidak akan melepaskan Iris semudah itu. Apalagi posisi Iris saat ini sudah sangat pasrah,mudah baginya untuk melancarkan aksinya.


Dilumatnya bibir merah muda milik mantan kekasihnya itu dengan brutal.


Merasakan penolakan berkali-kali dari Iris membuatnya melampiaskan emosinya dengan cara semakin menekan tubuh Iris ke dinding membuat gadis itu kesulitan bernapas.


Isakan dari bibir Iris membuat Ardo semakin puas. Di gigitnya kuat-kuat bibir merah muda milik Iris,hingga rasa anyir terasa di dalam mulut keduanya.


Namun walaupun sudah membuat Iris menderita dengan segala perbuatannya,Ardo belum juga puas. Kondisi Iris kian melemah,gadis itu merasa pasokan oksigen di tubuhnya semakin menipis.


"Bug.." Cengkeraman tangan Ardo terlepas bersamaan dengan meluruhnya tubuh Iris ke lantai.


Ardo tersenyum puas.


"Kena kau Iris Maharani,hari ini aku bersumpah akan menjadikan dirimu milikku sepenuhnya."


Ujar Ardo sembari menggendong tubuh ringkih Iris yang sudah tak sadarkan diri untuk di bawa ke dalam salah satu kamar yang ada di rumah itu.


♡♡♡


Tujuh jam kemudian...  (kenapa tujuh jam ceunah? Ya lu pada hitung aja kerja masuk jam 08:00 pulang jam 16:00 berati delapan jam wkwk:)


♡♡♡


7,5 jam kemudian..

__ADS_1


"Ting.." Suara notifikasi ponsel dari atas meja kerjanya membuat Damar yang tadinya sedang fokus mengisi data-data perusahaan ke dalam komputer,mengalihkan atensinya pada benda pipih yang layarnya sudah kembali padam setelah tadi sempat menyala.


Sambil melonggarkan dasinya,Damar meraih benda pipih tersebut dan menyalakan kembali layarnya. Terlihat nama seseorang yang ia kenali terpampang di sana.


"Nona Imelda? Mengirimi sebuah file dokumen? Tumben lewat wa,biasanya juga dari email." Gumam Damar sembari membuka file dokumen berbentuk pdf tersebut Damar meraih gelas berisi minuman yang ada di atas meja kerjanya dan mulai meneguknya.


"Ptfftt..." Belum juga tertelan dengan baik,minuman tersebut sudah kembali Damar semburkan saat matanya menangkap gambar yang muncul di layar handphonenya itu.


"Nona Iris,dan..." Otak Damar loading sejenak.


Pdf tadi ternyata menampilkan gambar seseorang yang tak lain adalah Iris istrinya yang terlihat tengah berangkulan dengan seseorang dan dari lokasi yang Damar liat,latar foto tersebut diambil tepat di depan pintu rumahnya.


"Siapa pria itu?" Batin Damar bertanya-tanya.


"Ah sudahlah,daripada aku penasaran lebih baik aku pulang saja." Ujar Damar pada dirinya sendiri. Di liriknya jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 15:30 yang artinya setengah jam lagi jam pulang kerja tiba.


"Tak apalah,pekerjaan sisa bisa aku kerjakan nanti malam di rumah. Hanya tinggal menyalin filenya saja." Gumam Damar lagi.


"Aku lebih penasaran pada sosok pria yang bersama nona Iris pagi tadi,aku yakin itu bukan aku. Tapi siapa dia?"


Damar benar-benar di buat pusing dengan gambar yang barusan ia lihat.


"Aku benar-benar harus pulang sekarang!"


Damar segera bangkit dari tempat duduknya dengan gerakan yang benar-benar terburu-buru.


"Brukk.."


Sebuah kotak jatuh karena taj sengaja di senggol oleh Damar.


Damar berdecak kesal.


"Ckk,apalagi ini." Decak Damar sambil berjongkok untuk mengambil benda yang barusan ia jatuhkan.


"Foto?" Gumam Damar saat melihat benda berserakan yang baru saja jatuh dari dalam kotak tadi.


Dengan pelan Damar membalikkan foto yang tadi jatuh dan matanya dibuat terbelalak untuk yang kedua kalinya.


"Brak...!!"


"PENGHIANAT!!!


♡♡♡


Jangan lupa makan,tidur,dan mandi sore ya guys....


Biar gak emosi wkwkw

__ADS_1


__ADS_2