
Sinar matahari mulai memasuki celah-celah gorden di sebuah kamar,pemilik kamar itu terlihat terusik dan kemudian membuka matanya dengan berat.
Pemilik kamar itu tak lain adalah Damar,dia sudah lebih dulu bangun karena merasakan badannya remuk redam akibat di timpa beban dari tubuh Iris yang menindihnya hampir semalam suntuk. Baru menjelang subuh tadilah Iris turun dari atas tubuhnya.
Namun bukan berati ia memberi jarak bagi Damar,ia malah memperlakukan Damar sebagai bantal gulingnya membuat pria itu setengah mati menahan pusing yang muncul akibat gairahnya terpancing.
Pelan-pelan Damar menurunkan kakinya dari kasur lalu beranjak menuju ke pintu kamar mandi dengan hati-hati.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi,ia beranjak menuju pintu.
"Ceklek...,ceklek..."
Berulang kali Damar mencoba membuka pintu,namun rupanya pintu terkunci.
Damar langsung memasang muka masam saat teringat akan sesuatu.
"Sial. Aku lupa kalau kuncinya ada di dalam benda laknat milik nona Iris. Cih,kurang ajar sekali. Ck..,kalau begini bagaimana aku bisa keluar?" Batin Damar sambil membalikkan badannya dan menatap kesal ke arah sosok gadis yang masih terlelap di kasurnya itu.
"****!! Sepertinya memang tidak ada cara lain. Aku harus membangunkan nona Iris sekarang. Karena kalau tidak,aku tidak akan bisa keluar kamar ini dan bisa saja aku terlambat bekerja." Batin Damar.
Damar pun berjalan pelan-pelan mendekati tempat Iris berbaring dan setelah berdiri di samping Iris,ia pun mengguncang bahu gadis itu dengan pelan.
"Nona Iris...,bangun!" Panggil Damar dengan volume suara yang dinaikkan.
Iris terlihat sedikit terusik,namun bukannya bangun ia malah membalik badannya membelakangi Damar dan kembali tidur.
Damar melotot tak percaya dengan kelakuan Iris.
"Astaga,apa gadis ini pantas disebut istri?" Batin Damar. "Lihat kelakuannya,dibangunkan bukannya bangun malah balik memunggungiku. Istri macam apa gadis ini?"
"Ckk..,merepotkan sekali." Batin Damar lagi.
Damar menarik paksa bahu Iris hingga kini gadis itu berada dalam posisi terlentang. Setelah itu Damar meraih kedua tangan Iris dan menariknya kuat-kuat hingga gadis itu terduduk dan terbangun dengan raut wajah linglung.
"A..ada apa Damar??" Tanya Iris bingung dengan raut yang masih mengantuk.
"Kunci kamar saya, nona! Berikan pada saya,saya harus menyiapkan sarapan dan setelah itu berangkat ke kantor. Jadi tolong kembalikan kunci kamar saya.."
Iris berdecak sembari membaringkan tubuhnya lagi dengan posisi terlentang.
"Ck...,kau itu! Aku kira ada masalah apa." Ujar Iris dengan kesalnya.
Damar menggeleng heran dengan kelakuan Iris.
"Harusnnya kan aku yang kesal. Bukan dia." Batin Damar.
__ADS_1
"Nona.."
"Kau ambil saja sendiri..." Suruh Iris sambil memajukan dadanya ke hadapan Damar.
Seketika itu Damar refleks menghindar dan melompat mundur dua langkah ke belakang. Ia menatap Iris dengan tatapan melotot.
"Yang benaran sajalah nona. Becanda anda ini tidak lucu. Saya benar-benar membutuhkan kunci pintu kamar saya nona,tolong kembalikan tanpa membuat ulah."
"Tidak bisa. Kalau kau mau kuncinya,ya kau harus ambil sendiri. Lagipula aku ini istrimu,kenapa kau takut menyentuhku? Memangnya ada duri di sini?" Tanya Iris sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri.
Damar mendengus kesal. "Sayangnya benda itu lebih berbahaya dari duri nona,benda itu lebih pantas disebut nuklir dan saya tidak mau meledak karena menyentuhnya. Dasar nona muda gila!!" Batin Damar sambil menatap Iris dengan tatapan sinis,bengis,tajam seolah ingin menguliti Iris.
Iris ikut menatap Damar dengan tatapan tajam dan sengit.
"Apa? Kau takut kan pada dadaku..?"
"Tidak!!"
"Lalu kalau tidak takut,kenapa tidak kau ambil sendiri kuncinya?"
"Saya tidak bisa,karena kuncinya ada di dalam 'barang pribadi' milik nona."
"Aku kan istrimu,berati 'barang pribadi' yang kau maksud itu milikmu juga bodoh!"
"Tidak nona! Barang pribadi itu milik anda. Saya punya barang pribadi sendiri.."
Damar melotot. "Jangan kurang ajar nona!"
"Ishh,pelit sekali!"
Iris memberenggut kesal sambil mendudukkan tubuhnya menghadap ke arah Damar dengan bibir manyun.
Sebelah tangan Iris masuk ke dalam bajunya sendiri,dan mengobrak-abriknya sebentar namun raut wajahnya perlahan berubah jadi bingung.
"Damar? Kuncinya tidak ada? Apa kau yang mengambilnya?" Tanya gadis itu dengan bingung.
Damar menggeleng dengan tatapan kesal.
"Aku tidak sekurang ajar itu nona. Lagipula kenapa juga anda harus menyimpan kunci saya di dalam sana?" Sambil menunjuk dada Iris. "Seperti tidak ada 'tempat' lain saja."
Iris mendengus. "Ya mau bagaimana lagi? Memangnya kau mau aku menyimpannya dimana? Di dalam celana dalamku?"
"TIDAK!!" Bentak Damar dengan ekspresi yang benar-benar geram.
"Huh!! Nona anda ini memang biang masalah. Sekarang lihatkan? Karena perbuatan nona,kita terkurung di sini. Kalau saya sampai terlambat datang ke kantor,saya akan menghukum nona!"
__ADS_1
"Oh iya?" Tantang Iris dengan berani.
Damar tak menjawab dan memilih putar balik menuju nakas. Ia membuka laci nakas tersebut untuk mencari sesuatu.
Iris yang melihat Damar mengabaikan dirinya dan sibuk sendiri menjadi kesal,ia buru-buru turun Damar dan menepuk pundak pria itu dengan keras.
"Kau mencari apa sih??" Tanya Iris dengan tak santai.
"Kunci cadangan.." Jawab Damar sambil membuka sebuah kotak dan mengambil kunci dari dalam sana.
Setelah itu Damar berjalan kembali menuju pintu dan Iris lagi-lagi mengintili dirinya.
"Lah,kau punya cadangan kunci kamar? Lalu kenapa semalam kau tak menggunakannya untuk keluar?"
"Saya lupa." Jawab Damar dengan nada datar.
"Benar juga ya,kenapa aku bisa melupakan hal seperti ini semalam. Cih dasar otak lemot." Batin Damar mengumpati dirinya sendiri.
Iris tertawa melihat raut Damar yang terlihat kesal. Baginya di saat-saat seperti itulah ketampanan Damar nambah berkali-kali lipat.
Iris mengikuti Damar keluar dari kamar hingga sampai ke dapur.
"Kau mau membuat sarapan?" Tanya Iris saat melihat Damar membuka kulkas.
Damar mengangguk.
"Biar aku bantu!"
Iris berlari ke tempat Damar berdiri dan ikut menahan pintu kulkas agar dia bisa ikut melihat bahan-bahan yang ada di dalam kulkas.
Damar memundurkan tubuhnya sedikit agar tidak terlalu dekat dengan Iris.
Gadis itu juga terlihat mengerut-ngerutkan alisnya saat meneliti isi kulkas.
"Damar,bagaimana kalau kita buat sandwich goreng. Seperti yang sering di buat bi Yanti di rumah. Bisakah?"
Damar menghela napasnya dengan berat. "Nona mau?" Tanyanya dengan nada rendah.
Iris mengangguk cepat. "Mau,kau mau membuatkannya untuk ku?" Tanya Iris tak tau diri.
Damar mencebikkan bibirnya seketika.
"Huh. Istri macam apa anda ini nona,meyedihkan sekali." Cibir Damar.
Raut wajah Iris seketika berubah jadi manyun.
__ADS_1
♡♡♡
Jangan lupa jejaknya guys...