Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Gone


__ADS_3

"KELUAR DARI RUMAH INI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI! BESOK AKAN AKU URUS BERKAS PERCERAIAN KITA!!"


"Deg..."


Hati Iris seketika tercabik mendengar penuturan sang suami yang begitu menyayat. Seumur mereka tinggal serumah,baru kali ini ia mendengar Damar berbicara kasar dan dengan nada sekeras ini.


Iris tak menyerah,diraihnya dengan pelan jemari Damar yang tadinya mencengkram rahangnya lalu di genggamnya. Ia ikut berdiri berusaha mensejejarkan tubuhnya dengan tubuh tinggi Damar walau akhirnya ia harus mendongak agar bisa menatap wajah itu.


"Damar,aku minta maaf. Aku menutupi masalah kedatangan Ardo dari mu,aku tau aku salah. Tapi untuk hal lain yang kau pikirkan,harus ku luruskan. Aku sama sekali tidak melakukan apapun dengannya seperti yang kau pikirkan Damar. Dia tadi memang ke sini tapi kami hanya..."


Iris menghentikan sejenak kalimatnya. Sembari memejamkan matanya.


"Huh,bagaimana aku menjelaskan pada Damar. Dia tengah emosi,dan dia pasti marah jika tau Ardo sempat menciumiku bahkan hampir melakukan hal tak senonoh padaku. Tapi demi apapun,aku ingat betul jika tadi sebelum aku pingsan aku..."


"Kenapa diam??" Suara dingin Damar membuat Iris tersadar dari lamunannya.


"Kenapa? Kau tidak bisa menjelaskan apapun iya kan?" Damar kembali mengintimidasi Iris.


"Sudahlah Iris,sekarang sebaiknya pergi dari sini dan tidak usah mendrama lagi. Sudah cukup bukan? Suami yang kau idam-idamkan sudah kembali bukan? Apalagi yang kau tunggu?"


"Pergilah dan hidup bahagia dengan dia yang memang pantas membahagiakan mu!"


Iris menggeleng,"Damar,tidak begitu. Aku.."


"KELUAR!!"


"Damar tapi..."


"KELUAR IRIS!!!" Pria itu semakin meninggikan nada bicaranya.


"Damar aku.." Iris berusaha menyentuh tangan pria itu namun langsung di tepis.


"Jangan berani menyentuhku. Aku tidak pantas,aku hanya laki-laki hina. Seorang pelayan yang beruntung bisa menikahi majikan walau sebagai pengantin pengganti dan sekarang majikannya itu sudah menemukan tempat seharusnya. Jadi sekarang keluar lah! Keluar dan kembalilah ke tempat dimana seharusnya dirimu berada."


Iris tidak bergeming dari posisinya. "Aku tidak mau!!"


"Grep..."


Damar mengcengkram bahu Iris dan memutar badannya dengan paksa. Detik berikutnya ia meraih koper yang ada di lantai dan menyeretnya beserta tubuh Iris hingga keluar pintu.


"Brukkk..."


Tubuh Iris dihempaskan dengan kasar oleh Damar hingga gadis itu jatuh terlentang.


Nyali Iris seketika ciut. Baru kali ini Damar berlaku sekasar ini.

__ADS_1


"PERGI!! DAN JANGAN PERNAH TUNJUKKAN MUKA MU DIHADAPAN KU LAGI!!"


Iris menggeleng dengan air mata beruraian.


"Aku tidak mau pergi! Kau sudah berjanji padaku akan menjaga dan melindungi aku sebagai istrimu. Aku mohon jangan usir aku.."


Iris menangis tersedu-sedu sembari beringsut dan berlutut kembali di hadapan Damar.


"Aku mohon.." Lirihnya terisak-isak.


"Brukk.." Dengan kasar,Damar menghempaskan tubuh Iris ke lantai.


"Sudah ku bilang tidak usah mendrama. Kehidupan mu memang lebih baik tanpa kehadiranku. Pergilah."


Setelah mengatakan hal itu Damar berlalu memasuk dan menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan suara yang memekakan telinga.


Iris belum kapok,dengan sisa-sisa tenaganya ia bangkit lagi. Menggedor-gedor pintu seperti orang gila.


"Damar buka pintunya,aku mohon..."


"Damar..! Aku tahu aku salah karena membiarkan dia memeluk dan menyentuhku tapi sungguh dia tak sampai berbuat lebih padaku. Percayalah!"


Damar!!"


Iris menangis sejadi-jadinya saat tak ada tanda-tanda Damar akan membukakan pintu baginya.


"Hiks.." Iris sesegukan saat Damar benar-benar mengabaikannya.


Di lihatnya buku tangannya mulai lecet karena sedari tadi terus mengedori pintu kayu tersebut.


Dengan tertatih Iris berusaha bangun dari posisinya. Kakinya terasa kebas,keram dan juga perih. Di lihat lututnya mengeluarkan darah karena beberapa kali terjadi,punggungnya juga terasa nyeri karena tadi sempat jatuh terlentang akibat di dorong oleh Damar.


"Bug..." Iris mendudukkan tubuhnya di atas koper yang sudah ia geser ke dinding. Ia bersandar di sana sembari memejamkan matanya.


"Aku tidak akan pergi! Aku akan tetap di sini sampai Damar membukakan pintu dan mengizinkan aku masuk lagi." Batin gadis itu dengan yakin.


Waktu terus berlalu hingga jam di tangan Iris menunjukkan pukul delapan malam yang artinya sudah lebih dari dua jam ia duduk di teras rumah itu.


Badannya mulai mengigil kedinginan.


Iris memang memiliki alergi dingin dan akan semakin menjadi bila terpapar udara dingin seperti saat ini.


"Hacimm...,hacimmm,hacim..." Gadis itu mulai bersin-bersin saat hembusan angin semakin kencang menerpa tubuhnya.


Bintil-bintil merah mulai bermunculan di telapak tangan dan kulit tangannya. Wajah gadis itu juga terasa tebal dan membengkak seiring rasa gatal yang kian menjalar di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Hacimm..." Suara bersin kembali terdengar bersamaan dengan itu,rintik hujan mulai terdengar.


Iris memejamkan matanya untuk yang kesekian kalinya.


"Jeduaarrr..." Suara guntur terdengar membuat jantung gadis itu terpacu kencang.


"Da..-m-mar..


"Tok..,tok...,tok.."


Gadis itu menggeser tubuhnya sedikit dan mulai menggedor-gedor pintu lagi.


"Damar,biarkan aku masuk. Aku kendinginan." Ujar gadis itu dengan nada lirih,nyaris tak terdengar.


"Da..-mm-mar..,a..aku k..ke-..dinginan.." Gadis itu merasakan napasnya mulai sesak.


Rasa pusing juga mulai menjalari kepalanya.


"Damar buka pintunya!!" Kali ini gadis itu berteriak dengan sisa-sisa tenaganya.


"Kring..."


Sebuah kunci mobil terlempar tepat di depan kaki Iris.


Terlihat Damar membuka tirai jendela dan menatap Iris sekilas.


Iris segera bangkit dan menggedor-gedor jendela kaca tersebut dengan sisa-sisa tenaganya.


"Damar,izinkan aku masuk!!"


"Bug..,bug..,bug.."


Iris menggedor-gedor pintu kaca tersebut dengan sekuatnya. Hujan makin deras dan tubuh Iris kini sudah sepenuhnya basah terkena bias hujan.


"Hiks,hiks.." Gadis itu terisak lagi saat Damar sama sekali tak mempedulikannya.


Dengan perlahan Iris memundurkan tubuhnya dan kembali ke tempat dimana kopernya tadi berada.


Diraihnya koper berwarna biru muda tadi dan diseretnya keluar teras bersamaan dengan langkahnya yang sudah menerobos hujan dan entah akan di bawa kemana.


♡♡♡♡


Tim mana kalian


Tim Damar apa tim Iris?

__ADS_1


Apa tim gebukin Amel dan Ardo yang udah bikin Damar sama Iris berantem?


Atau tim otor aja,yang paling baek sejagat raya karena udah UP dua bab mwhwhehe😌


__ADS_2