
"Aku tidak tau bagaimana persisnya Damar yang ku tahu saat aku bangun di pagi hari. Aku sudah kehilangan sesuatu yang paling aku jaga."
Tak ada perubahan raut apapun seolah Iris memang sudah sangat mengikhlaskan hal tersebut untuk Ardo miliki.
"Kau tidak ingin bertanya apa aku menyesalinya?"
Iris kini beralih pada Damar yang tak menunjukkan ekspresi yang berbeda jauh darinya.
"Aku?" Damar bertanya sembari menegakkan duduknya.
Iris mengangguk.
"Sesuai pertanyaanmu tadi. Bagaimana perasaanmu hari itu?"
"Hari itu ya?" Iris terlihat menerawang ke langit-langit rumah. "Kalau kau bertanya tentang perasaanku hari itu,aku jujur tak menyesal karena begitu aku bangun aku masih mendapati Ardo ada di sisiku diapun langsung mengatakan akan bertanggung jawab bahkan siang setelahnya ia mengajak aku terbang ke Swiss menemui orangtuanya."
"Hari itu menjadi hari resmi kami memulai sebuah hubungan. Memang awalnya dilandasi rasa tanggung jawab,tapi pada akhirnya kejadian itu membuat kami saling mencintai."
"Awalnya,sampai pada kejadian beberapa bulan lalu dimana Ardo lari dari tanggung jawabnya."
"Orangtuamu tau?"
Iris menggeleng. "Tidak."
"Tidak?"
__ADS_1
Iris mengangguk yakin. "Ya,mereka tidak pernah tau bahkan sampai sekarang. Bahkan ada satu hal lagi yang selama ini belum aku beritahu baik itu orangtuaku maupun denganmu."
"Apa?"
"Alat kontrasepsi. Aku memakai itu untuk mencegah kehamilan."
"Kau belum melepasnya sampai sekarang?"
"Belum." Ekspresi Iris kini sedikit berubah. Seperti menyesali perbuatannya.
Melihat raut wajah Iris yang kini sudah berubah. Damar menggeser kursinya sembari mengamit piring kosong lalu membawanya menuju wastafel.
Setelah meletakkannya di pinggiran wastafel,Damar kini memutari meja lalu menaruh kedua tangannya di pundak Iris membuat perempuan itu lantas mendongakkan kepalanya.
"K..kau marah?" Tanya Iris dengan raut biasa seolah siap jika Damar memang akan memarahinya.
Bola mata Iris sedikit terbelalak mendapati jawaban yang tidak ia duga tersebut.
"Kenapa tidak marah?" Tanya Iris heran.
"Mau marah untuk apa? Tidak bisa membalikkan keadaan juga. Kecewa itu pasti,tapi untuk marah lalu memutuskan untuk berpisah itu terlalu konyol untuk dilakukan. Bagiku pernikahan itu sakral,sekali seumur hidup. Kecuali kau hamil anak pria brengsek itu. Jika itu terjadi aku memang berpikiran untuk berpisah dan menyerahkan tanggung jawab padanya karena itu haknya. Itupun jika ia bisa bertanggung jawab."
Mendengar jawaban Damar yang benar-benar di luar dugaannya. Iris tak bisa lagi menyembunyikan rasa terharunya.
Perempuan itu turut beranjak dari kursinya dan berbalik memeluk Damar dengan erat.
__ADS_1
"Terimakasih. Terimakasih karena mau tetap menerimaku dengan segala kekurangan bahkan keburukan masa lalu yang aku punya. Aku mencintaimu."
Iris terdiam sejenak. Damar tak membalas ucapannya namun walau begitu,Iris bisa merasakan usapan balasan di punggungnya dari tangan pria itu.
"Besok,sepulang bekerja aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit untu melepas alat kontrasepsi yang kau gunakan."
Iris mengangguk.
Setelah mendapat respon yang diinginkan,Damar pun mendorong pelan tubuh Iris hingga pelukan mereka terlepas.
"Kembalilah dulu ke kamar. Atau jika merasa bosan di kamar,kau boleh menonton tv atau melakukan aktivitas apapun yang kau mau."
Iris memandang Damar heran.
"Memangnya setelah ini kau mau kemana?"
"Aku ada keperluan sedikit dengan nona Rima dan barusan dia mengabariku untuk menemuinya."
Setelah berkata seperti itu Damar langsung berbalik keluar dari ruang dapur dan menghilang dari balik dinding.
"Bertemu dimana?"
Iris bertanya beberapa detik sebelum Damar menghilang dari balik pintu. Pertanyaan Iris sayangnya tak mendapatkan jawaban karena Damar sama sekali tidak menoleh padahal Iris yakin pria itu pasti mendengarnya.
"Sikapnya berubah lagi."
__ADS_1
♡♡♡