
Hai readers...
Maaf untuk ketidak-update-annya selama tiga hari ya kalau gak salah?
Saya sakit dan benar-benar butuh bedrest total karena di serang maag,tipes dan flu.
Hari ini juga sebenarnya masih sakit,cuma udah lumayan lah. Udah gak separah kemarin,dimana kemarin aku sama sekali gak bisa nerima makanan masuk ke tubuhku dan alhasil aku gak punya tenaga. So buat hari ini,setelah tadi pagi berhasil masukkin sedikit asupan berupa makanan,aku akhirnya punya tenaga dan up.
Doain aku sehat2 terus biar gak ghostingin kalian ya...
Sekali lagi maaf🙏🙏
♡♡♡
Sepasang mata tajam menyorot dari balik jeruji kala kedatangan dua orang yang ia benci muncul di depan ruang tahanannya siang itu.
"Mau apa kalian kemarin??" Pertanyaan bernada penuh amarah itu langsung menyambut kedatangan Damar dan Iris.
Iris yang masih ketakutan refleks bersembunyi di balik tubuh tinggi Damar,sementara Damar yang merasa musuh di depannya ini menakuti istrinya langsung memasang tatapan tajam penuh intimidasi.
"Kau sudah di dalam penjara tuan Ardo. Turunkan sedikit kearoganan mu itu. Tidak seharusnya kau membentak,kau pantas berada di sini karena sudah berani menganggu istriku."
Mendengar pernyataan Damar,Ardo lantas terkekeh lalu detik berikutnya ia tertawa lantang. Entah apa yang lucu,tapi yang jelas pria itu tertawa hingga terbatuk-batuk dan itu berhasil membuat Damar memutar bola matanya dengan malas.
"Tuan Ardo,jika berada di penjara membuatmu jadi gila. Rasanya aku tidak keberatan jika harus mencarikan psikiater sekalian untuk merehabilitas kejiwaanmu di sini."
Ardo mengentikan tawanya kemudian menatap Damar sinis.
"Siapa yang gila? Kau mengatai ku gila?"
"Hai Damar,asal kau tau. Barusan aku tertawa karena ucapanmu. Ucapanmu lucu,apa kau sadar?"
"Kau mengklaim Iris adalah istrimu dengan nada yang sangat yakin. Lantas bagaimana kau tau kalau Iris benar mau kau jadikan istri?"
"Bukankah dia menikahi terpaksa karena hari itu aku tak datang? Hei Damar,biar ku beri tahu sedikit fakta."
"Iris gadis yang manja dan boros,mana sanggup dia menghabiskan seumur hidupnya denhan pria miskin seperti mu. Kelakukannya saat ini hanya pencintraan. Lihatlah beberapa bulan ke depan,istrimu yang setengah mati kau bela ini akan mengkhianatimu."
"Dia hanya sedang menunggu waktu. Begitu timingnya pas,blammm. Kau akan ditinggalkan bersama dengan kemiskinan..."
__ADS_1
"OMONG KOSONG!!" Bak mendapat keberanian dari seseorang. Iris tiba-tiba keluar dari balik punggung Damar dan memotong ucapan Ardo dengan hardikannya.
"Aku bukan gadis seperti itu,berhenti memfitnah dengan mengatakan yang tidak-tidak tentang aku!" Tegas Iris lagi.
"Wow.." Ardo mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan meledek.
"Aumanan mu terlalu lemah sayang,aku sama sekali tidak takut mendengarnya dan satu lagi. Apa tadi kau bilang? G..gadis?"
"Atas dasar apa kau berani bilang jika dirimu masih gadis?"
"Oh ayolah Iris,jangan bilang kau belum mengatakan hal ini pada suami mu ya??"
Ucapan Ardo berhasil membuat Damar yang tadinya menatap Ardo dengan tajam kini mengalihkan pandangannya ke arah Iris lalu menatap gadis itu dengan tatapan menuntut penjelasan.
Melihat hal itu,Ardo kembali tertawa lantang.
"Wow..,wow...,sesuai dugaanku. Ternyata mantan tunanganku ini belum seterbuka itu pada suaminya ya? Jadi bagaimana Damar? Mau di lanjutkan?"
Ucapan Ardo berhasil membuat Iris mengangkat kepalanya dan memandang Ardo dengan tajam.
"Tutup mulutmu Ardo! Tidak perlu mencari pembelaan dengan mengungkit masa lalu!"
"Kasihan suami mu Iris. Di bohongi oleh rupa mu,tuturmu dan tingkah laku mu yang sok baik itu,padahal kenyataannya saat kau kuliah di Amerika dulu. Kau sudah kehilangan kegadisanmu,lantas bagaimana kau dengan lugasnya mengatakan dirimu itu masih gadis?"
"Memangnya kau yakin? Jika yang dulu aku tiduri itu bukan kau,Iris Maharani Bagaskara?"
Bagai tersambar petir di siang bolong Damar kini menatap nanar ke arah sang istri. Kedatangannya ke sini harusnya untuk memperingatkan Ardo yang sudah berani menganggu istrinya,namun di luar dugaannya. Bukannya menang atas sang rival,Damar justru kembali di tampar oleh keadaan serta fakta yang baru saja ia dengar.
Dengan sangat susah payah,Damar membalikkan badannya yang mendadak mati rasa lalu setelahnya berjalan pelan meninggalkan ruang tahanan tempat dimana Ardo berada.
Di sisi lain Ardo tertawa penuh kemenangan sedangkan Iris menatap benci ke arah laki-laki yang kini menatapnya penuh kemenangan.
"Aku benar-benar membencimu Ardo!!" Teriak Iris di depan jeruji tahanan Ardo. Dengan kedua tangannya Iris mencoba memukuli Ardo,namun sayangnya keberadaan pagar jeruji membuatnya niatnya tak bisa terealisasikan.
"Mau apa lagi nona? Tidak usah membuang tenagamu untuk memarahiku. Bagaimana kalau kau kejar suami mu? Aku yakin dia pasti sangat terpukul saat ini."
Iris yang tadinya di liputi emosi ingin menghajat Ardo,kini terdiam. Setelah menarik dan menghembuskan napasnya selama beberapa kali,Iris akhirnya berlalu pergi tanpa mempedulikan Ardo yang sedari tadi meledeknya dengan penuh kemenangan.
"Jangan pernah melupakan keadaan malam itu Iris! Kau sangat **** kala itu,dan kalau kau mau berbaik hati mengeluarkan aku dari sini. Aku mau bertanggung jawab untuk kejadian malam itu dengan menikahimu. Lagi pula aku yakin,sebentar lagi suami mu itu akan menceraikan mu."
__ADS_1
"Suami mu akan menceraikan mu Iris!! Aku yakin itu!!"
Teriakan Ardo semakin menjadi-jadi saat mendapati Iris tak menggubrisnya. Bahkan jeruji besi tempatnya di tahan pun menjadi sasaran pelampiasan emosinya dan kelakuan Ardo siang itu berhasil membuat polisi marah sehingga dirinya di pindahkan ke ruangan yang lebih sempit lagi.
♡♡♡
Sementara itu di luar kantor polisi,Iris telah keluar untuk menyusul Damar dan saat di parkiran ia melihat keberadaan mobilnya masih di tempat parkir. Namun sesuatu yang berada di atas kap mobil berhasil menarik perhatian gadis itu.
"Kunci mobil." Gumam Iris.
Ya benda yang berada di atas kap mobil itu adalah kunci mobil miliknya yang tadi di bawa Damar.
Iris yakin Damar sengaja meninggalkan kunci mobil tersebut di sana sedangkan untuk Damar,Iris sangat yakin jika pria itu sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
Iris mencoba tenang dengan menghubungi Damar,namun sayangnya sampai empat kali panggilan ia lakukan,Iris tetap tak mendapatkan respon yang ia mau. Damar mengabaikannya dengan cara tidak mengangkat telepon.
Kefrustasian mulai terasa,Iris mencoba menghubungi Damar lagi dan kali ini berhasil panggilan terhubung.
Iris lega bukan main,ia mencoba tenang dengan menarik napas beberapa kali sebelum akhirnya berbicara.
"Damar,kau dimana?" Pertanyaan pertama yang Iris lontarkan tak mendapat jawaban. Hanya helaan napas panjang yang beberapa kali terdengar dari balik telepon.
Iris mencoba berbicara lagi. "Damar,halo. Kau mendengar pertanyaanku tidak? Kau dimana sekarang?"
"Damar aku tau kau marah padaku. Tapi tolong jangan diamkan aku seperti ini,kau sudah berjanji semalam. Jika terjadi lagi masalah di antara kita kau akan selalu mendengarkan penjelasanku sebelum bertindak."
"Kau sudah berjanji,tapi kenapa meninggalkan aku sendiri di sini? Kau tau aku baru keluar dari rumah sakit,tanganku sakit terkena infus kemarin dan aku pasti akan kesulitan menyetir."
"Damar kau dengar tidak?"
Iris kali ini bertanya dengan nada membentak.
Lima puluh detik berlalu....
Iris kira Damar benar-benar tidak mendengarkannya namun saat ia hendak mematikan ponsel,sebuah notifikasi muncul di layar handphonennya bersamaan dengan terputusnya sambungan telepon.
From : Suamiku ♡
Tugggu sepuluh menit! Jangan kemana-mana!
__ADS_1
♡♡♡