Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Tunggu Balasanku!!


__ADS_3

"ANDA SIAPANYA SUAMI SAYA??"


Tuding Iris tepat di depan wajah Imelda.


Imelda melotot tajam,tak suka dengan perlakuan kurang sopan yang ia terima.


"Turunkan tangan anda nona! Apa sopan berbicara sambil menunjuk-nunjuk muka orang lain?? Dimana attitude mu?"


"Aku berlaku sopan pada orang yang memang pantas ku sopani." Sahut Iris tak mau kalah.


"Oh ya? Kalau begitu,aku memang pantas kau sopani. Perkenalkan. Aku Imelda,manager pengganti nona Rima,itu artinya aku atasan suamimu!! Apa perlu aku perjelas sekali lagi??"


Imelda mengangkat tangannya dengan pongah,namun sepersekian detik Imelda kembali dibuat terperangah saat Iris dengan kasar menepis tangannya.


"AKU TIDAK PEDULI PADA STATUSMU!! Hanya manager sementara,tapi lagaknya sudah seperti direktur utama. Menjijikan sekali,kalau nona Rima tau manager yang menggantikannya sesombong ini. Aku yakin riwayat mu bekerja pasti akan langsung hilang seketika."


Imelda melotot. "Kau!!" Pekiknya dengan tatapan garang. Satu tangannya terangkat hendak memukul Iris,namun belum sempat ia mengayunkan tangannya. Damar sudah lebih dulu menahan pergerakannya.


"Nona Imelda cukup!! Jangan gunakan tangan anda untuk menyakiti istri saya."


"Dan anda nona Iris,kembalilah ke rumah setelah ini. Bagaimanapun juga saya harus profesional dalam bekerja dan saya harap nona bisa mengerti keadaannya." Pinta Damar dengan nada lembut,berharap Iris lunak dan mau menurutinya.


Ia kemudian beralih pada Imelda dan menunduk hormat pada gadis yang masih memasang muka sinisnya itu.


"Nona Imel,sekali lagi maafkan istri saya ya. Dia hanya sedang dalam mood yang kurang bagus,saya harap nona bisa memakluminya."


Damar berujar pada Imelda dengan penuh hormat.


Ia kemudian melirik lagi pada Iris,gadis itu masih memasang tampang kurang baik terutama saat melihat ke arah Imelda.


"Nona Iris,mari saya antarkan anda ke mobil." Damar mengajak dan langsung bertindak membawa Iris dengan cara menggandeng salah satu tangan gadis itu.


Walaupun terlihat berat melangkah,mau tak mau Iris tetap mengikuti langkah Damar yang mulai berjalan meninggalkan Imelda yang masih diam di tempat dengan tatapan tajam dan tangan terkepal.

__ADS_1


♡♡♡


"Hati-hati di jalan nona,maaf untuk kali ini saya tidak bisa membawa nona bekerja seperti hari kemarin. Bagaimanapun juga,saya harus profesional nona,tak enak dengan karyawan lain jika mereka melihat saya bekerja dengan diawasi istri. Itu bisa menjadi bahan gunjingan bagi saya ataupun bagi nona,jadi saya harap nona mengerti dan tidak tersinggung ya."


Iris mengangguk paham. Nada bicara Damar yang sudah berubah menjadi hangat,lembut dan tidak ketus seperti biasanya berhasil membuat Iris cepat luluh.


"Baiklah suamiku. Aku mengerti! Setelah ini aku akan langsung pulang dan lain kali,jika pun aku mengantarkan bekal untukmu ke sini,aku akan memberitahumu dan jikapun saat itu kau sibuk,aku akan menitipkannya pada dua resepsionis yang ada di lobi. Kau setuju kan?"


Damar hanya mengangguk singkat.


Setelah itu Iris masuk ke dalam mobil dengan masih di iringi tatapan dari Damar ia pun melambaikan tangannya.


"Aku pulang dulu ya,selamat bekerja!!" Pamit Iris.


"Terimakasih nona. Sekali lagi hati-hati dan jika ada apa-apa di jalan ataupun di rumah,segera hubungi saya." Ujar Damar membalas pamitan dari Iris.


Iris mengangguk dan dengan senyuman manis,ia melajukan mobilnya menuju area parkir meninggalkan Damar yang masih mengawasi kepergiaanya.


♡♡♡


Saat membuka pintu,Damar sempat dibuat terpaku dengan keberadaan Imelda di dalam sana.


Gadis yang adalah managernya itu bahkan dengan tidak tau malunya duduk di atas kursi kerja miliknya.


"Huh..,apalagi yang orang ini inginkan??" Batin Damar sembari menarik napas berat.


Dengan perlahan dan terpaksa,Damar akhirnya berjalan mendekati kursi kerjanya dan menatap malas gadis berambut pendek yang sedari tadi memasang tampang centil ke arahnya itu.


"Apa di ruang kerja nona sekarang ada tikusnya? Sampai-sampai nona harus berada terus menerus di ruang kerja saya?" Tanya Damar dengan nada menyindir dan sinis.


Imelda yang mendapat pertanyaan sindiran dari Damar justru tersenyum. "Ishh kau itu! Tidak perlu sinis begitu padaku,lagi pula. Mau aku duduk di sini atau tidak. Itu tidak akan menghalangi mu bekerja bukan?" Tanya Imel dengan tak tau malunya.


Damar mendengus. "Tentu saja mengganggu nona. Yang pertama anda duduk di kursi kerja,yang kedua,komputer,semua dokumen-dokumen dan berkas-berkas yang harus saya kerjakan ada di atas meja itu. Jika nona tetap berada di sana,bagaimana caranya saya bekerja?"

__ADS_1


"Tidak mungkin kan saya harus memindahkan mejanya ke tempat lain agar tidak terhalang tubuh nona. Ayolah nona Imel,mohon pengertiannya. Jangan menambah jam kerja saya dengan segala kelakuan aneh nona. Lagipula jika nona terus-terusan berada di sini,pekerjaan nona akan terbangkalai. Apa nona mau kehilangan pekerjaan karena teledor?"


Ucapan panjang lebar Damar tampaknya agak membuahkan hasil. Terlihat Imelda bangun dari kursi kerjanya dan berjalan pelan mendekati Damar.


Damar lagi-lagi tercekat saat Imelda tiba-tiba meraba kancing-kancing kemejanya lalu menarik pelan dasi yang ia pakai membuat tubuh Damar terhenyak ke depan membentur tubuh Imelda.


"Nona.." Damar berbicara dengan tercekat.


"Sttss..,kau terlalu banyak bicara Damar Pradipta.." Bisik Imelda tepat di daun telinga Damar membuat dada pria itu sedikit berdesir.


Dengan segera Damar mendorong paksa tubuh Imelda dan mundur cepat memjauhi tubuh Imelda.


"Jaga sikap anda nona!! Bagaimanapun anda harus ingat kalau saya ini pria beristri!!" Peringat Damar tegas.


Imelda masih memasang tampang acuhnya.


"Oh ya? Pria beristri? Apa gadis yang kau panggil nona tadi yang kau maksud istri? Apa menurutmu dia pantas? Bukankah dia Iris Maharani Bagaskara? Gadis manja dari keluarga Bagaskara yang di tinggal pergi di hari pernikahannya? Bukan begitu?"


Damar memilih tak menyahut. Ia berjalan melewati Imelda lalu duduk di kursi kerjanya.


Sembari menghidupkan komputernya,Damar pun kembali berbicara.


"Tidak baik ikut campur urusan orang yang bahkan hanya nona kenal namanya. Lebih baik nona kembali ke ruangan nona dan bekerjalah sesuai tugas yang sudah diembankan kepada nona."


"Jangan menjadi pongah dengan jabatan yang nona terima. Nona di sini hanya ditugaskan untuk sementara jadi bekerjalah dengan baik sebelum nona tidak bisa bekerja sama sekali."


"Saya harap nona paham dan tidak tersinggung dengan perkataan saya dan kali ini dengan penuh hormat,saya menunjukkan pintu keluar pada nona."


"Pintu keluarnya ada di sana,silahkan nona keluar. Sekali lagi maaf,saya tidak bermaksud kurang ajar atau pun tidak menghormati nona."


Ujar Damar dengan nada datar dan dingin.


Imelda akhirnya keluar dengan senyum sinis sekaligus geram.

__ADS_1


"Tunggu saja Damar,akan ku buat kau bertekuk lutut di bawah kendaliku!!"


__ADS_2