Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Penjelasan yang Tertunda


__ADS_3

Pukul 21:00


"Tok...,tok...,tok..."


Damar yang sudah tertidur di sofa selama satu jam perlahan tersadar saat mendengar suara pintunya seperti diketuk oleh seseorang.


Saat netranya terbuka,Damar langsung mendengus.


"Huh,pasti gadis itu yang melakukannya. Benar-benar keras kepala,apalagi sih yang dia mau?"  Damar bergumam geram sembari menyeret langkahnya dengan malas menuju pintu dan membukanya.


"Ceklek.." Perlahan pintu terbuka.


Damar sedikit terkejut saat melihat ada sekitar empat orang warga yang datang ke rumahnya dan lebih terkejut lagi saat melihat sosok yang mereka bawa.


"Malam mas Damar,maaf mengganggu waktunya. Tadi kami sedang mengadakan ronda keliling kompleks dan tak sengaja melihat ada wanita yang pingsan di jalan. Setelah kami amati ternyata wanita itu nona Iris ini,yang kalau kami tidak salah nona ini istrinya mas Damar kan?" Sosok bapak-bapak tadi menjelaskan sambil bertanya.


Damar mengangguk singkat.


"Bawa masuk saja." Jawabnya acuh tak acuh karena sebenarnya di dalam hatinya Damar masih jengkel pada sosok gadis yang berstatus istrinya itu.


Para bapak-bapak yang tadi datang untuk mengantarkan Iris pun menurut untuk masuk,mereka mengikuti arahan Damar untuk mengantarkan gadis yang sudah basah kuyup itu ke dalam kamar yang Damar tunjukkan dan membaringkannya di sana.


"Sudah mas Damar,dan karena kebetulan hari sudah larut malam kami pamit pulang. Untuk urusan mengganti pakaian dan merawatnya,kami rasa mas Damar lebih layak. Jadi kami tinggal dulu ya mas."


Damar mengangguk lagi. "Terimakasih." Ujarnya dingin.


Keempat bapak-bapak tadi saling pandang kemudian mengangguk kompak hingga akhirnya berjalan keluar dengan diantat oleh Damar yang mengikuti mereka dari belakang.


Saat sudah sampai di luar,seorang bapak-bapak tiba-tiba berbalik dan memperingati Damar dengan kata-kata yang lumayan mengganggu pria itu.


"Mas Damar,sebaiknya lebih perhatian lagi dengan nona Iris. Kasihan dia,pagi tadi jika tidak ada satpam yang menolong,mungkin mas Damar tidak akan bertemu dengan istri mas Damar lagi."


Kata-kata pria itu berhasil membuat Damar mengernyitkan alisnya.


"Pagi tadi? Memangnya ada kejadian apa tadi pagi?" Tanya Damar yang kini tampak di liputi rasa penasaran.

__ADS_1


Kini giliran bapak-bapak tadi yang dibuat bingung dengan pertanyaan Damar.


"Loh,memangnya mas Damar gak tau?" Tanya mereka ikutan bingung.


Damar menggeleng. "Saya tadi pagi di kantor dan baru pulang sore tadi dengan waktu yang lebih awal,karena..."


Damar menggantungkan kalimatnya karena malas mengingat sesuatu yang bisa membuat emosinya kembali naik itu.


"Ah sudahlah,lupakan ucapan saya tadi. Kita kembali saja ke topik awal. Memangnya ada kejadian apa tadi pagi?"


Tanya Damar lagi.


Keempat bapak-bapak tadi saling toleh kemudian salah satu dari mereka berjalan mendekati Damar dan menepuk bahunya pelan.


"Begini mas Damar,maaf sebelumnya. Tapi tadi pagi,mungkin sekitaran jam setengah sembilanan. Istri-istri kami katanya  mendengar suara keributan yang berasal dari rumah ini. Awalnya mereka pikir kalian yang bertengkar."


"Karena penasaran,mereka datang ke rumah ini dan pemandangan mengaggetkan mereka lihat. Nona Iris ternyata sedang ribut dengan seorang pria yang..."


Bapak-bapak tadi menggantungkan kalimatnya karena suara handphonenya berbunyi.


Damar mendengus kesar sedangkan bapak-bapak tadi menyengir.


Dua menit berlalu,bapak-bapak tadi selesai dengan teleponnya dan kembali berjalan menghampiri Damar.


"Em,Damar. Sepertinya kedatangan kami ke sini memang terlalu larut malam dan kami rasa agak sedikit mengganggu. Apalagi di dalam sana ada nona Iris yang membutuhkan perawatan dari mas Damar."


"Dan untuk  kejadian tadi pagi,saya sarankan mas Damar mendengar langsung kejadiannya dari nona Iris atau jika memang perlu bukti,mas Damar besok boleh meminta istri-istri kami agar datang ke sini dan menjelaskannya dengan lebih detail.".


"Kami pamit dulu ya mas,selamat malam." Bapak-bapak tadi mendahului ketiga temannya untuk berpamitan dan berlalu di susul oleh ketiga temannya yang lain.


Damar sekali lagi hanya bisa menghela napas berat saat muncu lagi satu fakta pelik yang belum sepenuhnya ia mengerti namun sebagiannya sudah ia tangkap.


Damar mengusap wajahnya dengan kasar. Sebelum akhirnya berbalik dan mengayunkan langkahnya untuk kembali masuk ke dalam.


Setelah mengunci pintu,Damar melanjutkan langkahnya. Tempat pertama yang ia tuju adalah kamar tamu di mana Iris tadi dibaringkan.

__ADS_1


Di lihatnya gadis yang berstatus istrinya itu belum sadarkan diri juga. Rasa tidak tega tak bisa Damar pungkiri,muncul di hatinya.


Di lepasnya perlahan sendal yang masih melekat di kaki Iris,dan di singkirkannya ke bawah kasur. Kini tampaklah sepasang kaki munggil yang telah keriput karena kedinginan itu terlihat gemetaran.


Muka Damar seketika pias,bintik-bintik di kaki Iris membuatnya tersadar akan sesuatu.


"Alergi dinginnya kambuh." Batin Damar panik.


Tanpa mau menunggu lama lagi,Damar langsung menanggalkan seluruh pakaian Iris dan setelagnya ia berlari ke kamar mereka.


Di ambilnya pakaiannya yang berbahan trening lalu ia kenakan di badan Iris. Setelah di rasa pakaian tersebut cukup membuat Iris hangat,Damar pun segera bergega lagi keluar rumah.


Dicarinya kunci mobil yang tadi sempat ia lempar keluar,dan setelah ketemu Damar langsung membuka pintu dan menyalakan mesin mobilnya.


Setelah mesin mobil menyala,Damar bergegas kembali ke dalam lalu keluar lagi namun kali ini dengan membopong tubuh lemah Iris.


Dengan hati-hati Damar meletakkan Iris ke kursi samping kemudi,setelah memastikan Iris berada di posisi yang aman,Damar pun menyusul masuk dan melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sepanjang perjalanan Damar beberapa kali memukul stir kemudi sembari menggumamkan kata maaf,menyesali perbuatannya yang secara tidak langsung sudah membuat orang yang ia sayang jatuh sakit seperti saat ini.


"Jika benar apa yang dikatakan warga tadi berarti dia sama sekali tidak salah. Aku lah yang salah karena tidak mau medengarkan penjelaskannya."


Damar mengacak-acak rambutnya dengan sebelah tangannya.


"Ya Tuhan,apa yang sudah aku lakukan pada istriku." Damar menoleh ke samping,bibir Iris tampak semakin pucat bahkan sudah sedikit membiru. Pemandangan yang membuat Damar menahan rasa sesak yang amat sangat.


"Maafkan aku Iris,maafkan aku."


♡♡♡


Aku lagi gak mood,cuma aku ngerasanya gimana gitu kalau gak up padahal lagi gak sibuk..


Karena itu,ya udinlah,aku tetap up walaupun dengan kosakata seadanya dan amburadul gini


Jadi ngomong-ngomong guys,entar kan malam minggu. Bagi yang punya pasangan harusnya jalan2kan wkwk..

__ADS_1


Nah gimana tuh sama Damar dan Iris yang malah malam mingguan di rumah sakit,ledekin gak guys??


😌😂😂😌


__ADS_2