
Bunyi ketukan sepatu Damar yang beradu di lantai semakin menambah kegugupan yang dirasakan oleh Iris.
Sepuluh menit sudah berlalu,sejak Damar menuntun Iris untuk duduk di kasur lalu meminta gadis itu untuk menjelaskan kejadian tempo hari.
Sebenarnya bukan keberatan yang membuat Iris belum bersuara sejak tadi,tapi tatapan Intimidasi Damarlah yang membuat gadis mulut gadis itu terkunci,enggan bersuara.
"Iris,mau sampai kapan kau diam menunduk menghadap lantai? Lihat aku ke sini,lantai itu tidak bisa kau ajak berdiskusi sama sekali." Damar menukas sinis setelah kesabarannya terkikis menghadapi tingkah laku Iris sepanjang hari ini.
"Ris.."
"Damar,a..aku. Aku mau berbicara,tapi bisakah kau kabulkan lagi satu permintaanku? Aku janji ini akan jadi permintaanku yang terakhir untuk hari ini."
"Ck..,baiklah-baiklah. Jadi apa permintaanmu?"
"Bisakan kau menurunkan sedikit intesitas tatapanmu itu padaku? Aku merasa terintimidasi." Gadis polos itu mengungkapkan dengan jujur,mengenai ketakutannya pada tatapan tajam Damar.
Damar yang akhirnya mengerti jika sedari tadi dirinya membuat Iris takut,kini mulai menetralkan emosi yang ada di dalam dirinya dengan menarik napas panjang.
Huh...
Setelah dirasa rileks,Damar pun memberanikan diri untuk menggapai jemari Iris yang terletak di samping tubuh gadis itu lalu menggenggamnya.
"Maaf,maaf jika perlakuan ku padamu membuat mu takut akhir-akhir ini. Aku tidak bermaksud menyakitimu dengan emosiku. Tapi satu yang harus kau tau Iris,aku adalah pria yang lemah dalam mengontrol emosi. Terutama karena kejadian kemarin,emosiku rasanya benar-benar meledak saat aku mengetahui bahwa sesuatu yang sudah aku klaim milikku di sentuh oleh orang lain."
"Aku tidak bisa menahan diri Iris,sebenarnya bukan maksudku untuk langsung berbuat kasar padamu kemarin. Aku sudah berusaha menahan,tapi saat aku bertanya padamu di ruang makan kemarin dan kau bilang tidak ada kejadian yang ingin kau jelaskan. Di situ aku merasa kau sudah berkhianat dan itu secara langsung membuatku merasa jika kau dan Ardo memang melakukan yang mengkhianati pernikahan kita."
"Aku paling tidak bisa mentolerir pengkhianatan Iris,karena itu kemarin aku langsung mengusirmu. Apalagi kejadian kemarin sudah berlangsung beberapa hari dan kau sama sekali tidak menjelaskan apapun padaku. Aku.."
"Damar.." Iris semakin mengeratkan genggaman tangan keduanya saat merasakan nada penyesalan dari setiap ucapan pria itu.
"Iris,aku benar-benar minta maaf." Damar tertunduk sesaat setelah kedua netranya bersibobrok dengan tatapan lembut Iris.
Sebelah jemari Iris mendadak terangkat,mengelus pelan bahu Damar saat melihat rasa bersalah yang terpancar dari kedua netra Damar.
"Tidak perlu menyesali terlalu dalam Damar,semuanya sudah terjadi. Aku tau,di sini bukan hanya kau yang salah. Aku pun sama bersalahnya dengan dirimu."
__ADS_1
"Tidak seharusnya aku menyembunyikan perihal kedatangan Ardo dari mu. Andai kemarin saat aku tak sengaja bertemu dengannya aku langsung mengabarimu semua masalah ini pasti tidak akan terjadi."
"Namun walau begitu aku bersyukur juga kejadian ini terjadi,kehadiran Ardo dan sikapmu kemarin memang bukan hal menyenangkan yang aku terima. Tapi dari sana aku banyak belajar bahwa kewaspadaan,komunikasi dan kejujuran itu penting."
"Kejadian dimana Ardo mulai menerorku lewat pesan sampai pada tindakannya yang hampir melecehkanku kemarin membuatku sadar kalau waspada itu sangat diperlukan. Aku terlalu menganggap remeh segala tindakan Ardo karena aku pikir dia tidak akan berbuat nekat."
"Aku terlalu menganggap aku mengenalnya dan sejauh yang aku tau Ardo tidaklah sebejad itu. Tapi aku lupa,bahwasanya semenjak Ardo lari dari pernikahan kami. Gambaran pria baik pada diri Ardo sudah sepenuhnya hilang."
"Sebaliknya aku juga salah karena mengabaikan komunikasi dan kejujuran denganmu. Andai kemarin aku tidak menutupi dan menceritakan semuanya padamu. Ardo pasti tak sampai bertindak lebih dan pertengkaran seperti kemarin pasti akan terelakkan."
"Bukan sepenuhnya kamu yang salah. Aku pun salah,karena tak seharusnya aku menutupi hal itu darimu. Kau suamiku seharusnya apapun masalahku,itu juga masalahmu begitupun sebaliknya. Aku terlalu ceroboh kemarin,aku minta maaf Damar."
Damar terdiam setelah beberapa saat mencerna pesan tersirat dari ucapan Iris. Ia kini juga sepenuhnya sadar bahwasanya komunikasinya dan Iris beberapa waktu yang lalu memang belum terlalu bagus sebagai sepasang suami istri.
Ia juga sadar jika mereka ini menikah bukanlah atas dasar cinta,harusnya di setiap tindakan keduanya wajib saling memberitahu. Karena walaupun sebelumnya keduanya pernah tinggal serumah,keduanya bukanlah orang dekat yang saling mengenal.
Mengingat sebelumnya status Iris adalah majikannya dan Damar adalah seorang pelayan lalu keduanya dinikahkan karna sebuah paksaan harusnya sudah membuat gambaran tersendiri bagi Damar.
Harusnya kemarin ia belajar mengontrol emosinya dulu,menanyakan pelan-pelan dan sejujur-jujurnya pada Iris lalu mendengarkan tanggapan gadis itu. Setelahnya semuanya jelas barulah ia bertindak mengambil keputusan,sesaat sebelum ia mengusir Iris pun gadis itu sudah meminta kesempatan untuk menjelaskan.
Mengingat hal itu membuat Damar benar-benar menyesali tindakan bodohnya kemarin. Benar kata Iris,ia dan Iris memang kurang komunikasi sejauh ini,dan kejadian kemarin cukup menjadi pelajaran yang bisa mereka petik untuk hubungan mereka kedepannya.
Sekarang tinggal beberapa lagi permasalahan yang mengganjal pikiran Damar saat ini. Setelah memikirkan matang-matang,pria itu akhirnya kembali menatap netra Iris yang di balas dengan tatapan hangat oleh gadis itu.
"Ada apa Damar? Apa masih ada yang mengganjal?"
"Iya." Damar mengangguk membenarkan.
"Kau masih belum menjelaskan padaku perihal kejadian di cafe dan perihal kedatangan bajigan itu kemarin. Jika kemarin hampir melecehkan lantas bagaimana caranya kau lolos? Lalu dimana bajingan itu sekarang? Dia tidak mungkin dibiarkan hidup tenang setelah hampir merusak rumah tangga kita dan terutama merusak dirimu."
" Dia harus diberi sedikit pelajaran dan hukuman atas tindakannya kemarin Iris. Setidaknya orangtuamu dan pihak berwajib perlu tau hal ini,agar tidak terjadi masalah lagi di kemudian hari. Lagi pula aku pun tidak bisa tenang jika bajingan sepertinya masih berkeliaran di sekitar kita,aku.."
"Damar..." Iris lagi-lagi mengelus pundak laki-laki itu untuk meredakan emosinya. Kini sedikit banyak Iris tau,jika sebenarnya Damar adalah laki-laki yang sangat payah dalam mengontrol emosi dan itu bisa jadi boomerang untuk laki-laki itu.
"Tenang sebentar ya? Biar aku jelaskan pelan-pelan."
__ADS_1
Iris menbiarkan sebentar Damar menetralisit emosinya dan setelah memastikan pria itu bisa menyimak ucapannya,ia pun kembali berbicara.
"Jadi sebenarnya kemarin aku hampir pingsan saat kejadian berlangsung,tapi satu yang ku ingat. Sebelum Ardo sempat menyentuhku,beberapa ibu-ibu datang ke sini dan mengeroyoki Ardo. Aku memang tidak tau persis apa yang mereka lakukan pada Ardo setelahnya."
" Tapi yang jelas,saat aku sadar keadaan rumah sudah kondusif lagi dan dari informasi yang aku dapat katanya Ardo sudah dibawa oleh satpam ke pihak berwajib dan sepertinya sekarang juga masih di sana."
"Kau tau kan,orangtua Ardo berada di luar negeri dan tidak semudah itu Ardo mendapatkan jaminan apalagi jika orangtuanya tak turun langsung. Jika kau memang penasaran,kita bisa meminta tolong satpam yang kemarin membawa Ardo untuk mengantarkan kita ke polsek tempat Ardo di tahan."
"Ya ide mu bagus. Besok pagi kita ke sana,sekarang kau mandilah dan aku akan ke dapur untuk memasak makan siang."
Iris menahan tangan Damar saat pria itu mau beranjak dari posisinya.
"Apa tidak memesan saja?" Tanya Iris setelah pria itu menoleh.
Damar menggeleng. "Memasak sendiri lebih sehat dan lebih hemat." Ujarnya logis.
"Ya sudahlah,kalau memang mau mu begitu. Aku juga sebaiknya mandi dulu,nanti aku menyusulmu ke dapur."
Setelah berkata begitu,Iris langsung berlalu mendahului Damar yang masih terdiam di tempatnya.
Damar mengerjab-ngerjab saat genggaman tangan Iris terlepas dari jemarinya.
Rasanya ia tidak percaya,masih bisa melihat wajah dan senyuman gadis itu setelah semua kejadian kemarin.
Hampir saja ia berpikir ia akan kehilangan Iris sepenuhnya,namun ternyata Damar harus beryukur karena masih diberikan kesempatan untuk mempebaiki.
Setidaknya kini kesalahpahaman antara keduanya bisa di bilang clear. Tinggal satu lagi,memastikan Ardo mendapatkan hukuman yang setimpal dan jangan lupakan Imelda. Gadis itu juga harus mendapatkan hukuman yang setimpal karena ia juga bagian dari dalang dalam permasalahan ini.
"Aku pasti akan membuat perhitungan nona Imelda,lihat saja besok."
♡♡♡
Duh ya guys..,cuaca tuh makin ke sini makin ngeselin gak sih?
Hujan terus....
__ADS_1
Ngeluh aku tuh jadinya...😭 Susah kemana2 huaa..😭😭😭