
Ilah menatap kepergian adik iparnya dia khawatir perkataan suaminya akan menimbulkan masalah dalam kehidupan mereka. "Kamu kok ngomong begitu sih, A? Jangan ikut campur lah takutnya malah membuat mereka semakin berjarak."
Bukankah salah satu penyebab terjadinya perceraian yaitu adanya andil dari orang ketiga. Yang dimaksud orang ketiga di sini bukan hanya pria atau wanita yang rela menjadi simpanan. Akan tetapi bisa juga orang ketiganya ialah ipar atau orang tua. Semula niatnya hanya ingin mengingatkan namun semakin lama merasa benar sendiri yang akhirnya terus memberikan nasihat atau pendapat tanpa diminta. Biasanya pihak perempuan akan mudah terganggu dan merasa tidak nyaman sementara pria yang menjadi suami tidak mampu bersikap tegas. Terjadilah pertengkaran-pertengkaran yang tak berujung hingga bermuara pada perpisahan.
Jika ingin memberikan nasihat atau pendapat berilah saat mereka meminta sendiri namun tidak dengan menyudutkan satu pihak saja. Bukannya selesai malah menjadi bensin di dalam api yang sedang berusaha dipadamkan.
"Sengaja, biar mereka semakin dekat. anggap saja ini usaha baik dari kakaknya."
"Tapi kalau ternyata mereka malah ribut di jalan gimana?"
"Insya allah enggak. Doakan saja yang baik-baik."
"hah semoga saja," balas Illah hendak pergi namun tangannya ditahan oleh Dani, "Apa?"
"nanti malam." Dani menaik turunkan alisnya memberi kode.
"Apaan sih?" Illah tersipu dan menyembunyikan wajahnya di lengan sang suami.
"Usaha bikin adek untuk Aidan dan Hani," bisik Dani menarik sang istri ke tempat yang lebih sepi kemudian menyatukan nafas keduanya. ******* lembut yang menunjukan cinta yang tulus bukan hanya sekedar nafsu.
"Kamu tetap sama, Sayang. Selalu malu-malu saat aku memuji kamu, dan aku sangat suka dengan itu" puji Dani dengan kalimat yang menujukan bahwa ia tetap memuja istrinya meski pernikahan mereka sudah berjalan hampir dua puluh tahun. Mereka mencoba mengukir kisah cinta yang tak lekang oleh zaman.
"Sekarang kamu masih memuji aku, tapi aku gak tahu lima tahun lagi, sepuluh tahun apalagi setelah dua puluh lima tahun ke depan. Karena aku pasti sudah tidak cantik dan tidak menarik lagi. Keriput dan melar di sana-sini. Tidak ada lagi keindahan yang dapat aku suguhkan. Kamu bo-"
"Suuuuuuttt!" Dani memotong ucapan istrinya, "dua puluh lima tahun lagi atau bahkan sampai aku tua, aku akan tetap memandang kamu sama. Gadis manis yang malu-malu saat aku berusaha untuk kenal dengan kamu. Aku ingin cinta dan kebersamaan kita tak hanya sebatas di dunia. Aku ingin bersama kamu hingga ke jannah-Nya."
"Anak-anak?"
__ADS_1
"Ya termasuk mereka, tapi kamu nomor satu."
Ilah semakin tersipu. Siapa yang tidak senang dipuja dan dipuji oleh pria yang menjadi suaminya. Dia pun mengangguk menunjukan bahwa dirinya memiliki harapan yang sama seperti sang suami. Mereka hendak kembali menyatukan bibir namun suara nampan jatuh mencegah perbuatan mereka.
"Hani?" Secara bersamaan mereka melihat ke arah gadis yang tengah menutup mata dan berdiri tak jauh dari mereka.
"Sumpah aku gak lihat," kata gadis itu tanpa melepaskan tangan dari wajahnya, dia teramat malu karena memergokinya. Tadi dia hendak menyimpan nampan tersebut namun malah melihat kemesraan orangtuanya.
***
Wawan merasakan pergerakan di sebelah tempat tidurnya, namun dia tidak buru-buru membuka mata karena tahu siapa penyebabnya. Sofia malu-malu membaringkan tubuh di sebelah suaminya. Sebelum berbaring dia memastikan lebih dulu kalau suaminya sudah tidur agar tidak menertawakan dirinya.
Alasan Sofia tidur di sebelah suaminya karena takut dengan petir yang menyambar, dia lupa kalau dirinya pernah kabur di tengah hujan yang turun deras malam itu dan merepotkan suaminya.
Wawan pura-pura memunggungi sang istri padahal dia tidak kuat menahan senyum. Dia sungguh bahagia meski tindakan itu merupakan hal kecil tapi sangat besar bagi dirinya. Tangannya gatal ingin memeluk sang istri namun dia tahan sampai pagi agar sang istri tetap merasa nyaman. Yang terjadi justru tangan Sofia yang akhirnya malah melingkar di pinggang Wawan. Hal itu membuat dia terjaga sampai pagi sedangkan sang istri terlihat begitu nyaman dalam tidurnya.
Puas memandang wajah sang istri, Wawan beranjak bangun setelah mendengar adzan subuh. Mengambil wudhu, menunaikan shalat kemudian menjalankan kebiasaannya setiap pagi.
Pelan-pelan Wawan menggoyangkan lengan Sofia, namun sepertinya hal itu malah mengantarkan istrinya untuk semakin lelap.
"Sayang ayo bangun," ucapnya penuh kelembutan, "Hei, ayo bangun. Subuhan dulu."
Sofia menggeliat namun tak membuka mata.
"Sayang, ayo. Kalau gak bangun aku cium ya."
"silahkan," gumam Sofia tidak sadar namun dia mengerjap sekaligus bangun kala merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya. Dia menjerit dan mendorong suaminya. "Ngapain sih cium-cium aku?" perempuan itu menutup bibirnya, jantungnya juga berdetak lebih cepat. Sekali lagi perasaan asing yang tidak dia mengerti hadir, merambat hangat hingga menimbulkan merah di pipi.
__ADS_1
"Kan aku sudah ijin sama kamu terus kamu bilang silahkan."
"Masa?" Sofia melotot tak percaya, "Gak mungkin, itu mah kamu aja yang nyuri-nyuri kesempatan."
"Ya sudah kalau gak percaya." Wawan membalas dengan acuh, "Bangun gih subuhan dulu, kita kan harus ke rumah 'A Dani lagi."
Sofia bangun dan beranjak ke kamar mandi, bayangan Wawan menciumnya tak lantas hilang dari benak. Dia menatap bibirnya di cermin lalu menyentuhnya.
***
Suasana ramai terjadi di rumah Dani. Suara soundsystem bercampur dengan riuh tamu yang hadir. Anak-anak seusia Aidan yang orang tuanya ikut membantu di acara Dani dan Ilah berlarian membuat suasana semakin ramai. Belum lagi teriakan ibu-ibu yang meminta anak-anaknya agar tidak lari-lari takut menyenggol meja prasmanan.
Sofia dan Wawan bertugas menyambut tamu. Dengan senyum ramahnya mereka menyapa tamu yang hadir. Mempersilakan mereka untuk menikmati acara yang tengah terselanggara. Sesekali mereka saling lirik lalu melempar senyum, namun Sofia masih nampak kikuk sejak kejadian tadi subuh.
Suara deheman dari tamu yang datang membuat mereka kembali pada tugas.
"Pak Lurah, Ibu," sapa mereka dengan senyum.
"Dunia serasa milik berdua ya bagi pengantin baru," kata Pak Lurah tersenyum yang datang bersama istri. Mereka tengah mengisi buku tamu.
Sofia dan Wawan kembali melempar senyum namun senyum di bibir Sofia pudar saat melihat Rahma di belakang Bu Lurah. Mereka saling tatap namun Wawan yang melihat itu segera menggenggam tangan sang istri lalu mengangguk pada Rahma.
Gadis itu memalingkan muka lalu menyusul kedua orang tuanya yang sudah duduk lebih dulu. Nyeri di dalam dada tak lantas hilang meski dia tengah mengingat sikap buruk Wawan yang pernah turut andil dalam hadirnya sebuah rasa lalu meninggalkannya begitu saja.
"Apaan sih?" ketus Sofia melepaskan tangan suaminya. Dia masih menatap Rahma yang tersenyum ramah menyapa sesama tamu.
"Kamu cemburu pada Rahma," bisik Wawan. Jika dilihat dari tempat Rahma maka Wawan seperti tengah mencium istrinya.
__ADS_1
"Enggak."
"Beneran?" Wawan tersenyum menggoda pada istrinya saat menoleh, "Aku ke sana ya, ada perlu sebentar sama Pak Lurah." Dia bangkit dan meninggalkan istrinya yang mengepalkan tangan di bawah meja.