Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Penyelesaian 6


__ADS_3

"Loh? Kemana mereka?"


Iris celingukan di dalam toko perhiasan mewah tersebut. Ruangan yang hampir seluruh dindingnya berbatasan dengan kaca membuatnya leluasa melihat ke sana kemari walau tidak berjalan.


Namun permasalahannya dua sosok yang sedari tadi ia buntuti menghilang dalam sekejab. Baik Damar maupun Oliv tidak kelihatan lagi barang sekelebat. Entah kemana mereka pergi tapi yang pasti,Iris kehilangan jejak.


"Ckk,jangan-jangan mereka sadar lagi. Kalau sedari tadi aku membuntuti mereka. Lalu sekarang mereka pindah toko untuk menghindariku."


Tak kehabisan akal,Iris meraih handphonennya dan mencoba menghubungi Damar.


"Halo.."


"Halo Ris,ada apa?"


"Dimana kau?"


"Aku sedang dalam perjalanan pulang. Kenapa memangnya?"


"Boleh aku vidio call?"


"Sebentar.."


Panggilan telepon beralih ke panggilan vidio.


Iris terlihat mengerutkan keningnya dengan raut bingung.


"K..kau? Bukannya tadi kau bilang ada urusan dengan seseorang ya? Sudah selesai urusannya?"


"Sudah Ris. Ini sedang dalam perjalanan pulang. Kau sendiri dimana sekarang? Aku bisa melihat kalau kau sekarang tidak berada di dalam taxi. Jadi dimana kau sekarang? Kau tidak jadi pulang."


Mendadak Iris linglung. Bingung mau menjelaskan apa pada Damar.


"Tidak mungkin kan kalau aku jawab aku membuntutinya. Bisa-bisa habis aku di marahi olehnya." Batin Iris.


"Ris.."


"A..anu. A..aku sedang berada di...,di pusat perbelanjaan. Iya benar,pusat perbelanjaan. Ada beberapa barang yang ingin ku beli. Kalau begitu aku lanjut dulu ya. Bye.."


Telepon langsung dimatikan sepihak oleh Iris.

__ADS_1


♡♡♡


Sementara itu,di dalam mobil Damar.


Damar menoleh ke kursi penumpang. Memberi kode pada seseorang di belakang sana agar keluar dari persembunyiannya.


"Apa nona Iris benar membuntunti kita pak?" Tanya Oliv yang ternyata bersembunyi dengan cara tengkurap di kursi penumpang sejak tadi.


"Iya. Bahkan dia sekarang masih ada di dalam sana."


"Lalu? Bagaimana dengan perhiasannya? Kita tidak mungkin kembali lagi ke dalam sana,jika di dalam ada nona Iris."


Damar menghela napas pendek,"Begini saja. Nanti malam jam tujuh kita bertemu lagi di sini untuk mengambil perhiasan yang sudah di pesan. Malam ini nona Oliv tidak ada janji temu dengan siapapun kan?"


"Tidak ada."


"Baiklah. Kalau begitu saya antar nona pulang terlebih dahulu."


Oliv mengangguk seraya berpindah duduk ke depan lewat celah kursi.


♡♡♡


Dengan perasaan masih setengah jengkel,Iris pun masuk ke dalam rumah tersebut. Iris sebenarnya masih tak habis pikir dengan apa yang ia lihat sore tadi.


"Aku gak mungkin salah lihat. Aku belum rabun,mobil Damar benar-benar berhenti di depan Sofia Syafir."


"Ckk..,kalau begini jadinya aku..."


"Sayang kenapa tidak masuk??"


Iris mendongak kaget. Matanya langsung bersibobrok dengan netra Damar yang tengah menatapnya dengan tatapan hangat.


"Kau..,kenapa kau bisa ada di sini?"


Alih-alih menjawab dengan lembut seperti halnya nada bicara Damar,Iris justru menjawab dengan ketus.


"Ada apa denganmu?" Damar berkata sembari menarik lembut tangan Iris agar segera masuk ke dalam rumah.


"Lepas! Jangan pegang-pegang!" Ketus Iris lagi seraya menghempaskan tangan Damar membuat Damar menampakkan raut bingung.

__ADS_1


"Hei,kau kenapa? Apa aku membuat kesalahan?"


"Tidak."


"Kalau tidak kenapa kau marah-marah?"


"Aku tidak marah."


Iris berkata sembari membuang pandangannya ke arah lain.


"Oke,tidak marah. Tapi raut wajahmu keliatan jengkel,ada sesuatu yang membuat mood mu rusak."


"Ada." Iris kini berbalik menatap wajah Damar dengan tajam.


Seketika tatapan Iris membuat Damar mundur dua langkah ke belakang.


"K..kalau boleh tau,a..apa yang membuat mood mu rusa?"


"ISHH,TENTU SAJA KAU DAN OLIVIA!!"


"Tidak usah mengelak Damar. Aku yakin sekali kalau tadi aku tidak salah lihat. Kau pergi berdua ke toko perhiasan dengan manager EO itu kan? Ayo mengaku!!"


"T..tidak b..bukan begitu,tadi aku dan nona Oliv. Kami.."


"DIAM!! MALAM INI KAU TIDYR DILUAR KAMAR!"


"Apa??"


Ucapan Iris barusan benar-benar membuat Damar shock berat. Di pungkiri atau tidak,tapi semenjak dua minggu lalu dimana Damar sudah mendapatkan haknya ia tidak bisa tidur jauh-jauh dari Iris bahkan saat Iris ke toilet subuh-subuh pun Damar akan ikut.


Lalu tadi,apa kata Iris? Ia tidur di luar kamar?


"Yang benar saja sayang. Becanda mu tidak lucu."


"Aku sedang tidak bercanda Damar! Kau pilih tidur di luar atau aku pulang ke rumah orang tuaku malam ini juga!"


Ancama Iris lagi-lagi membuat Damar kicep. Malam ini sepertinya ia akan kehilangan jatah olahraganya. Ucapkan selamat tinggal pada kegiatan menyenangkan yang sudah menjadi candunya itu.


"Nikmatilah tidurmu di kamar tamu bersama dengan nyamuk-nyamuk selingkuhanmu itu." Batin Iris sembari melenggang meninggalkan Damar yang tengah mengacak-acak frustasi rambutnya.

__ADS_1


♡♡♡


__ADS_2