
"Srekk.."
Satu kali sobekan yang Damar lakukan berhasil membuka plastik hitam tipis melapisi kotak yang saat ini ia pegang.
Damar mengamati kotak di tangannya ini dengan seksama. Kotak tersebut berwarna biru,berukuran kurang lebih sepuluh centi dan terlihat memiliki penutup yang bisa dibuka.
"Damar.." Terdengar suara Iris memanggil dari luar kamar membuat perhatian Damar dari kotak itu teralihkan seketika.
"Iya..." Sahut Damar dari dalam kamar.
"Kau sudah selesai mandi?"
"Belum nona.."
"Mandilah cepat,jika sudah selesai susul aku ke meja makan. Makan malamnya sudah siap."
"Baiklah,tunggu sebentar. Saya akan segera menyusul anda ke meja makan."
Ujar Damar lagi.
Dengan segera Damar berjalan menuju ke atas nakas dan meletakkan kotak tadi di atas sana.
__ADS_1
"Biar aku buka nanti malam atau besok pagi saja." Gumam Damar pada dirinya sendiri.
Setelah itu Damar berlalu untuk mengambil handuk dan melanjutkan kegiatan mandinya yang sempat tertunda tadi.
♡♡♡
Lima belas menit kemudian....
Damar terlihat keluar dari kamar dengan mengenakan kaos oversize berwarna hitam polos yang di padukan dengan celana pendek warna abu-abu.
Ia melangkah ke meja makan dengan memasang wajah berbinar dan langsung melebarkan senyum hangatnya saat melihat Iris sudah duduk manis menunggunya.
"Maaf ya karena sudah membuat nona menunggu lama,tadi ada sesuatu yang harus saya periksa sebelum mandi dan jika tadi nona tidak memanggil. Kemungkinan besar,saya belum mandi sampai sekarang."
"Tidak perlu meminta maaf,lagi pula tadi pun nasi dan sayurnya baru matang dan memang masih sangat panas jika langsung dinikmati."
"Ah,begitu ya. Hehe,saya kira nona akan marah karena sudah saya buat menunggu." Damat berkata sambil menyengir.
"Yang benar saja Damar,hanya menunggu lima belas menit untuk makan malam. Kenapa harus marah-marah,itu masih termasuk kategori wajar. Lagi pula,jangankan lima belas menit. Seumur hidup pun akan tetap aku tunggu,asal itu kamu. Xixixi." Iris berkata sembari tertawa garing menertawakan ucapannya yang sebenarnya sangat norak untuk di dengar.
Sementara Damar yang di goda oleh gombalan receh Iris hanya bisa tertawa sumbang untuk menyembunyikan perasaan membuncah yang sebenarnya ia rasakan.
__ADS_1
"Kau mau makan pakai lauk apa?" Pertanyaan Iris membuat atensi Damar teralihkan. Pandangannya ia gunakan untuk mengamati satu persatu menu yang ada di sana.
Ada tahu gejrot,dimsun ceker,tumis kacang panjang plus tempe,dan terakhir sambal nanas dengan campuran orgam dalam ayam. (maksud otor nganu loh guys,hati,usus dan ampela kan maknyuss tuhh..😌😁)
"Menu yang nona sediakan cukup banyak. Saya jadi bingung mau makan pakai lauk yang mana." Ujar Damar dengan ekspresi bingungnya yang malah membuat Iris gemas sendiri.
Iris kemudian mengambil secentong nasi dan mulai menaruhnya di atas piring Damar.
"Biar aku yang ambilkan makanan untukmu dan untuk lauknya,aku akan ambilkan satu persati dari keempat menu dengan jumlah yang tidak terlalu banyak agar kau bisa mencoba semua menu tanpa takut begah. Kau setuju?"
"Terserah nona saja,apapun yang nona pilihkan akan saya makan jika itu bisa di makan."
Iris mencebikkan bibirnya sejenak sembari mencibir. "Ish,ucapan mu itu. Seolah aku ini akan memberikan racun saja ke makananmu. Aku ini istrimu,pasti akan selalu memberikan yang terbaik untukmu. Mana mungkin aku berlaku macam-macam?"
Damar menaikkan alisnya kemudian tersenyum miring. "Oh iya? Tapi bukan kah dulu nona selalu menganggap aku ini pelay...."
"Jangan diteruskan. Lanjutkan makan malammu malam ini lalu istirahat!" Nada bicara Iris langsung berubah menjadi ketus saat sadar bahwa Damar ingin mengungkit masa lalu mereka.
Damar yang sadar jika Iris sensitif dengan ucapannya barusan pun memilih untuk tidak meneruskannya lagi.
Keduanya kembali fokus pada makan malam mereka dengan suasanana hening karena Iris masih memasang wajah jutek dan Damat belum ada nyali untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
♡♡♡