
Hari minggu pagi itu berlangsung dengan Damar yang sibuk mengajari Iris cara memasak dengan sangat telaten.
Rencananya Damar akan mengajari Iris cara membuat sup. Damar mengajari Iris memasak makanan berkuah tersebut,untuk meminimalisir kemungkinan makanan asin dan gosong.
Karena sup makanan berkuah,jika pun nanti keasinan tinggal tambahkan kuahnya lagi,dan kalau gosong,sepertiny akan minim resiko. Karena kuahnya banyak,kecuali Iris meninggalkan pancinya selama berjam-jam.
"Perhatikan ke sini nona. Hari ini saya akan mengajari nona cara memasak sayur sup,yang pertama-tama kita siapkan bahan-bahannya dulu."
Intruksi Damar,persis seperti guru tata boga yang sedang mengajari muridnya.
"Bahan yang pertama,ada ayam yang tadi nona beli. Harusnya menggunakan bagian yang bertulang seperti sayap,ceker,dan bagian bertulang lainnya. Tapi karena di sini hanya ada daging,kita gunakan daging saja sebagai bahan utamanya."
"Lalu bahan yang kedua,nona siapkan sayuran pelengkapnya. Di sini ada kentang,wortel, kembang tahu,tahu,kol,dan sawi putih. Cukup komplit. Nona memilih sayuran yang pas untuk bahan pelengkapnya."
"Selanjutnya,bumbu. Di sini ada lada bubuk,ketumbar bubuk,kaldu bubuk(mazkako andalan otor gesss wkwks),cengkeh,buah pala,kayu manis,bawang putih dan bawang merah,kemiri,siapkan juga bawang mewah goreng untuk taburannya,lalu garam,dan terakhir."
"Supaya rasanya lebih komplit nona tambahkan lagi saja bumbu racik khusus untuk sup ini. Tidak usah di masukkan semua,takutnya keasinan."
"Sampai di sini nona paham??" Tanya Damar memastikan.
1...
2...
3...
Detik kemudian...
Tidak ada respon sama sekali dari Iris,gadis itu memang terlihat memperhatikan ke depan,namun bukan pada penjelasan Damar melainkan pada wajah Damar yang terlihat semakin tampan saat memakai apron.
"Nona Iris!!" Bentak Damar dengan nada kesal,setelah sadar bahwa ternyata Iris tak mendengar penjelasannya.
"Ishh,kenapa kau berteriak. Aku ini sedang fokus!" Kesal Iris menyahut bentakan Damar dengan bentakan juga.
"Fokus apa? Nona sedari tadi memperhatikan penjelasan saya,nona sibuk melamun."
"Aku tidak melamun." Elak Iris sambil berdiri dari tempatnya dan berjalan ke belakang Damar.
Damar tercekat saat merasakan tangan mungil Iris melingkari pinggangnya.
"Aku bukannya melamun sayang,aku hanya sedang menganggumi ciptaan Tuhan yang begitu indah berwujud suami. Yaitu kamu." Gombal Iris sambil mengeratkan pelukannya di punggung Damar.
Damar segera berbalik dan melepaskan tangan Iris dari pinggangnya.
"Hentikan tingkah konyol anda nona. Anda mau saya ajari memasak,atau tidak usah sama sekali dan saya kembali ke kamar saja."
__ADS_1
Iris seketika melotot. " Tidak boleh! Kau tidak boleh kembali ke kamar sampai kau selesai mengari ku memasak."
"Tapi nona tidak memperhatikan ku,nona.."
"Sttss."
Iris meletakkan jari telunjuknya di bibir Damar membuat pria itu terdiam.
"Jangan marah-marah terus. Wajahmu semakin tampan saat kau marah-marah. Jika terus kau lanjutkan,mungkin aku akan menerkammu. Seperti ini.."
"Rawrrr..."
Iris mengangkat kedua tangannya ke atas dengan membentuk cakar. Berlagak seolah ingin menerkam Damar.
Damar mendengus kesal dibuatnya.
"Terserah nona saja!"
Iris tersenyum girang.
"Benar ya,terserahku saja. Jadi hari ini ajari aku memasak,ayo lanjutkan penjelasanmu. Aku janji,kali ini aku akan memperhatikannya dengan serius."
Damar tidak banyak berkata lagi. Ia langsung mengambil bahan-bahan sop tadi,mulai memotong-motongnya dan meletakkannya di wadah terpisah sebelum nantinya dimasukkan satu persatu ke dalam panci."
Damar beralih menghaluskan bumbu-bumbu yang harus dihaluskan,seperti,lada,ketumbar, kemiri dan bawang.
Setelah dihaluskan,Damar pun mulai menumis bumbu dan ayam secara berbarengan agar amisnya hilang.
Usai menumis ayam dan bumbu. Damar melanjutkan dengan memasukkan air secukupnya dan setelahnya ia menutup panci. Menunggu sampai air mendidih dan nanti siap dicampur dengan bahan-bahan lainnya.
Di sela-sela memasak Damar menyempatkan diri melihat untuk melirik ke arah Iris.
Kali ini,gadis itu terlihat memperhatikan dengan serius. Damar cukup lega,karena akhirnya ia tidak dijadikan objek penelitian mata genit Iris.
♡♡♡
Satu jam berlalu,masakan buatan Damar akhirnya jadi.
Selain membuat sup,Damar juga menambahkan sambal cabe tomat dan ayam goreng tepung sebagai lauk pelengkapnya.
Iris menatap penuh minat,pada panci yang mengeluarkan asap putih mengepul serta bau harum yang menguar memenuhi dapur itu.
"Baunya enak. Rasanya pasti enak,aku tidak menyangka jika kau bisa memasak sehandal ini."
Puji Iris sungguh-sungguh.
__ADS_1
Damar hanya menanggapinya dengan kendikan bahu."
"Boleh aku mencobanya?" Tanya Iris dengan raut penuh harap.
Damar mengangguk.
Ia segera menurunkan panci dari kompor. Menuang isinya ke dalam mangkuk besar dan menatanya di meja makan.
"Biar aku yang ambil nasinya." Ujar Iris sambil berjalan menuju rice cooker.
Tak lupa ia mengambil satu lagi mangkuk yant akan digunakan sebagai wadah nasi nantinya.
Tujuh menit berlalu
Kini masakan sederhana buatan Damar sudah di tata rapi di atas meja dan siap di santap.
Iris juga terlihat duduk manis dan siap menikmati hidangan yang ada.
"Damar,ayo duduk. Kita makan sama-sama." Perintah Iris pada Damar yang terlihat masih berdiri.
"Nona duluan saja,sepertinya saya ingin.."
"Makan dulu. Aku tidak menerima penolakan,kau harus duduk di sini." Iris menepuk kursi kosong di sebelahnya.
"Dan temani aku makan!!"
Perintah Iris dengan sorot mata tajam mengancam.
Dengan terpaksa Damar mendudukkan tubuhnya di sisi Iris.
Gadis itu terlihat senang bukan main.
Ia dengan antusias meniup-niup sesendok nasi yang sudah dibasahi dengan kuah lalu mengarahkannya ke mulut Damar.
"A......aaaa."
Ujar Iris.
Damar pun membuka mulutnya,kali ini dengan sedikit seyuman. Perasaan sedikit menghangat dengan perlakuan romantis Iris pagi ini.
Diam-diam Damar membatin.
"Jika ini mimpi. Tolong jangan bangunkan aku."
♡♡♡
__ADS_1