Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Amarah Damar


__ADS_3

Damar melajukan mobil milik Iris yang ia bawa pagi tadi dengan kecepatan di atas rata. Tidak peduli seberapa ramai kondisi jalan sore itu,Damar tetap melajukan mobilnya dengan kencang.


"Citt..." Damar mengerem mobil yang ia tumpangi tepat di depan rumahnya.


Pria itu dengan emosinya keluar dari mobil dan brak...


Ia membanting pintu mobil dengan kerasnya sembari berjalan dengan langkah tergesa-gesa memasuki halaman rumahnya.


Lima meter jaraknya dari depan pintu kamar,terlihat pintu terbuka sedikit. Sama halnya dengan kejadian kemarin sore.


Malam ini lagi-lagi Damar mencium aroma masakan dari arah dapur. Senandung lirih yang keluar dari bibir Iris pun dapat Damar dengar dengan sangat baik.


Damar mengepalkan tangannya erat-erat. Ingatannya pada foto dimana Iris berangkulan dengan seseorang di depan rumahnya,juga foto Iris yang tengah berpelukan dengan seseorang yang Damar kenali di sebuah cafe juga mampu membuat emosi pria itu kembali naik.


"Brak.." Damar membantin tas kerja beserta kunci motornya ke atas meja makan dan itu berhasil membuat Iris terlonjak.


"D..Damar,k..kau sudah pulang rupanya. Tumben,ini baru jam." Iris melirik jam di pergelangan tangannya. "Jam empat kurang,biasanya kau datang jam lima atau bahkan jam enam. Apa memang di izinkan pulang cepat,atau.."


"Apa saja kegiatan mu hari ini??" Damar memotong ucapan Iris dengan cepat dan dengan nada yang sangat dingin.


Iris yang tadinya sedang fokus pada masakan di depannya berubah menjadi heran saat merasakan aura mencengkam dan nada bicara Damar yang terdengar dingin.


Buru-buru Iris mematikan kompor dan berbalik untuk melihat ada apa gerangan dengan sikap aneh Damar sore ini.


Begitu berbalik,Iris langsung di lanjut dengan tatapan tajam dan mengintimidasi dari Damar.


"Jadi apa kegiatan mu hari ini?" Damar mengulagi pertanyaannya dengan nada dingin.


"Kegiatanku? Memangnya kenapa? Aku..,aku tidak melakukan apa-apa hari ini. Hanya mengantarkanmu keluar tadi pagi,lalu mandi,tidur siang dan memasak untuk makan seperti yang kau lihat saat ini." Iris menjelaskan dengan wajah biasa.


Damar mengangkat sudut bibirnya kemudian tersenyum smirk menatap istrinya itu dengan tatapan yang semakin sinis.


"Benarkah? Kau yakin hanya itu kegiatanmu?"


Iris mengangguk lagi. "Ya,memangnya apa lagi?"


"Tidak ada. Lanjutkan saja kegiatanmu." Ujar Damar kali ini dengan nada yang lebih santai.


Kembali Iris dibuat heran dengan tingkah laku Damar sore itu.

__ADS_1


"Ada apa dengannya?"


Batin Iris bingung,namun ia sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran laki-laki yang berstatus suaminya itu.


Sedetik kemudian,Iris seperti tersadar akan sesuatu. Ia kembali menoleh ke arah ke arah Damar yang sudah  berjalan menuju ke luar dapur.


Iris bergumam. "Sikap Damar aneh,apa jangan-jangan..."


"Ah,tidak-tidak. Mungkin dia hanya kelelahan. Lebih baik aku lanjut memasak saja." Ujar Iris lagi sembari berbalik dan melanjutkan kegiatan memasaknya.


♡♡♡


Satu jam kemudian...


Iris mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja makan. Satu jam sudah berlalu,namun anehnya sosok suami yang ia tunggu-tunggu belum juga memunculkan batang hitungnya.


Iris beralih melihat jam di pergelangan tangannya. "Jam lima lewat dua puluh menit." Gumamnya lagi. "Kenapa Damar belum juga keluar? Apa karena masih terlalu sore,jadi dia mengulur waktu makan malam? Tapi apa yang dia lakukan di kamar? Kenapa tidak keluar untuk sekedar memberitahu kalau dia menunda waktu makan. Apa yang sebenarnya dia lakukan di kamar?"


Batin Iris mulai resah. Karena tak dapat lagi menahan rasa penasarannya,Iris memutuskan untuk ke kamar menyusul Damar dan melihat apa kegiatan yang di lakukan pria itu di sana.


♡♡♡


"Damar,kau sedang apa? Boleh aku masuk?"


Dua detik berlalu,tak terdengar jawaban dari pria itu. Iris yang terlanjur penasaran memilih langsung memutar handle pintu tanpa meminta izin lagi.


"Ceklek.."


Pintu terbuka. Iris langsung di sambut dengan pemandangan aneh.


Di sana,di sudut kamar. Tepatnya di depan lemari pakaiannya dan Damar. Damar terlihat tengah menyusun potongan-potongan pakaian ke dalam sebuah koper.


Dan yang lebih membuat bingung lagi adalah,pakaian-pakaian yang Damar susun itu bukan miliknya melainkan milik Iris.


"Damar,ada apa??" Iris mempercepat langkahnya mendekati Damar dan langsung berjongkok di hadapan pria yang tengah duduk bersila itu.


"Damar,kenapa pakaianku di kemas ke dalam koper? Apa ada tikus di lemari?"


Pertanyaan Iris yang kedua kalinya berhasil membuat Damar mengalihkan atensinya.

__ADS_1


"Ya,kau benar! Ada tikus di lemari bahkan di seluruh rumah ini. Karena itulah aku menyimpan pakaianku ke dalam kopermu agar kau bisa membawa semua pakaian mewahmu ini ke tempat seharusnya,ke rumah yang lebih bagus dan lebih mewah di mana memang seharusnya dirimu tinggal."


Damar menjawab dengan nada datar dan dingin.


Sekujur tubuh Iris seketika bergetar.


"A..apa maksudmu Damar,a..aku,a..aku. Rumahku di sini,denganmu. Bukankah kita sudah berjanji akan...."


"Tidak pernah ada janji di antara kita. Semuanya sudah musnah sejak detik dimana dirimu membawa pria lain masuk ke rumah ini!"


"Kau yang sudah merusak semuanya Iris! Kepercayaanku,perasaanku,bahkan respekku pada mu semuanya sudah musnah sejak aku tau kalau ternyata aku hanyalah tameng untuk menutupi aib keluargamu!"


"Damar,apa maksudmu?? Aku tidak pernah menjadikan dirimu tameng atau apapun itu. Aku menerimamu murni karena aku mulai mencintaimu! Segala perlakuan baikmu dan.."


"Omong kosong!! Jika mencintai ku,kenapa bis membawa laki-laki lain masuk ke rumah ini?"


Iris tercekat di tempatnya. "L..laki-laki lain? M..maksudmu?" Iris seketika gemetar kembali.


"Damar,k..kau,apa kau..?"


"Ya,aku sudah tau! Aku tau kalau Ardo mantan tunanganmu itu sudah kembali bahkan sejak kemarin. Aku pun tau kalau kau sudah bertemu dengannya entah dua kali atau lebih yang jelas,pertemuan mu dengannya di cafe dan kedatangannya ke sini tadi pagi cukup membuat aku sadar kalau aku hanya dijadikan figuran sementara dia pergi,dan sekarang. Dia sudah kembali,apa lagi yang kau harapkan dariku? Tidak ada kan??"


Iris menggeleng. "Damar,tidak begitu. A..aku bisa jelaskan,to..tolong beri aku waktu untuk.."


"Brashhh.." Empat buah foto terbang beserakan tepat di depan wajah Iris.


Damar berdiri dari duduknya. "Menjelaskan apa lagi? Apa bukti itu belum cukup untuk dijadikan penjelasan? Haruskah aku mendengarkan omong kosongmu lagi??"


Luruh sudah air mata Iris,posisinya yang tadi berjongkok berunah menjadi berlutut.


"Damar,tidak begitu. Aku sama sekali tidak berbohong. Ardo memang sudah kembali dan aku sudah bertemu dengannya dua kali,tapi.."


"Tidak perlu dilanjutkan! Aku tak butuh penjelasanmu sedikitpun! Bahkan kue yang dikirimnya padamu malam itu sudah cukup menjadi bukti betapa baiknya hubunganmu dan mantan tunanganmu itu."


"Sekarang..!!" Damar menunduk kemudian mencengkram rahang Iris dengan kuat.


"KELUAR DARI RUMAH INI DAN JANGAN PERNAH KEMBALI! BESOK AKAN AKU URUS BERKAS PERCERAIAN KITA!!"


"Deg..."

__ADS_1


♡♡♡


__ADS_2