
Kedatangan Hanifa yang membawa rantang dari orang tuanya meringankan Sofia agar tak lagi memasak untuk makan malam.
"Jangan pulang," cegah Sofia ketika Hanifa hendak pulang selepas menggoda sepasang suami istri itu.
"Kenapa? Gak mau ah nanti aku jadi obat nyamuk. Aku itu masih suci jangan sampai ternoda mata lagi kayak tadi." Hanifa berbicara dengan gaya lebay.
"Kamu gak lihat ini?" Sofia menunjuk kaki yang dibalut perban. "Kalau ada kamu nanti kan bibi bisa minta tolong buat mengambil nasi atau menghangatkan lauk kalau sudah waktunya A Wawan makan. Iya kan 'A? lagian mau pulang juga malah hujan. Besok aja."
Wawan mengangguk membenarkan. Sudah bisa ditebak niat sang istri yang menahan keponakannya. Tentu saja karena tak ingin melayani dirinya. Kaki sakit hanya jadi alasan klise.
Dengan menahan Hanifa agar tidak pulang ternyata jadi bumerang bagi Sofia. Niat awal agar dirinya tak perlu melayani kebutuhan Wawan eh malah terjebak harus tidur bersama setelah makan malam. Hal itu terjadi karena kamar sebelah masih kosong dan belum diisi kasur. Masa iya mereka tega membiarkan Hanifa tidur di sana.
"Aku tidur di sini?" tanya Hanifa menunjuk kamar kosong yang hanya ada tikar.
Wawan dan Sofia saling lirik.
"Tidur di kamar aja sama bibi," jawab Wawan seraya membetulkan letak selimut. Hawa dingin semakin terasa ketika hari beranjak menuju malam. Apalagi hujan kembali turun selepas ashar tadi.
"Gak mau ah. Bi Sofi mah tidurnya motah."
"Ya udah tidur di depan tv aja temani Mang Wawan." Sofia mengucapkan ide yang tidak bagus sama sekali. Bagaimana dia bisa menyarankan suaminya tidur bersama keponakannya. Mungkin dia berpikir tidak akan terjadi apa-apa, tapi siapa yang tahu. Syetan bisa datang dari sisi mana saja. Tak pernah lelah menggoda setiao umat manusia. Wawan belum tentu memiliki iman yang kuat. Bisa saja dia oleng karena kebutuhan syahwatnya belum tersalurkan.
"Neng!" Wawan keberatan dengan ide itu begitu juga dengan Hanifa. Gadis itu terlihat tidak nyaman.
"Ya masa aku yang tidur di sini?"
"Memang apa salahnya, kita kan suami istri. Halal kok jika 'aa menyentuh kamu."
__ADS_1
"Itu mah maunya kamu," Sofia mendengus.
Keputusan akhirnya Hanifa tidur di kamar dan Sofia harus rela tidur berdekatan dengan Wawan kalau tidak ingin tidur di lantai. Berbagi kasur lantai. Sofia harus mengalah dan pura-pura tidak keberatan saat di hadapan Hanifa. Kalau kukuh pada ego bisa saja keponakannya curiga dan menyampaikan kabar tersebut pada kedua orang tuanya. Siapa lagi yang akan dimarahi? sudah pasti Sofia. Mana mungkin Wawan, dia kan menantu kesayangan.
"Jangan curi-curi kesempatan!" Sofia memberi peringatan pada sang suami. Guling dan selimut dibuat menjadi pembatas diantara mereka. "Jangan melewati batas ini."
"Curi-curi kesempatan juga gak bakal ada yang marah. Mereka juga pasti ngerti. Bapak juga pasti mendukung apalagi sudah minta nambah cucu."
"Heh!" Sofia melotot sedangkan Wawan tergelak. Wajah cantik itu terlihat semakin cantik ketika sedang berdebat seperti ini.
"Terus itu kalau selimut dijadikan batas, Neng mau pakai apa? Mau menjadikan 'Aa sebagai selimut?" Wawan mengerling menggoda.
Sofia semakin melotot kemudian meringkuk membelakangi Wawan, tak lagi membalas ucapan suaminya. Satu detik, satu menit, lima menit telah berlalu tapi tidak ada tanda-tanda Wawan memberikan selimut yang dia pakai. Suaminya benar-benar bukan suami idaman. Apalagi saat Sofia kembali membuka mata dan melihat Wawan sudah memejamkan mata. Asli menyebalkannya sungguh luar biasa.
Wawan hanya pura-pura tidur, dia tahu istrinya bangun dan menatap dirinya. Namun Wawan ingin tahu sekeras apa gengsi istrinya. Katakan saja dirinya kejam tapi istrinya pun tidak bisa dibiarkan bertindak semaunya. Bukannya Wawan sudah menerima amanah untuk mendidik istrinya. Kalau tidak berhasil apa yang akan dipertanggung jawabkan kelak. Pastinya pertanggung jawaban yang amat sangat berat.
Sebelum kejadian tersebut, Wawan yang merasakan pergerakan dari istrinya langsung membuka mata. Menyelimuti sang istri menggunakan selimut yang jadi penghalang mereka. Baru saja Wawan kembali memejamkan mata, tangan Sofia sudah melingkar di perutnya.
Tangan itu dibiarkan sesuai keinginannya. Kalau disingkirkan kapan lagi Wawan akan merasakan pelukan dari sang istri. Kalau sang istri dalam keadaan bangun, belum tentu ia mau memeluknya.
Malam terus bergerak hingga suara adzan membangunkan setiap insan dari lelapnya mimpi. Tepat seperti dugaan Wawan, Sofia terkejut ketika menyadari tengah memeluk suaminya. Dia langsung bergeser dan membetulkan selimut, memeriksa apa pakaiannya masih utuh atau tidak.
"Sudah kubilang jangan curi-curi kesempatan!" Wawan yang baru membuka mata bukannya mendapat senyum manis dan ucapan selamat pagi malah langsung mendapat semprotan dari sang istri.
"Siapa yang curi kesempatan? Neng sendiri yang bergeser lalu memeluk 'Aa."
"Gak usah berkilah. Kalau kamu tahu aku yang memeluk kenapa malah dibiarkan. Kamu seneng kan dipeluk sama aku?"
__ADS_1
"Memang, bahkan maunya lebih dari itu." Wawan menjawab begitu enteng.
Perdebatan itu berhenti ketika mendengar batuk dari dalam kamar. Hanifa tersedak ketika mendengar ucapan Wawan. Pasangan yang tengah berdebat itu sama-sama menatap pintu kamar. Tak lama pintu terbuka dan Hanifa muncul dengan senyum canggung. Bisa-bisanya keberadaannya terlupakan oleh mereka.
***
"Jangan dicuci, Neng, nanti aja kalau 'aa sudah sembuh," kata Wawan pada sang istri yang hendak mencuci pakaiannya.
"Biar aku dimarahi bapak?" Sofia menatap sinis.
"Bukan tapi 'Aa takut Neng kecapean. Kakinya juga masih sakit kan?"
"Nyucinya pake tangan kok gak pake kaki." Sofia tetap membawa pakaian kotor milik Wawan ke kamar mandi. Kalau saja tidak ada Hanifa, mana mau dia melakukan ini itu.
"Istri saleha," bisik Hanifa yang tengah mencuci piring saat Sofia melintas di sampingnya.
Selesai membantu membereskan pekerjaan rumah, Hanifa pamit. Beban Sofia sudah ringan karena piring kotor sudah bersih begitu juga dengan lantai yang sudah disapu dan dipel. Tinggal menjemur pakaian.
"Assalamu alaikum."
Sofia yang tengah menjemur pakaian langsung berbalik badan ketika mendengar ucapan salam.
"Rahma?" Gadis itu benar-benar datang seperti janjinya kemarin. "Aku pikir kamu gak jadi main."
"Jadilah, kan kemarin sudah bilang." Rahma menoleh pada pintu rumah yang terbuka. "Ternyata kamu sudah menikah Sofia, kenapa harus berbohong."
Dalam sorot mata Rahma terlihat jelas gadis itu menyimpan rasa kecewa. Entah karena kebohongan Sofia atau karena mengatahui siapa pria yang menjadi suami sahabatnya. Semua masih menjadi tanda tanya.
__ADS_1