
"Ceklek..."
"Paket,atas nama Iris Maharani Bagaskara? Apa benar ini kediamannya?"
Ternyata yang datang adalah tukang kurir yang mengantarkan sebuah kotak paket berukuran besar yang entah apa isinya.
Iris bahkan terlihat mengernyitkan keningnya dengan heran.
"Saya gak ada pesan paket loh pak. Kok bisa atas nama saya? Bapak yakin gak salah alamat?" Tanya Iris memastikan.
Tukang kurir tadi menggeleng. "Enggak atuh neng,saya udah pastiin sesuai alamat yang dikasih. Google map-nya juga gak mungkin salah ngasih tau,lagi pula pan,benar kan nona yang namanya nona Iris Maharani Bagaskara."
"Benar bukan?"
Iris mengangguk.
"Ya,iya saya sih pak. Tapi kan..."
"Udah atuh neng,tanda tangan aja ini bukti barangnya sudah sampai. Lagi pula ini paket biayanya sudah di tanggung sama pengirim,si neng Iris mah tinggal ambil sama bayar. Gak usah tapi-tapi,siapa tau aja isinya mah duit,iya kan neng?"
Iris mendengus kesal.
"Ini kurir napa jadi sok ngatur aku gini sih? Bikin kesel aja deh!!" Iris membatin dengan raut jengkel.
__ADS_1
"Cepeten tanda tangan atuh neng..."
"Iya! Iya! Saya tanda tangan nih! Mana,pulpennya. Bawa sini!"
Iris mengambil pen yang di sodorkan kepadanya dan mulai menandatangi bukti penerimaan barang tersebut.
Setelah selesai,tukang kurir tadi menyerahkan sebuah box besar yang tadi ia pegang kepada Iris,dan setelah Iris menerima kotaknya,ia pun berlalu pergi. Meninggalkan Iris yang masih terdiam di depan pintu dengan tanda tanya besar yang bersarang di kepalanya saat ini.
"Nona Iris memesan barang??"
Terdengar suara bariton dari arah belakang yang membuat Iris seketika menoleh.
"E..eh,kamu..! Udah selesai mandinya?" Tanya Iris pada Damar yang ternyata sudah berada di belakangnya. Entah sejak kapan.
"Nona memesan apa??" Tanya Damar lagi membuat Iris tambah gugup.
"Aemm,itu. Lebih baik kita masuk dulu dan kita buka sama-sama ya."
Iris berbalik badan sambil mendorong pelan tubuh Damar agar mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Iris terus menggiring tubuh Damar hingga sampai ke ruang makan. Setelah sampai di ruang makan,ia langsung mendudukkan tubuh Damar dan beralih mengambil cutter.
"Srekk,srekk..,srekk.."
__ADS_1
Setelah beberapa kali sobekan,akhirnya terbuka juga isi dari paketan yang ternyata adalah sekotak blackforest.
Iris meneguk ludahnya dengan kasar,di atas blackforest tersebut tertulis untaian kata I LOVE U dari butter cream putih.
Dari modelnya saja Iris sudah dapat menebak siapa pengirimnya. Siapa lagi kalau buka.
"Miliardo Pranaja Agler. Iya,pasti dari dia." Batin Iris yang ingat betul jika kue blackforest ini adalah makanan favorit keduanya.
"Oh,nona memesan makanan penutup rupanya." Ujar Damar yang lagi-lagi berdiri di belakang Iris membuat gadis itu terjengkit kaget.
"Ish kau itu! Bisa tidak jangan mengagetkan ku ."
"saya tidak mengagetkan nona,saya kan hanya bertanya."
"Ya sama saja. Kau muncul tiba-tiba di belakangku dan aku kaget. Itu berati kau mengagetkanku."
Damar yang diomeli hanya mengangguk-angguk sambil memasang wajah tengil membuat Iris keki sendiri.
"Ishh,kau memang menyebalkan hari ini!!"
Iris memukul-mukul bahu Damar dengan ekspresi pura-pura kesal. Padahal sebenarnya Iris saat ini sedang salah tingkah. Perilaku Damar yang kembali menghangat membuatnya malu.
"Jika sedang begini,Damar tambah manis. Huh,ku harap kedatangan Ardo tidak menjadi masalah di hubungan kami."
__ADS_1
Batin Iris berdoa penuh harap.