
"Mau mampir membeli makanan atau...?"
"Pulang ke rumah mama." Iris memotong dengan nada lirih,tawaran yang baru saja Damar lontarkan.
Damar menghela napas pelan. "Ingat kata dokter,bicara pelan-pelan dan jangan membuatnya takut." Batin Damar mengingatkan dirinya sendiri.
Damar kemudian menepikan mobilnya hingga berhenti di pinggir jalan. Sontak saja kejadian itu membuat Iris memucat.
"M..mau apa kau??" Tanya Iris was-was sembari menggenggan erat sabuk pegaman yang melingkari tubuhnya.
Damar tak mempedulikan pertanyaan Iris. Ia justru melepaskan sabuk pengama miliknya sendiri,dan berputar 180° hingga kini tubuhnya menghadap Iris sepenuhnya.
Tangan pria itu terulur mengelus pipi Iris sembari merapikan helaian rambut yang jatuh di pipi gadis itu.
"Kau kenapa hm?" Tanya Damar dengan nada selirih mungkin. Berusaha membuat kondisi tetap tenang.
Namun bukannya tenang Iris justru terlihat gemetaran dengan perlakuan Damar.
"A..aku..,aku mau pulang."
Gadis itu menunduk takut.
"Iris,coba lihat aku sebentar." Damar berusaha mengangkat kepala Iris dengan memegangi rahangnya.
Sayangnya tindakan Damar justru menambah ketakutan di dalam diri Iris. Sekujur tubuh gadis itu langsung bergetar saat Damar memegangi rahangnya.
"A..aku mau pulang! Tolong biarkan aku pulang!!"
Gadis itu tiba-tiba meronta sembari menoleh ke sana kemari,seolah mencari celah untuk kabur.
Damar yang panik refleks menahan bahu Iris dan mengcengkramnya.
"Hei...,kau kenapa sih? Apa aku menakutimu? Atau ada hal yang menbuatmu takut?"
Iris menggeleng-geleng. "Aku bisa jelaskan!"
"Aku tidak selingkuh!"
"Dia tidak jadi menyentuhku! Tolong jangan usir aku!!"
"Dia tidak menyentuhku!! Dia tidak menyentuhku!!"
Iris terlihat ketakutan sembari menutupi kepalanya dengan tangan,beberapa kali juga gadis itu menjambak rambutnya sendiri,lalu setelahnya ia menoleh ke sana kemari seolah takut dan mengantipasi seseorang mendekatinya.
Melihat kondisi Iris yang sudah tidak kondusif untuk diajak bicara. Damar pun melepaskan sabuk pengaman Iris dengan paksa dan menyentak tubuh gadis itu hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Hei,sayang tenanglah!" Pinta Damar.
"Aku Damar,suami kamu! Aku tidak akan mengusir kamu lagi. Saya minta maaf." Damar mengusap-usap kepala Iris dengan sayang.
Gadis itu mulai tenang akibat sentuhan dan usapan Damar di kepalanya.
Namun tak berselang lama,ia kembali berucap.
"D..dia tidak menyentuhku? Kau..,kau percayakan?" Tanya gadis itu dengan suara bergetar.
"Sttsss..," Damar semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku percaya,dia memang tidak menyentuhmu dan kalaupun dia berani menyentuhmu. Aku yang akan menghabisi dia dengan tanganku!"
__ADS_1
"Sekarang kau lihat aku.." Damar sedikit melonggarkan pelukannya dan berusaha membuat Iris mau menatapnya.
"Tatap aku dan lihat mataku."
Iris mengikuti arahan Damar,pelan-pelan gadis itu mengangkat kepalanya dan mendongak untuk bisa melihat wajah Damar.
"Sudah?" Tanya Damar lagi dengan nada yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
Iris mengangguk pelan.
"Apa aku masih menakutkan di matamu?" Tanya Damar lagi."
Iris menggeleng.
Mendapat jawaban yang melegakan dari sang Istri membuat Damar kembali tenang.
Satu tangannya ia gunakan untuk mendekap lagi tubuh munggil sang istri hingga masuk ke pelukannya.
"Kita pulang ke rumah kita dulu ya?" Tanya Damar untuk yang kedua kalinya.
Gelengan kepala Iris terasa di dada gadis itu.
"Pulang ke rumah mama." Lirih Iris dengan nada takut.
Takut Damar memarahinya lagi seperti kemarin.
Damar menghela napas berat. Namun setelahnya ia mengangguk juga.
"Baiklah. Kita pulang ke rumah orangtuamu."
♡♡♡
Damar membohonginya.
"K..kenapa kita ke sini?" Tanya Iris dengan nada bergetar.
Damar menoleh sembari tersenyum tipis.
"Kenapa memangnya? Bukankah ini rumah kita?"
"T..tapi,a..aku ingin pulang ke rumah mama dan papa."
Damar melunturkan senyumnya. "Iris,ini rumah kita. Kau sendiri yang mengatakan mau terus di sisiku apapun yang terjadi."
"T..tapi,aku.."
"Kau masih takut padaku?" Tanya Damar to the point.
Iris langsung tertunduk dan itu cukup menjadi jawaban atas semua pertanyaan Damar barusan.
Sudut bibir Damar mendadak terangkat menampilkan sebaris senyuman kecut.
"Jadi keputusanmu untuk tetap pulang ke rumah mama dan papa sudah bulat?" Tanya Damar sekali lagi.
Kali ini Iris tak menjawab. Entah karena masih takut atau memang benar jika dirinya hanya ingin pulang dan tak perlu dipertegas lagi jawabannya.
Damar menghela napas sebelum akhirnya tangan pria itu kembali mendarat di kemudi,siap untuk menyetir lagi.
"Kau ingin pulang ke rumah orangtuamu kan?"
__ADS_1
Hening,tak ada jawaban.
Damar yang sudah kepalang putus asa langsung mengambil inisiatif dengan menyalakan mesin mobil dan mulai menginjak pedal gas.
Mobil yang tadinya sudah berhenti itu kembali mundur dan hampir putar balik keluar gerbang.
"Tunggu dulu.."
Iris tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menahan punggung tangan Damar membuat pria itu menginjak pelan rem dan akhirnya kembali memberhentikan mobil yang sudah hampir putar balik itu.
"Kenapa lagi?" Tanya Damar tanpa menoleh.
"J..jika aku pulang ke rumah papa dan mama,apa kau akan ikut tinggal di sana?"
Damar menoleh sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa memangnya?"
Iris mengangkat kepalanya sedikit dan memberanikan dirinya untuk menatap wajah Damar.
"A..aku,aku hanya memastikan." Jawab gadis itu lagi.
"Ckk.." Damar berdecak kesal. "Jadi maksudmu kau mengantisipasi agar aku tak ikut denganmu? Begitu?"
Tak ada reaksi dari Iris dan hal itu berhasil menbuat Damar kesal untuk yang kesekian kalinya.
"Dengar Iris Maharani Bagaskara! Tugasku setelah ini hanyalah mengantarkan kau pulang ke rumah kedua orangtuamu itu dengan selamat dan setelahnya aku akan pulang jika memang itu keinginanmu."
"Aku juga tidak akan mengganggumu lagi jika memang kehadiranku membuatmu takut. Kau tenang saja,intinya setelah ini kita tak perlu bertemu lagi. Itu kan maumu?"
"Tapi.."
"Apa lagi nona Iris? Bukannya tadi aku sudah bilang. Aku akan.."
"Tapi aku mau ikut denganku ke rumah orangtuaku." Iris langsung memotong ucapan Damar sebelum pria itu sempat menuntaskan ucapannya.
Tentu saja kalimat Iris barusan berhasil membungkam Damar. Pria itu kembali membuka sabuk pengaman yang ia kenakan dan berputar 180° lagi untuk melihat keseriusan di wajah Iris.
Sayangnya gadis itu menunduk,menghindati tatapan Damar.
"Ck..,maumu apa sih nona? Aku mengajak kau tinggal di sini denganku,kau malah ingin pulang ke rumah orangtua mu. Saat aku sudah siap untuk megantarkanmu ke rumah orangtua mu kau malah memintaku untuk ikut denganmu. Jadi sebenarnya apa maumu? Tetap tinggal denganku? Atau pulang ke rumah orangtuamu?"
"Dua-duanya." Iris menjawab dengan pelan namun terdengar yakin.
Damar menggusar rambutnya kasar.
"Berikan aku kesabaran." Batinnya sembari melakukan aturan pernapasan selama beberapa kali.
Setelah dirasa cukup rileks,Damar kembali menolehkan kepalanya ke arah Iris sembari mengangkat pelan dagu gadis itu.
"Iris,dengarkan aku. Jika kau ingin tetap tinggal denganku maka kau harus tinggal di rumah ini. Karena ini rumahku,tapi jika kau ingin tetap pulang ke rumah orangtuamu,maka aku akan mengantarkanmu ke sana dan tinggalkan aku di sini."
"Itu adalah dua pilihan mutlak untukmu dan semua keputusanya ada di padamu. Kau pikirkan saja lagi baik-baik."
Setelah mengatakan hal itu,Damar membuka pintu mobil dan berlalu turun tanpa menutup pintu mobil.
Sebelum pergi,Damar sempat berucap lagi pada Iris.
"Aku beri kau waktu sepuluh menit. Setelah kau dapat jawabannya,temui aku di dalam. Aku menunggumu."
__ADS_1
♡♡♡