
Iris dibuat tercengang dengan tampilan rooftop yang ada di hadapannya saat ini.
Benar-benar di luar ekspetasi Iris sampai-sampai perempuan itu tidak bisa menutup mulutnya.
Kaki Iris perlahan berjalan melangkah lebih ke dalam mengikuti barisan lilin yang mengiringi setiap tepi langkahnya.
Iris terus di tuntun berjalan menuju ke spot paling terang yang ada di sudut rooftopp,saking fokusnya pada view yang ada di hadapannya. Iris tak sadar bahwasanya kedua orangtuanya sudah diam-diam pergi meninggalkannya sendiri di sana.
"Would You Be Mine Forever?"
Sebuah tulisan besar yang dirangkai dari barisan bunga lili putih menyambut kedatangan Iris di sudut rooftop. Keberadaan ornamen-ornamen lampu tumbler di tepiannya juga semakin menambah kekaguman Iris pada dekorasi tersebut.
Belum selesai kekaguman Iris pada dekorasi-dekorasi yang ada di hadapannya,kini muncul lagi kejutan lain.
Beberapa meter dari hadapan Iris seketika muncul ratusan kembang api yang meledak yang semakin menambah indahnya suasana serta pemandangan dari atas rooftop tersebut.
Letupan kembang api tersebut terus berlanjut hingga sampai pada ledakan terakhir sebuah layang-layang raksasa tiba-tiba muncul dari bawah dan berayun-ayun tepat dua meter dari pandangan Iris.
Iris menajamkan matanya saat melihatĀ tulisan "Iris Would You Be Mine Forever?" yang tertulis di layang-layang berwarna putih yang sedang terbang di hadapannya itu.
"Iris Maharani Bagaskara." Tiba-tiba sebuah suara berat menyapa cepat di belakang tengkuk Iris.
Tubuh Iris seketika membeku saat merasakan dua buah tangan yang tiba-tiba melingkari perutnya.
"D..Damar?" Gumam Iris lirih setelah memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Kepala Iris perlahan menoleh ke arah samping.
Benar dugaannya,Damar kini tengah memeluk sembari menatap dirinya dari arah samping dengan tatapan yang benar-benar lekat.
"Kau suka dengan kejutannya?" Damar bertanya lagi kali ini diikuti dengan gerakan membalik tubuh Iris agar menghadap ke arah dirinya sepenuhnya.
"K..kejutan?" .
"A..apa maksudmu?"
"A..apa ini semua..?"
Anggukan kepala Damar membuat semua pertanyaan Iris terbungkam seketika..
Cukup sudah. Sekarang Iris mengerti.
"Jadi maksudmu tidak ada pesta pernikahan atau apapun itu?"
Damar mengangguk lagi,kali ini rangkulan di pinggang Iris semakin mengerat.
Damar bahkan menempelkan keningnya dengan kening Iris sehingga keduanya bisa merasakan hembusan napas dari hidung masing-masing.
"Kau benar sayang,tidak ada undangan pesta,tidak ada pesta pesta pernikahan. Semua ini adalah kejutan yang sudah di rancang jauh-jauh hari oleh aku dan kedua orangtuamu."
Hembusan napas Damar dan segarnya aroma mint semakin terasa saat pria itu berbicara tepat di depan wajah Iris.
Iris menunduk menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di kedua pipinya.
"J..jadi? K..kejadian di Sofia Syafir waktu itu juga bagian dari skenario kejutan?"
Damar lagi-lagi mengangguk.
"Tidak ada perselingkuhan dengan nona Olivia?"
Kali ini Damar menggeleng sembari menjauhkan wajahnya dari wajah Iris kemudian menatap lekat kedua bola mata Iris.
"Aku bahkan tidak pernah berpikiran untuk menduakan mu bahkan dengan nona Rima sekalipun. Kau terlalu cantik untuk di duakan,nona Iris Maharani."
Pipi Iris semakin memanas mendapat kata-kata manis yang di selipi senyuman dari pria tampan di hadapannya itu.
"Jadi,apa sekarang suasana hatimu sudah membaik? Tidak berniat mencederai adik kecilku lagi kan?"
Pertanyaan Damar seketika mengundang tawa dari bibir munggil Iris.
Tangan perempuan itu ikut terulur,mengelus pelan pipi Damar.
"Maaf ya,aku tidak sengaja melakukan kekerasa pada adik kecilmu tadi pagi. Aku terlalu emosi sampai-sampai tak menyadari bahwa emosiku menyakiti..."
Iris tidak jadi melanjutkan kalimatnya saat menyadari bahwa ucapannya barusan sudah terlalu frontal bahkan bisa saja membangunkan sisi liar Damar.
__ADS_1
"Kenapa tidak dilanjutkan?" Tanya Damat sembari mecolek dagu Iris untuk menggoda wanita itu.
Iris memalingkan wajahnya ke arah samping membuat Damar ganti menertawainya.
Tangan Damar terulur mencubit pelan hidung Iris membuat wanita itu refleks mengaduh.
"Janji untuk tidak mengulanginya lagi?" Tanya Damar yang mendapat anggukan malu-malu dari Iris.
Damar tersenyum kecil sembari mendekatkan bibirnya ke arah dahi Iris.
"Cup." Sebuah ciuman singkat berhasil membuat darah Iris berdebar kencang.
Tak sampai di situ,Iris kembali dibuat terbelalak saat Damar tiba-tiba berjongkok kemudian mengeluarkan sebuab kotak ke hadapan Iris dan membukanya.
Terpampanglah sepasang cincin pernikahan dari dalam sana membuat Iris tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Kau melamarku?" Tanya Iris sembari mengangkat dagu Damar yang tengah menundukkan kepalanya itu.
Damar perlahan ikut mengangkat kepalanya bersamaan dengan elusan lembut di rahangnya.
Iris mengangkat kedua alisnya meminta jawaban dari pertanyaan barusan.
Damar perlahan menggeleng. "Mungkin tepatnya bukan melamar. Aku hanya ingin mempertegas hubungan kita,mengajakmu untuk melanjutkan semuanya. Aku sadar,kemarin aku tidak melamarmu secara resmi."
"Hubungan kita dimulai karena sebuah keterpaksaan dan setelah semua yang kita lewati aku ingin mengajakmu untuk memulai semuanya dari awal."
"Memberikan kebahagiaan yang seharusnya aku berikan dari awal,mejadikanmu istri sebenarnya tanpa unsur paksaan dari siapapun."
"Jadi,Iris Maharani,maukah kau memulai semuanya bersamaku?"
Iris mengangguk sembari menjulurkan tangannya ke hadapan Damar.
Damar ikut tersenyum sembari meraih tangan Iris dan melepas cincin yang sebelumnya melekat di jari manis wanitanya itu.
"Cincin bukan dari ku,aku cemburu. Aku tidak mau kau memakai cincin ini karena cincin dari Ardo. Aku menggantinya dengan cincin yang kubeli dengan jerih payahku,kendati tidak semewah dan semahal cincin pembelian Ardo. Aku harap kau mau memakainya dan tidak akan melepaskannya sampai kapanpun."
Iris lagi-lagi mengangguk tanpa mengatakan apapun.
Damar kemudian memasangkan cincin baru ke tangan Iris. Setelah selesai ia kemudian memberikan kotak yang sama ke hadapan Iris.
Setelah selesai memasangkan cincin ke jemari Damar,Iris kini berjinjit dan mengecup sekilas bibir Damar membuat senyum di bibir pria itu merekah.
"Terimakasih Damar. Sudah mau menerimaku apa adanya kendati ada banyak kekurangan dan banyak kesalahan yang pernah aku perbuat sebelumnya."
"Aku mencintaimu."
Iris memeluk erat tubuh Damar yang di balas oleh Damar dengan pelukan tak kalah eratnya.
Suara pintu rooftop yang terbuka membuat pelukan keduanya terlepas.
Terlihat nyonya Bagas dan Tuan Bagas masuk ke dalam diikuti Rima dan satu pria asing yang mereka duga adalah tunangan Rima.
Iris langsung berlari ke arah kedua orangtuanya dan memeluk mereka dengan erat.
"Terimakasih ma,terimakasih pa. Sudsh membantu Damar menyiapkan ini semua,Iris benar-benar bahagia dengan semua kejutan yang Iris terima malam ini."
Nyonya Bagas mengangguk. "Sama-sama nak,tapi selain pada mama,papa dan juga Damar,kau harus berterimakasih pada satu orang lagi. Karena dialah yang paling berjasa untuk semua kejutan yang kau terima malam ini."
Ucapan nyonya Bagas membuat Iris segera melepaskan pelukannya.
Perasaan Iris langsung tak enak.
Dalam hati ia sudah menebak siapa orang yang mamanya maksud.
Benar saja,tak lama setelah Iris berpikir demikian,seseorang menyusul masuk dan berdiri tak jauh dari Rima dan tunangannya.
Iris membuang wajahnya ke arah lain.
Kedua pipinya mendadak panas menahan malu.
Usapan di bahu kirinya membuat Iris kembali menoleh.
Terlihat Damar mengerling nakal menggoda Iris membuat gigi wanita mengetat geram.
"Minta maaf pada nona Olivia." Suruh Damar dengan nada berbisik.
__ADS_1
Iris menggeleng. "Tidak mau,kau saja yang wakilkan."
"Mana bisa begitu,kau yang salah. Kau harus bertanggung jawab sayang,kau sudah cemburu buta padanya loh." Damar makin gencar menggoda Iris membuat Iris makin malu.
"Damar...,aku tidak mau!!"
Wanita itu merengek bak anak kecil sembari sesekali melemparkan pandangan sinis ke arah Olivia yang hanya menyengir setiap kali mendapat lirikan sinis dari Iris.
Melihat kelakuan Iris yang kekanak-kanakan,Damar mau tak mau mengambil tindakan dengan menggendong Iris dan menurunkannya tepat di hadapan Oliv.
"Ayo minta maaf." Suruh Damar seperti pada anak kecil.
Iris mengulurkan tangannya dengan ogah-ogahan.
"Maaf." Ujarnya singkat.
Dengan isengnya Damar menarik kedua tangan Iris membuat Iris terpaksa berpelukan dengan Oliv..
Damar menepuk-nepuk kepala Iris dengan lembut.
"Yang akur ya sayang,setelah ini temani aku untuk melamar nona Oliv menjadi istri keduaku."
Setelah mengatakan hal tersebut Damar langsung berlari di menjauhi Iris yang kini tampak mengejarnya dengan penuh emosi.
"Damar awas kau!! Malam ini akan ku potong aset berhargamu!!"
Iris berteriak sembari melepaskan sepatunya untuk melempar Damar yang masih berlari menjauhinya.
"Ampun nona,aku bercanda. Aku tidak mau menikah lagi,aku hanya mencintaimu."
"Mencintai nona Iris Maharani Bagaskara. Calon ibu dari anak-anakku kelak."
Suara Damar bergema menimbulkan echo yang memantul ke seluruh sudut rooftop.
"I LOVE YOU!!"
Teriak Damar saat satu capitan mendarat di pelukannya.
Iris pelakunya,wanita itu tengah mencubiti Damar setelah berhasi mengejar dan menangkap Damar.
"Masih mau cari istri lagi?" Tanya Iris sembari mengerakan capitannya.
"Tidak." Jawab Damar sembari menahan rasa sakit di perutnya.
"Janji?"
"Aku berjanji."
Setelah berkata seperti itu,Damar langsung menarik tengkuk Iris dan menempelkan bibir keduanya membuat cubitan Iris terlepas seketika.
Aksi keduanya mengundang sorakan dari beberapa orang yang menyaksikan tingkah keduanya.
"I love you more." Bisik Iris sembari menjatuhkan kepalanya ke dada Damar,menyembunyikan raut malunya dari orang-orang yang menyaksikan tingkah mereka.
Damar mengeratkan pelukannya. "Terimakasih nona muda,hari ini kita akan memulai semuanya dari awal dan mengakhiri semuanya saat maut memisahkan kita nanti. Terimakasih juga,karena sudah menerimaku dan mau bersanding dengan laki-laki sederhana sepertiku."
"Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu,sekarang dan selamanya."
~End~
Akhirnya guys,kita sampai di tahap akhir.
Banyak sekali kekurangan di dalam novel ini,sebagai author yang benar-benar masih haris banyak belajat aku sadar kalau aku belum bisa memberikan sepenuhnya novel yang "wah" untuk para pembacaku.
Maafkan untuk ending yang tidak terlalu memuaskan.
Setelah ini,aku akan belajar dan terus berupaya untu membuat cerita yang menghibur kalian. Aku juga akan terus belajar untuk menghadirkan novel2 yang lebih baik lagi ke depannya.
Tetap dukung aku dengan membaca karya2 ku. Bantu aku menjadi penulis yang lebih baik dengan meninggalkan kritik dan saran kalian karena kritik dan saran kalian akan sangat membantuku.
Terimakasih dan jika kalian masih ingin meluangkan waktu,silahkan mampir ke Terjerat Pesona Anak Majikan dan beri dukungan kalian di sana.
Terimakasih dan maaf jika banyak typo ataupun salah kata,salah kalimat selama menulis.
Salam literasi,sampai jumpa di Karya selanjutnya.
__ADS_1