
"Apa-apaan ini?" gumam Sofia, "A Dani, A Wawan kan baru pulang. Nyuruh yang lain aja lah."
"Kalau ada yang bisa aa suruh, sudah dari tadi dokumen ini nyampe di tangan Pak Lurah." Dani mengangkat dan memperlihatkan apa yang tengah ia pegang. "Bilang aja kamu cemburu sama anaknya Pak Lurah," lanjut Dani dengan ekspresi menyebalkan membuat Sofia mendelik.
Sofia melirik suaminya yang tengah menghabiskan makanan. Yang membuat dia semakin sebal tak lain karena Wawan terlihat mengulun senyum.
Usai makan Wawan mengantarkan berkas yang diberikan oleh Kakak iparnya. Namun sebelum ia menyalakan motor ia menatap sang istri yang tengah memakai hoodie dan berjalan ke arahnya.
"Mau kemana?" tanya Wawan.
"Nemenin kamu biar bapak gak dimarahin bapak lagi," jawab Sofia seraya naik ke atas motor. Perempuan itu masih belum menyadari kalau dirinya mulai cemburu, mulai ada rasa tak nyaman jika suaminya dilirik perempuan lain.
Hal kecil yang membuat seseorang merasa dicintai adalah orang yang dicintainya menunjukan rasa cemburu. Sepanjang jalan Wawan terus melukiskan senyum di bibirnya. Sesekali ia menoleh ke arah tangan sang istri yang tengah memeluk pinggangnya erat. Entah karena takut jatuh sebab hari sudah malam atau memang seperti yang dikatakan Dani tadi. Istrinya tengah cemburu pada anaknya Pak Lurah.
"Nih!" Wawan memberikan berkas titipan Dani pada istrinya saat tiba di depan rumah Pak Lurah.
"Kok dikasih ke aku?" Sofia menunjukan ekspresi kebingungan.
"Kamu aja yang ngasih ke Pak Lurah. Aku tunggu di sini."
"Kasih aja sendiri. Gak usah ge-er dengan perkataan A' Dani tadi, aku gak cemburu sama kamu dan Rahma," balas Sofia dengan menyilangkan kedua tangan di dada.
"Masa sih?" Wawan tersenyum menggoda seraya turun dari motor. Menekan bel dan tak lama pintu terbuka. Seorang perempuan tengah membenarkan kerudung menghampirinya. Dialah Rahma.
Senyum gadis itu mengembang saat melihat Wawan berdiri di hadapannya. Namun semua seperti tepung yang dihempas angin saat melihat Sofia tengah melipat tangan dan menatapnya dari motor.
"Kang? Sofia?" Gadis itu menyapa, berusaha tetap ramah meski hati sungguh tak karuan. Apalagi tatapan sofia seperti tengah ingin mengulitinya.
"Bapak ada? Ada titipan dari A Dani, katanya harus sampai ke bapak langsung."
"Bapak di dalam, masuk aja, Kang."
Sofia menatap Wawan yang tengah membelakanginya. Menunggu apa suaminya akan menerima ajakan Rahma atau memilih menghargai keberadaannya.
"Tolong dipanggilkan aja, biar gak kemalaman," balas Wawan lalu menoleh dan tersenyum pada sang istri yang langsung memalingkan wajah.
Rahma sendiri masuk ke dalam rumah, tak lama datang kembali bersama ayahnya.
__ADS_1
"Kok gak masuk dulu, Wan?" sapa Pak Lurah.
"Takut kemaleman, Pak. Bawa istri soalnya." Dia tetap menunjukan sopan santunnya.
Pak Lurah mengangguk pada Sofia untuk menyapanya.
"Oh ya sudah. Terima kasih ya sudah diantarkan. Padahal bisa besok aja sekalian saya ke sana. Besok kan acaranya?"
"Betul, Pak, besok."
Rintik hujan membuat Wawan mengangguk dan pamit segera. Rupanya hujan lebat akan segera turun karena langit terlihat sangat gelap. Jangankan bintang, rembulan pun betah bersarang di tempatnya.
Di tengah perjalanan pulang, hujan lebat benar-benar turun. Terpaksa Wawan pun menepikan motor di sebuah pos ronda karena tak ingin sang istri basah kuyup.
"Kok berhenti di sini?"
"Hujannya sangat lebat, neduh dulu boleh kan?"
"Jangan nyari kesempatan dalam kesempitan ya." Sofia memberikan peringatan. Dia menatap penuh kewaspadaan dengan merekatkan jaketnya. Dia juga melirik ke arah kayu yang biasa digunakan warga untuk membunyikan kentongan. kalau suaminya berani macam-macam maka kayu itu akan menjadi senjata untuk melawan.
"Aku takut kamu sakit kalau kita memaksakan pulang sambil ujan-ujanan. Aku belum tentu bisa merawat kamu sebaik kamu saat merawat aku beberapa hari lalu. Aku gak akan ngapa-ngapain kamu di sini, kalau mau ya di rumah aja," papar Wawan diakhiri kekehan kecil di akhir kalimat.
"Mau tambah pake jaket aku gak?" tawar Wawan saat melihat Sofia mengusap lengan karena dingin.
"Gak usah so romantis, perempuan itu gak suka dikasih pertanyaan tapi lebih suka pengertian."
"Ooohhh ... seperti ini?" tanya Wawan yang sudah melepaskan jaket dan memakaikannya pada tubuh Sofia. Tentu saja hal tersebut membuat bibir Sofia melengkungkan senyum.
Berada di jarak yang sangat dekat, tentu saja membuat hati kebat-kebit. Ada desiran aneh yang menghangat dan mengalir di dalam pembuluh darah. Apalagi jarak yang terlalu tipis membuat mereka saling merasakan hembusan nafas.
Sofia memejamkan mata. Entah kenapa yang terbayang di benaknya adalah adegan romantis seperti dalam sebuah drama. Tidak ada lagi bayangan Hakim yang melintas di dalam benaknya. Dia lupa pada pria yang selama tiga tahun merajai hatinya.
"Huuuuhh." Wawan meniupkan nafasnya membuat Sofia mengerjap dan kembali membuka mata. Dia menyentuh bibirnya yang tidak disentuh sama sama sekali. "Kenapa?" Wawan menatap heran pada sang istri membuat yang ditatap menggelengkan kepala.
"Astaga Sofia apa yang kamu pikirkan," rutuk Sofia di dalam hati.
Bukan hanya mereka yang berteduh di pos ronda. Dua motor yang dibawa oleh dua pasangan anak manusia juga ikut berteduh di sana. Jika dilihat dari pakaiannya, rupanya mereka masih anak sekolahan. Namun sikap mereka jauh lebih romantis dibanding Sofia dengan suaminya. Mereka bahkan tak segan saling memeluk untuk menghangatkan satu sama lain. Mereka seperti tidak punya malu, atau mereka tidak menyadari keberadaan Wawan dan Sofia di sana.
__ADS_1
"Mereka gak malu apa ya?" bisik Sofia yang akhirnya memangkas jarak dengan suaminya.
"Enggak lah, buktinya mereka santai aja. Kalah romantis kita sama mereka," kekeh Wawan sedikit menundukan wajah karena Sofia persis ada di depannya dan tengah mendongak.
"Kalau aku sih malu ya ciuman di depan orang lain kayak gitu. Kayak gak punya malu aja rasanya."
"Berarti kalau di rumah gak masalah ya kalau aku cium," goda Wawan dengan tersenyum jahil membuat Sofia memukul dadanya.
Tangan yang tengah memukuli dadanya itu Wawan ambil untuk digenggam. Membawanya ke arah bibir dan menciumnya.
"Terima kasih sudah mau bersentuhan denganku. Begini saja aku sangat bahagia, Sofia," ujar Wawan memejamkan mata. Mengalirkan rasa dari tangan yang tengah ia genggam.
***
Di rumah Pak Lurah selepas pintu kembali ditutup, Rahma mendadak membisu. ketika ditanya kenapa oleh pak Lurah ia hanya menjawab dengan mengedikan bahu. Tayangan di televisi yang tadi ia tonton kini tak menarik lagi. Ia bangkit ke kamarnya. Pak Lurah dan istrinya saling melirik dan bertanya.
Di dalam kamar Rahma duduk menghadap jendela. Menghitung rintik yang membasahi bumi. Dia ingin melupakan Wawan namun bayangan pria itu seolah enggan menjauh darinya. Dia pun memejamkan mata untuk menepis rasa yang tidak mau mengerti keinginannya.
"Kenapa? Tadi kamu baik-baik aja tapi sekarang kok murung? Cerita sama ibu, Nak," kata Bu Lurah menyentuh pundak putrinya. Bahkan kedatangannya tidak di sadari oleh putrinya.
"Aku gak papa, Bu." Rahma berbalik dan memamerkan senyum.
Bu Lurah duduk di sebelah putrinya, "Kamu bisa berbohong pada orang lain, Nak, tapi tidak pada ibu. Jangan sungkan untuk berbagi sama ibu. Seorang ibu tidak akan menghakimi putrinya."
Rahma mengangguk namun tetap belum ingin bercerita, dia memilih memeluk sang ibu untuk mengurai gundah di dalam dada.
***
Hujan tak kunjung reda, namun tidak sederas tadi. Karena hari sudah sangat malam dan di pos ronda tinggal mereka berdua, mereka pun memutuskan untuk pulang dengan menerobos gerimis. Tak lagi memedulikan jika pakaiannya basah.
Mereka tidak pulang ke rumah Dani melainkan ke rumah sederhana mereka.
"Duduk sini biar aku keringkan rambutnya," titah Wawan setelah sama-sama mengganti pakaian. "Ayo biar kita cepat istirahat."
"Tapi ...." Sofia tampak ragu apalagi yang ia takutkan jika bukan senjata suaminya. Meskipun belum pernah merasakan tetap saja ia bukan perempuan yang polos-polos amat.
"Aku gak bakal ngapa-ngapain kamu. Aku cuma mau membantu mengeringkan rambut biar kamu nyaman saat tidur. Atau kamu ... takut ini?" Wawan menundukan pandangan ke arah miliknya.
__ADS_1
"Iiiiiiiihhhhh dasar mesum," teriak Sofia melemparkan bantal ke arah suaminya yang tertawa.