Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Merawat Suami yang Sakit


__ADS_3

Pulang dari sawah, Pak Yanto dan Bu Asmirah meminta Dani untuk mengantar ke rumah Wawan setelah mendapat kabar dari salah satu tetangga. Sampai di rumah anak dan menantunya, sepasang suami istri itu berpapasan dengan Pak Mantri yang akan pulang setelah memeriksa Wawan.


"Menantu saya sakit apa, Pak?" tanya Pak Yanto masih di ambang pintu.


"Kang Wawan demam, Pak, suhunya tubuhnya sampai 40°C. Sudah saya kasih obat, tapi kalau nanti demamnya belum turun juga bawa langsung ke klinik. Saya ada di sana," ujar pria yang di sebut Pak Mantri. Pak Mantri di sini seorang dokter yang membuka praktek di rumah. Orang kampung kebanyakan menyebutnya Pak Mantri.


"Oh iya hatur nuhun, Pak," kata pak Yanto yang artinya terima kasih.


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit. Masih banyak tugas," kekehnya seraya menyampirkan tas yang ia bawa ke pundak.


Setelah Pak Mantri berlalu bersama motornya beliau baru masuk sedangkan Bu Asmirah sudah masuk dari tadi. Sekarang tengah membuatkan sup ayam dan nasi lempah untuk Wawan makan. Katanya harus makan yang lembut-lebih dulu karena Wawan mengeluh sakit tenggorokan. Bagaimana tidak sakit sejak kemarin siang tidak ada cairan yang masuk ke tubuhnya.


Tatapan tajam dari bapak sendiri membuat Sofia tak berani membalas tatapan tersebut apalagi melawan. Di sini jelas dia yang salah, gara-gara ingin menemui sang pujaan hati, kemarin ia pergi dalam keadaan hujan. Sudah tentu sebagai suami Wawan akan khawatir dan akibatnya sekarang seperti ini. Wawan demam dan mengeluh linu sekujur tubuh.


"Dari mana kamu kemarin?" tanya Pak Yanto menarik putrinya ke dapur. Kalau diintrogasi di ruang tengah sama saja mengganggu menantunya yang tengah istirahat. Hal itu dilakukan Pak Yanto juga untuk tidak membuat malu di hadapan pria yang jadi suaminya.


"A Dani yang lapor ke bapak?" Sofia balik bertanya.


"Tidak penting siapa yang lapor." Pak Yanto menhibaskan tangan dan menatap tajam pada putryinya, "yang jelas apa yang kamu lakukan itu salah, Sofia. Kamu mau menemui pria itu kan? Kapan sih kamu ini mengerti dan bersikap dewasa. Takdir itu gak bisa dipaksakan dan takdirmu adalah menikah dengan nak Wawan," tekan Pak Yanto.


"Bisa," balas Sofia dengan nada tinggi. Bu Asmirah yang sedang mencuci pakian basah di kamar mandi sampai harus keluar. "Buktinya aku. Bapak merubah takdirku dengan Hakim menjadi dengan Wawan."


"Sofia!" Bu Asmirah menengur dengan suara lembut dan menggelengkan kepala. Semakin dilawan maka Pak Yanto akan semakin keras. Keputusannya adalah keputusan mutlak. Tidak bisa diganggu gugat. "Pak ...." Bu Asmirah mencegah tangan sang suami yang hampir melayang ke pipi putrinya.


"Sekali lagi kamu melakukan hal seperti kemarin. Jangan anggap lagi bapak sebagai bapak kamu," tukas Pak Yanto sebelum meninggalkan istri dan anaknya.


"Bu ...," Sofia merangsek ke dalam pelukan sang ibu.

__ADS_1


"Nurut, Fi, Ibu bilang nurut sama Bapak. Pilihan bapak sudah pasti pilihan yang baik. Ingat kata Bu ustadzah, kita hanya mengumpulkan keinginan, kalau pun Allah memberikan bukan yang kita mau berarti itu yang terbaik versi Allah. Syukuri itu."


"Tapi aku gak mencintai A Wawan, Bu." Sofia mendongak, menatap snah ibu dengan wajah berkaca-kaca.


"Ibu tahu ...." Tangan Bu Asmirah tak berhenti mengusap puncak kepala putrinya, "tapi harus dibiasakan menerima dan mencintai. Sekarang dia yang bertanggung jawab atas kamu bukan lagi kami. Hargai dia, lihat pengorbanannya, lihat sikapnya. Jika ia dzolim maka ibu sendiri yang akan mengambil kamu darinya. Selama dia tidak dzolim, maka putuhilah perintahnya."


Tak salah jika ibu dikatakan salah satu makhluk mulia yang harus dihormati setelah para nabi, khalifah dan para pemimpin pada zamannya. Ada juga yang menyebutnya sebagai malaikat tanpa sayap karena hatinya yang lembut bisa meluluhkan kerasnya hati sang anak.


Kalimat yang diucapkan bu Asmirah memberikan rasa tenang bagi Sofia. Hanya saja ia belum bisa menerapkan yang dikatakan ibunya dalam waktu dekat. Rasanya belum sanggup.


"Sudah, ambilkan makanan untuk suamimu." Bu Asmirah menyudahi petuahnya.


"Ibu saja lah. Aku takut salah terus diomeli lagi sama Bapak."


"Kamu ini." Tak pelak meskipun begitu Ibu tetap mengambil makanan yang telah dia masak untuk menantunya.


Sampai matahari hampir terbenam, langit pun sebagian sudah terlihat gelap, demam Wawan tak kunjung turun padahal sudah minum obat. Tubuhnya panas tapi Wawan bilang ia kedinginan. Dua selimut besar tak membuat tubuhnya berhenti menggigil.


"Kita bawa ke klinik aja, Pak," kata Bu Asmirah dengan wajah cemas. Seorang ibu selalu demikian meski yang sakit bukan anak yang lahir dari rahimnya. Apalagi sekarang orang yang sakit sudah menjadi bagian dari keluarganya.


Keluarga Wawan belum ada yang memberi tahu. Biarlah mereka yang merawaatnya sendiri akrena masih mampu.


"Telepon A Dani, suruh pinjam mobil Pak RW." Pak Yanto minta Sofia menghubungi anak sulungnya.


"Pakai motor aja juga bisa kan, Pak. Iya, iya aku telepon A Dani dulu." Sofia tak berkutik ketika kembali mendapat tatapan tajam dari ayahnya. Dalam hati terus menggerutu, sumpah serapah untuk Wawan yang dianggap menyusahkan tertahan ditenggorokan. Andai bapak dan ibunya tidak ada sudah pasti sumpah serapah itu meluncur bebas tanpa hambatan dari bibirnya.


"Maaf merepotkan Pak RW," ujar Pak Yanto saat orang yang dimaksud datang dan membantu memapah Wawan ke dalam mobil.

__ADS_1


"Merepotkan apa, Pak. Saling tolong menolong mah sudah kewajiban sesama makhluk," balas Pak RW santai. "Kang Wawan teh sakit apa?" tanya Pak RW seraya duduk di kursi kemudi siap mengemudikan mobil.


Pak Yanto dan istrinya turut serta, begitu juga dengan Sofia. Mau tak mau ia harus ikut jika tak ingin diceramahi lagi oleh orang tuanya.


"Kata Pak mantri mah demam biasa, tapi panasnya gak turun-turun," jawab Pak Yanto yang duduk di samping kemudi.


Sampai di klinik Wawan langsung mendapat perawatan dan diambil sample darahnya. Kata perawat khawatir terkena demam berdarah. Dokter yang memeriksa juga menyarankan untuk dirawat inap. Mendengar penuturan dokter Sofia mendelik. Benar-benar merepotkan, umpatnya di dalam hati.


Saat disuruh masuk untuk menunggu pun Sofia masih jebras-jebris.


"Ingat pesan Ibu." Bu Asmirah mengusap pundak putrinya. Dia tahu anaknya enggan untuk merawat menantunya tapi ia pun tak bisa berbuat banyak. Kewajiban tetaplah kewajiban yang harus ditunaikan, entah itu dibarengi cinta atau tidak. Cinta adalah landasan rumah tangga jika dilihat dari kacamata dunia. Namun kepatuhan dan keridhoan sang istri pada suami dalam rumah tangga meski tanpa cinta akan mendatangkan pahala untuknya.


.


.


.


.


.


.


.


NB: Ada yang tahu arti jebras-jebris. Yang tahu silahkan komen ya untuk diperbaiki.

__ADS_1


__ADS_2