
Iris m3r3m4as-m3r3m4as ujung bajunya hingga kusut. Sudah setengah jam berlalu sejak pulang dari kantor polisi tadi,saat ini bunyi gemericik air di dalam kamar mandi terdengar mengisi kesunyian kamar itu.
Sepulang dari kantor polisi tadi,Damar langsung berjalan ke kamar dan saat Iris menyusul,Damar justru berlalu ke kamar mandi dan saat ini di tengah-tengah dorongan ingin menjelaskan,Iris malah di harus menunggu Damar yang entah kapan selesai mandi.
"Klek.." Pintu kamar mandi terdengar dibuka.
Iris menoleh,terlihat Damar keluar dengan hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian pribadinya hingga sebatas lutut.
Iris memalingkan wajahnya ke arah lain,berhadapan dengan Damar yang tidak mengenakan pakaian membuatnya merasa malu.
"P..perlu aku bantu ambilkan baju ganti?" Tanya Iris,masih dengan posisi menghadap ke lain arah.
"Tidak usah." Terdengar jawaban singkat dan tegas keluar dari bibir Damar.
Tak lama setelahnya Iris mendengar seperti langkah kaki orang berjalan. Iris memberanikan diri untuk menoleh,terlihat Damar berjalan menuju pintu,seperti hendak keluar. Melihat hal itu Iris lekas turun dari kasur,hendak menyusul.
"Damar,tunggu sebentar."
Damar berbalik seraya menaikkan satu alisnya.
"K..kau mau kemana?"
Terlihat laki-laki itu menghela napas,seolah malas berinteraksi dengan Iris.
"Istrirahatlah dulu. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di luar."
Iris terdiam sebentar,nada bicara Damar barusan sudah tidak sekaku tadi. Agaknya emosi pria itu sudah mereda,walau demikian. Iris sendiri belum berani mengambil kesimpulan.
Melihat Iris diam,Damar kembali memutar knop pintu. Namun pergerakannya lagi-lagi tertahan oleh pertanyaan Iris.
"Mengerjakan apa? Penjelasannya bagaimana?" Tanya Iris dengan nada bicara yang tergolong pelan namun masih bisa di dengar dengan jelas oleh Damar.
"Nanti saja. Aku ada pekerjaan."
Setelah berkata dengan kalimat sependek itu. Damar akhirnya benar-benar berlalu keluar,meninggalkan Iris yang hanya bisa terbengong di tempat karena bingung menyelami apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Damar.
"Klek.." Bunyi pintu yang tertutup menyadarkan Iris dari kebingungan.
Merasa tak ada pilihan yang bisa diambil,Iris lantas membalikkan badan dan kembali berjalan mendekati ranjang tempat tidur lalu sepersekian detik setelahnya tubuh Iris di atas permukaan empuk tersebut.
Sepanjang berbaring,pandangan Iris melayang ke atas bersamaan dengan pikirannya yang juga berkelana. Untain kalimat penjelasan perlahan terangkai di dalam pikiran Iris satu persatu.
Setelah Damar kembali nanti,perempuan itu akan menjelaskan tanpa menunggu Damar mengingatkan.
Namun,dua jam berlalu pandangan Iris mulai sayu. Damar yang katanya ada pekerjaan di luar ternyata memang tak main-main dengan ucapannya sebab sampai saat ini pria itu belum juga kembali ke kamar.
Kantuk mulai menguasai,area kelopak mata Iris mulai sulit diajak bekerja sama,ia yang tadinya berniat menunggu Damar nyatanya tak sanggup melawan kantuk hingga akhirnya terlelap dengan posisi miring sedikit hampir jatuh karena terlalu ke pinggir.
♡♡♡
Damar kembali ke kamar berselang beberapa menit setelah Iris terlelap. Sesaat setelah ia masuk,fokus mata pria itu langsung tertuju pada tepian kasur tempat dimana sang istri berada.
Raut wajah kesal langsung tercetak saat ia mendapati posisi tidur Iris yang terlalu ke samping.
__ADS_1
Dengan cepat Damar bergegas membetulkan posisi Iris. Setelah memposisikan Iris berada tidak terlalu ke tepi dan tidak terlalu ke tengah,Damar melepaskan sendal rumahan yang ia tadi kenakan lalu menyusul baring di sebelah Iris.
Pelan-pelan pria itu menyerongkan tubuhnya, menyamping ke kanan mengamati lebih lekat sosok yang akhir-akhir ini memperdayai pikirannya namun tak jarang juga membuatnya kesal setengah mati.
Di rapikannya anak rambut yang menutupi beberapa titik permukaan wajah Iris. Setelah anak rambut tersebut dirapikan,Damar mengangkat sedikit kepala Iris lalu menyelipkan lengannya diantara ceruk leher dan kepala gadis itu.
Sekian menit sudah mengamati raut wajah sang istri dari dekat,Damar akhirnya ikut terlelap bersamaan dengan deru napas Iris yang berhembus perlahan menerpa permukaan ceruk leher Damar.
♡♡♡
Suara recokan yang bersumber dari perut seseorang di sebelahnya mau tak mau membangunkan Iris dari tidur lelapnya.
Sempat tergugu sebentar sebelum akhirnya Iris tersadar ada sebelah tangan yang melingkari perutnya dan sebelah tangan lagi yang saat ini menyangga kepalanya.
Pandangan Iris yang tadi mengabur kini fokus dengan napas sepenuhnya tercekat saat menyadari sebuah dada bidang berada tepat di depan matanya.
Pandangan Iris naik lagi ke atas dan kini sepasang mata berbulu lentik itu benar-benar di buat terbelalak oleh keberadaan makhluk yang wajahnya tengah ia tatap kini.
"Kenapa dia memelukku?" Batin Iris mulai bergumam setelah beberapa saat yang lalu sibuk menetralisir keterkejutannya.
"Eugghh..."
Lenguhan Damar berhasil membuat jantung Iris berdetak dua kali lebih cepat.
Bulu mata pria yang tengah ia tatap itu perlahan bergetar,kondisi Damar yang sepertinya akan menyusul bangun membuat naluri Iris segera memerintahkannya untuk kembali memejamkan mata,berpura-pura tidur sepertinya tidak terlalu buruk daripada ketahuan sudah bangun dan kepergok tengah mengamati.
Terasa tarikan tangan Damar dari bawah ceruk leher membuat kepala Iris sedikit turun dari posisi awal.
Iris pura-pura mengerjab seolah dirinya juga baru bangun tidur. Memastikan aktingnya sudah meyakinkan Iris pun membuka mata sepenuhnya kini terlihatlah sepasang mata tajam milik Damar tengah menatapnya lekat.
"Sudah bangun? Sudah cukup beristirahat?" Suara serak bercampur nada berat mendahului menyapa gendang teliga Iris.
"Hm?" Iris menoleh dengan raut bertanya,tak mengerti kemana arah pembicaraan Damar itu.
"Jika sudah cukup beristirahat,pergilah ke kamar mandi. Basuh wajahmu lalu susul aku ke dapur."
Setelah memberi perintah,pria yang memiliki garis mata tajam itu berlalu turun dari kasur dan pergi ke luar tanpa meninggalkan pesan lain.
Iris yang lagi-lagi kebingungan dengan kelakuan Damar merasa tak punya pilihan sehingga ikut turun dari kasur lalu pergi ke kamar mandi mengikuti arahan yang sudah di anjurkan oleh Damar beberapa detik lalu.
Usai membasuh wajahnya dengan air dan mengelapnya dengan handuk kering. Iris pun berlalu keluar menyusul Damar.
Dari jarak sekitar dua meteran Iris sudah dapat menangkap siluet Damar,semakin dekat kini terlihat sepenuhnya bahwa pria itu tengah duduk sembari menggoreng sesuatu.
Saat Iris sampai,Damar juga menyelesaikan kegiatan memasaknya. Kini di dalam piring yang pria itu bawa ada empat lembar sandwich goreng yang di hidangkan pria itu di hadapannya.
"Di kulkas hanya ada roti,aku terlanjur lapar dan aku pikir membuat sandwich goreng seperti yang pernah kita buat waktu itu tidak terlalu buruk."
Iris mengangguk saja menanggapi ucapan Damar.
"Duduklah." Suruh Damar menyodorkan dua potong sandwich goreng ke hadapan Iris.
Lagu-lagi Iris menurut dalam diamnya.
__ADS_1
Damar masih terlihat bersikap kaku,pria itu mengiris-iris potongan sandwich tadi menjadi lebih kecil dan mulai menyuapkannya ke dalam mulut.
Hingga sepuluh menit berlalu pria itu akhirnya selesai dengan kegiatan makannya.
Kini ia beralih pada Iris. Menilik isi piring gadis itu yang ternyata juga telah tandas.
"Lumayan kenyang?"
Ucapan bernada tanya itupun mendapat anggukan dari Iris.
"Bisa kita bicara sekarang?" Tanya Damar setelah meneguk minuman di gelasnya sebanyak dua kali.
Iris mengangguk lagi.
"Bicaralah. Aku janji tidak akan menyela." Damar kini meletakkan gelas dan piringnya agak ke ujung. Melihat hal itu Iris mulai was-was.
"Dia menyingkirkan piring agak ke ujung untuk menghindari tragedi lempar-lemparan kah?" Batin Iris bertanya sembari menatap Damar dengan tatapan sedikit takut.
"Bicaralah.."
Damar menyuruh sekali lagi.
"A..aku.." Iris tergagap dengan kepala mendongak lurus,sejajar dengan garis pandang Damar.
"Aku..,se..sebenarnya ke..kejadian..."
"Srek.."
Damar mendorong segelas air ke hadapan Iris.
"Minum. Lalu bicaralah dengan nada yang jelas."
"B..baik."
Iris dengan cepat meraih minuman yang di sodorkan Damar lalu meminumnya dengan tempo sekian menit.
Usai menaruh gelas ke tempat semula. Iris pun kembali berbicara.
"Kejadiannya dua tahun lalu. Saat itu aku masih semester enam,malam sepulang kuliah beberapa teman sekelas mengajakku ke sebuah club untuk merayakan ulang tahun seorang kakak tingkat."
"Aku yang waktu itu merasa bosan di apartemen pun menyetujui. Kami pergi ke sana,dan sekitaran jam sembilan malam acaranya baru di mulai. Ternyata itu acara ulang tahun Ardo,dia kakak tingkatku di kampus dan kami berkenalan singkat di awal acara. Menjelang acara selesai,Ardo menghampiriku untuk kemudian menawariku minum."
"Karena ku pikir tak masalah minum sedikit. Aku pun menuruti ajakannya hingga ternyata aku mabuk malam itu."
"Setelahnya..." Iris terlihat terdiam sebentar.
"Damar..,maaf sebelumnya. Untuk yang ke selanjutnya sebenarnya aku tak terlalu ingat karena malam itu aku tak sadarkan diri dalam artian aku di dalam pengaruh alkohol. Namun satu yang pasti."
Jarak sekitar lima belas detik,Iris melanjurkan kalimatnya lagi.
"Ardo benar. Malam itu kami memang tidur bersama."
♡♡♡
__ADS_1