
Seseorang ketika tidak memiliki kemampuan memasak itu memang sangat merepotkan. Masih mending ketika di sekitar tempat tinggal ada yang jual nasi beserta lauknya. Bagaimana kalau tidak ada. Ada yang jual nasi lengkap dengan lauknya tapi tidak punya uang untuk membeli juga sama merepotkan.
Seperti yang dihadapi Sofia saat ini, uang ada tapi yang jualan tidak ada. Padahal sudah waktunya Wawan makan dan minum obat. Dia cukup kelimpungan karena biasanya Wawan yang memasak. Mau minta tolong sama tetangga takut dicemooh. Menunggu bapak dan ibunya datang pasti kena ceramah.
Nasi sudah matang karena masaknya menggunakan ricecooker. Itu pun tadi Bu Asmirah yang masak sebelum pamit pulang ke rumah. Masa iya orang dalam fase penyembuhan dikasih nasi doang.
Bahan masakan di dapur ada telor, buncis, wortel, juga ikan bandeng. Tentunya bahan itu disediakan Bu Asmirah juga. Alhasil Sofia memilih yang paling mudah dibuat yaitu telur dadar.
"Makan dulu!" ujar Sofia ketus tapi tetap mengambilkan nasi untuk sang suami. "Jangan minta disuapin biar cepat sembuh."
Sebelum menerima piring yang disodorkan sang istri, Wawan membetulkan letak bantal agar nyaman untuk bersandar. "Terima kasih ya. Ini Neng yang masak?" tanya Wawan setelah menerima piring. Senyum di bibirnya tak pernah pudar meski tak pernah dibalas oleh sang istri.
"Memangnya di rumah ini ada orang lain selain aku?" jawab Sofia tanpa menghilangkan nada ketus.
"Ada, kan 'Aa."
"Ha ha ha lucu," ejek Sofia. Dia bergegas mengambil minum dan menyediakan obat. "Kenapa?" Dia berbalik dan menatap suaminya.
Wawan tak bisa menyembunyikan ekspresi wajah ketika telur dan nasi itu masuk ke dalam mulut. Keasinan, namun Wawan tidak protes. Agar tidak menyinggung sang istri dan membuat semangat memasaknya luntur. Wawan tetap memakan telur tersebut, mengambil sedikit telur sadangkan nasinya dibuat banyak. Hal tersebut cukup membantu mengurangi rasa asin.
"Kok gak habis?" tanya Sofia yang muncul dari dapur dengan membawa segelas air.
"Sengaja 'aa sisakan biar, Neng, gak masak lagi. Capek kan kalau harus masak dua kali?" Tiba-tiba terbesit keinginan untuk menjahili istrinya.
Sofia menatap telur yang tersisa dengan penuh kewaspadaan. Bisa saja telur tersebut diludahi atau dijampi-jampi. Katanya kalau diludahi bisa bikin apet alias nempel terus. Sofia masih percaya akan hal seperti itu, tak jauh beda dengan Pak Yanto yang percaya mitos bahwa suku sunda tidak boleh menikah dengan suku jawa.
"Aman, gak dijampi-jampi kok. Tuh lapar kan?" Wawan menunjuk asal bunyi yang baru saja terdengar.
__ADS_1
Sofia mendengus dan mengutuk perut yang berbunyi tak tahu tempat. Sudah jelas itu sama seperti mempermalukan dirinya.
Tanpa kata, Sofia beranjak ke dapur membawa sisa telur di piring bekas Wawan. Dia sempat melirik dan membuat gerakan tangan memotong leher sebelum menghilang di balik pintu.
Wawan tergelak tanpa suara, lalu menghitung mundur. Tak lama terdengar piring pecah di dapur kemudian Sofia muncul dengan wajah memerah dan mata berair di ambang pintu.
"Kamu sengaja ya?" bentak Sofia. Suaranya naik hingga tujuh oktaf, Wawan saja sampai menutup telinga.
"Sengaja apa?" Wawan memasang tampang bodoh. Bibirnya berkedut ingin membentuk sebuah senyum namun ditahan. Bibir bagian bawah digigit agar tidak menyemburkan tawa.
"Telur itu asin," bentak Sofia menunjuk ke belakang tubuhnya, "kamu sengaja ya mau ngerjain aku?"
"Enggak," sanggah Wawan, "buktinya telur itu habis setengahnya sama 'aa. Sayang kalau dibuang. Mubazir."
"Gak usah pakai ceramah, dasar bukan suami idaman," dengus Sofia kembali ke dapur untuk membersihkan pecah kaca beserta nasi yang berserakan. Tak lama terdengar dia mengaduh. Sofia memang teledor hingga kakinya menginjak pecahan piring.
Peluh mengucur ketika Wawan mengangkat tubuh Sofia. Membawanya ke ruang tengah tempat di mana dirinya tadi berbaring.
"Kotak obatnya di simpan di mana?" tanya Wawan sedikit panik. Di rumahnya memang disediakan kotak obat untuk berjaga-jaga. Namun kotak itu sekarang tidak ada di tempat semula ia menyimpan.
"Di bawah kolong tempat tidur."
Di dalam kotak tersebut memang tersedia beberapa obat sakit kepala, obat mag, betadin, kasa, dan hansaplast. Sofia sempat mengira kalau Wawan ketergantungan dengan obat-obat tersebut, makanya sengaja ia sembunyikan agar Wawan marah. Akan tetapi malah ia sendiri sendiri yang kena batunya.
Wawan menggelengkan kepala untuk menghalau rasa pusing karena tadi bangkit secara tiba-tiba. Gegas dia ambil kotak tersebut untuk mengobati kaki sang istri.
Hati Sofia tiba-tiba berdebar ketika kakinya di sentuh oleh Wawan. Dia perhatikan wajah kuyu dengan keringat terlihat jelas di kening. Ada rasa kasihan ketika orang sakit bukannya istirahat malah mengobati dirinya yang teledor.
__ADS_1
"Apa-apaan sih, Sofia? Salah dia sendiri yang ngerjain kamu." Sofia bermonolog di dalam hati.
"Dah, besok pasti sembuh," kata Wawan seteleh membersihkan dan mengobati kaki sang istri.
"Sembuh ndasmu." Sofia bangkit untuk menghindari rasa yang tiba-tiba hadir tanpa diminta. Sungguh rasa itu membuat dirinya tidak nyaman. Saat menapakkan kaki dia meringis dan kembali duduk. "Gak usah mengejek."
Sofia yakin kalau Wawan tengah mengejek dan menertawakan dirinya di dalam hati. Padahal apa yang disangkakan hati belum tentu benar. Sebab Wawan justru tengah tersenyum karena Sofia tak menolak ketika kakinya ia sentuh. Wawan sempat mengira kalau Sofia akan bertingkah nyatanya tidak.
Hidup memang seperti itu, bukan? Pasangaka-sangka.
"Apa?" ketus Sofia karena Wawan terus tersenyum ke arahnya.
"Mau 'aa bantu pindah ke kamar?"
"Kayak yang kuat." Sofia mencibir namun seketika dia memekik karena Wawan mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba. Sontak Sofia mengalungkan ke dua tangannya ke leher sang suami. Wajah keduanya begitu dekat hingga saling merasakan hembusan nafas masing-masing.
"Aaaaaa," jerit Hanifa yang muncul di pintu tanpa diketahui kedatangannya. Sebelah tangannya menenteng rantang dan sebelahnya lagi digunakan untuk menutup mata. "Aku gak lihat kok. Sumpah."
Wawan langsung menurunkan Sofia karena malu dipergoki keponakan istrinya. Tengkuk bagian belakang diusap untuk menetralkan gejolak yang muncul di dalam dada. Begitu juga Sofia yang nampak kikuk. Hampir saja mereka menyatukan nafas kalau tidak diganggu oleh kedatangan Hanifa.
"Mang Wawan langsung sembuh ya kalau pulang ke rumah," goda Hanifa yang langsung kena lemparan bantal oleh Sofia. "Obatnya manjur." Gadis itu terkikik menutup mulut.
"Hani kalau muncul jangan kayak hantu. Hampir aja Mamang balik lagi ke klinik gara-gara jantungan."
"Bilang aja kalian keganggu."
"Hanifaaaa." Sofia melotot.
__ADS_1