
Waktu menunjukkan pukul delapan malam,deru mesin mobil yang dinyalakan berhasil mengusik pendengaran Iris membuat kelopak matanya yang baru saja terpejam sontak terbuka lagi.
Tidak salah lagi,Iris yakin pasti ada pergerakan di luar rumah sana.
Dengan langkah cepat Iris meraih jaket,ponsel serta kunci mobil yang sudah ia siapkan di atas nakas. Setelah memasang jaket,Iris pun bergegas keluar.
Dari celah tirai Iris bisa melihat sorot lampu mobil Damar berbelok kemudian keluar dari area pekarangan.
Setelah memastikan mobil Damar berbelok memasuki gang,Iris pun segera keluar lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Dengan gerakan cepat ia menyalakan mobilnya kemudian berbelok keluar gang.
Beberapa menit berlalu,kini mobil Iris sudah berjarak kurang lebih enam meteran di belakang mobil Damar.
Iris terus menutar stir kemudi dengan lincah mengikuti setiap arah pergerakan mobil Damar.
Jalan yang di lalui kini mulai dapat Iris tebak.
Arah Sofia Syafir. Iris yakin sekali jika Damar pasti akan kembali ke toko perhiasan itu. Kali ini Iris akan lebih hati-hati agar Damar tak kabur lagi seperti halnya tadi sore.
Pokoknya malam ini,bisa atau tidak. Iris harus menangkap dua manusia licik yang di duga tengah menjalin hubungan diam-diam di belakangnya itu.
♡♡♡
"Selamat malam pak,bu. Ada yang bisa kami bantu?"
Suara pramuniaga yang bertugas malam itu,menyapa penuh hormat saat Damar dan Olivia masuk ke dalam toko perhiasan super glamour tersebut.
"Kami berdua mau mengambil pesanan cincin pernikahan atas nama Damar Pradipta,apa sudah di siapkan?"
Pramuniaga yang tadi di tanya kini mengarahkan keduanya agar menuju ke stand yang di maksud.
"Pesanan atas nama pak Damar Pradipta? Pembelian dengan model FVVS Diamond Ring Elegan Gold Original 016?"
"Iya benar."
"Pesanannya sudah di siapkan ya pak."
Pramuniaga tadi menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna merah pada ke hadapan Damar dan Oliv.
"Sudah deal dengan model sebelumnya pak? Atau masih mau di tukar ke model lainnya? Ada beberapa koleksi lagi Sofia Syafir mulai dari model Bermoela dengan desain solitaire,KaMoela,TriMoela,dan ada juga koleksi elagan dan simple lainnya seperti Trauringe Weißgold dan 0.3ct Diamond. Tertarik untuk mencoba model lain pak? Kalau tertarik kami bisa keluarkan koleksi yang disebutkan tadi."
Damar menggeleng dengan senyuman samar.
"Saya sudah deal dengan pesanan awal. Bisa langsung di urus pembayarannya?"
__ADS_1
"Baik pak. Ini barangnya,bisa di bawa ke sebelah sana untuk transaksi selanjutnya pak."
"Terimakasih."
Damar langsung membawa kotak tadi menuju kasir untuk selanjutnya dilakukan transaksi pembayaran.
Usai dengan segala ***** bengek perbelanjaan cincin pernikahan barusan. Kedua insan tersebut keluar dari Sofia Syafir dengan posisi nyaris bergandengan.
"Dugh.."
Oliv nyaris nyusruk saat badannya tiba-tiba di hadang dan di dorong oleh seseorang dari arah belakang.
Ia dan Damar kompak menoleh ke belakang.
Bibir Oliv tak ayal langsung pucat setelah melihat sang pelaku yang sudah mendorongnya barusan.
"N..nona Iris? A..anda di sini?"
"Kenapa? Kaget?" Iris mengangkat sebelah alisnya dengan tampang menantang. Kedua tangannya ia sedikapkan di depan dada.
Saat ini posisi Damar,Iris dan Oliv tengah berada di parkiran. Karena waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam membuat kondisi parkiran sudah sepi.
Damar memberi kode dengan berdehem.
"Aku..!!"
"Sebentar sayang,aku bicara dengan nona Oliv dulu."
Damar seenaknya memotong ucapan Iris dan membawa Oliv mundur beberapa meter menjauhi Iris.
"Bagaimana ini pak?" Tanya Oliv panik saat ia dan Damar sudah berada di belakang mobil Damar. Meninggalkan Iris yang terlihat makin marah dengan kelakuan Damar.
"Apanya yang bagaimana?" Damar malah bersedikap santai menjawab pertanyaan panik dari lawan bicaranya ini.
"Ya itu. Nona Iris,beliau mungkin salah paham dengan saya. Apa perlu kita jelaskan saja di sini?"
Damar menggeleng. "Tidak usah. Saya mengajak nona ke sini sekalian untuk berterimakasih."
Damar kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik saku celana panjangnya.
"Ini kenang-kenangan sekaligus ucapan terimakasih dari saya untuk nona. Maaf sudah merepotkan nona beberapa hari belakangan ini,hadiah yang saya beri ini sebenarnya tidak ada apa-apanya. Tidak sebanding dengan bantuan nona bahkan nona pun bisa membelinya dengan karier yang nona punya saat ini. Tapi sebagai ungkapan terimakasih saya saya harap nona mau menerimanya."
Damar kemudian menyodorkan sebuah kotak berwarna biru gelap ke hadapan Oliv dan diterima oleh gadis itu dengan ragu-ragu.
"Ambil saja nona. Sebagai ucapan terimakasih dan maaf karena pernah menolak perasaan nona." Damar menyengir di akhir kalimatnya sementara Oliv merona malu mengingat kejadian seminggu sebelumnya.
__ADS_1
"Tolong jangan ingatkan saya dengan kejadian memalukan itu pak. Sekalian sampaikan permintaan maaf saya terhadap nona Iris. Saya tidak bermaksud untuk merebut suaminya,saya hanya terlalu naif kemarin."
Damar terkekeh ringan. Sekilas ujung matanya mengintip ke samping,terlihat Iris mulai berjalan mendekati mereka membuat ide jahil muncul di otak Damar.
"Jaga dirimu baik-baik nona." Damar menepuk-nepuk puncak kepala Oliv.
"Jaga dirimu baik-baik dan segeralah pergi karena sebentar lagi ada singa yang siap mengamuk." Damar melanjutkan kalimat akhirnya dengan berbisik sembari mendorong Oliv agar segera pergi.
Oliv yang paham dengan ucapan Damar segera mengambil langkah seribu bertepatan dengan sampainya Iris ke hadapan Damar.
"Pelakor tunggu kau!!" Iris meronta-meronta berusaha mengejar Oliv namun sayangnya Damar sudah lebih dahulu menahan Iris dengan cara memeluk pinggang wanita itu.
"Damar lepas!! Aku mau mengejar pelakor!"
"Sayang tenanglah." Damar setengah mati menahan bobot Iris yang serasa bertambah saat perempuan itu memberontak.
Iris berbalik dan menatap Damar nyalang.
"Tenang katamu??"
"Kau selingkuh dengan dia di depan mataku Iris bahkan..."
"Reservasi restoran yang bapak maksud sudah siapkan juga pak. Nanti malam saya kirimkan alamatnya!!"
Tiba-tiba suara teriakan dari arah ujung parkiran memotong ucapan Iris.
Iris menoleh ke sumber suara terlihat Olivia dengan kurang ajarnya tersenyum-senyum sembari melambaikan tangannya ke arah Damar dan Iris.
Sialnya lagi Damar bahkan melepaskan sebelah tangannya yang tadi melilit pinggang Iris hanya untuk membalas lambaian tangan Olivia.
"Terimakasih nona Olivia. Jangan lupa hadiah darj saya dipakai besok." Balas Damar tak kalah antusias.
"Dugh.."
"Ugh.." Damar melenguh perih saat perut bagian sampingnya di sikur kuat oleh Iris.
"Janjian apa kalian hah??" Iris kali ini benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi.
Damar tersenyum merekah sembari menangkup wajah Iris yang kini terlihat seperti ikan nila kehabisan oksigen.
"Rahasia sayang. Besok kuberitahu."
♡♡♡
Sudah bisa menebak akhirnya bagaimana guys??
__ADS_1