Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Menyapa Tetangga


__ADS_3

Suara kicauan burung-burung,serta hangatnya sinar sang surya perlahan memasuki celah-celah ventilasi kamar tempat dimana ada dua insan yang menikah dengan paksaan kini tengah tertidur lelap dengan posisi saling menghangatkan.


"Hoaammm.." Damar menguap lebar menyambut pagi minggunya kali ini dengan rasa hangat dan nyaman.


Entah karena efek apa,sepertinya Damar belum menyadarinya. Bahkan mungkin kini Damar tak sadar jika..


"Apa ini?" Batin Damar saat merasakan kulit lembut yang melingkar di perutnya.


Damar seketika terduduk dengan raut wajah kaget.


"Astaga nona Iris!!!" Teriaknya cukup kencang.


Membuat gadis yang tadi sudah kaget makin bertambah kaget.


"Ada apa Damar? Apa yang terjadi?" Tanya Iris dengan raut khawatir.


Damar menatap Iris dengan tajam.


"Harusnya saya yang bertanya seperti itu,apa yang terjadi semalam. Kenapa nona bisa tidur sekamar dengan saya? Bukankah semalam..."


Damar tidak jadi melanjutkan ucapannya saat melihat Iris kini tersenyum lebar memamerkan giginya yang putih bersih.


"Ishh,kau itu. Tidak usah shock begitu,mukamu lucu. Aku jadi ingin memakan mu hahaha.." Tawa Iris seketika meledak tanpa mempedulikan raut wajah Damar yang terlihar masam.


"Nona jaga bicara anda! Sekarang jelaskan pada saya,kenapa nona bisa masuk lagi ke sini padahal semalam saya sudah melarang nona dan juga mengunci pintunya. Bagaimana bisa nona masuk?"


"Tentu saja bisa. Aku membobol pintu kamarmu semalam,hahahaha..."


Iris lagi-lagi tertawa membuat Damar kesal bukan main.


Gadis yang adalah istrinya itu ternyata berulah lagi. Damar segera mendorong tubuh Iris yang menghalangi jalannya dan beranjak dari kasur untuk melihat kondisi pintu kamarnya yang sudah Iris buat jebol.


Damar berdecak sebal bukan main saat sampai di depan pintu. Knop pintu yang seharusnya menempel di sana sudah tak ada di tempatnya,bahkan lobang kuncinya pun sudah terlihat bolong.


Di bawahnya tampak ada sebuah obeng kecil dan palu yang sepertinya menjadi alat bagi Iris untuk merusak pintu semalam.


"Dasar istri durhaka." Umpat Damar dalam hati.


Damar pun memilih keluar dari kamar dengan perasaan kesalnya,sebelum benar-benar keluar. Ia sempat melayangkan tatapan sinisnya pada Iris yang seolah mengatakan.


"Awas kau nona Iris!!"


♡♡♡


Iris keluar dari kamar tempatnya dan Damar tidur semalam dengan raut wajah sumringah.


Sambil membawa handuk kecil dan handphone yang sudah ia siapkan di saku,ia pun keluar dari dalam rumah menuju jalanan komplek.

__ADS_1


Beberapa tetangga Damar juga terlihat mulai melakukan aktivitas pagi minggu mereka.


Ada yang membersihkan teras,memotong rumput,merapikan tanaman,menyiram bunga dan ada yang terlihat mengobrol-ngobrol dengan keluarga kecil mereka di teras rumah.


Sungguh pemandangan yang membuat Iris kagum. Karena ia baru pertama kali melihatnya.


Pemandangan yang baru dan berbeda dari di komplek perumahannya yang monoton.


Para tetangga yang ada di sekitaran rumah Bagaskara tentu adalah orang-orang sibuk,bahkan di hari minggu pun mereka jarang terlihat di rumah.


Jika pun ada di rumah,mereka tak pernah terlihat keluar bahkan untuk sekedar saling sapa. Begitulah kehidupan orang-orang kaya.


Iris menghela napasnya dengan pelan dan melanjutkan acara jalan-jalannya.


Baru beberapa kali melanjutkan langkahnya.


Tiba-tiba ada segerombolan wanita berdaster berjalan menghampiri Iris dan menyapanya.


"Pagi jeng..,tetangga baru kita ya??" Tanya salah satu dari ibu-ibu berdaster tersebut.


Iris tak langsung menjawab,melainkan menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan terlebih dahulu. Memastikan apakah benar ia yang di ajak berbicara.


Setelah memastikan memang benar hanya ada dia di situ,barulah Iris menjawab.


"Iya bu,saya Iris Maharani Bagaskara. Istrinya Damar Pradipta,yang baru pindah ke sini beberapa hari yang lalu." Jawab Iris jujur apa adanya,sambil menebarkan senyum ramahnya.


Salah satu ibu-ibu kembali menanggapi Iris dengan pertanyaan.


Iris mengangguk sambil tersenyum.


"Iya bu. Dia suami saya."


"Loh kok bisa? Kamu bukannya anak tuan Bagaskara yang punya usaha tekstil sama perhotelan yang cabangnya sampai manca negara itu kan? Kalau gak salah juga katanya kemarin mau menikah dengan tunangannya,siapa itu namanya..,anu.."


"Miliardo Pranaja Agler." Jawab Iris cepat dengan senyuman tegar.


"Seharusnya memang begitu ibu-ibu,tapi takdir berkata lain. Seperti berita yang beredar,dia tidak datang di hari pernikahan kami dan beruntung ada Damar yang mau menggantikannya. Jadi pernikahan saya hari itu tetap di lanjutkan."


Mendengar penjelasn Iris,sontak ibu-ibu yang jumlahnya lima orang itu memasang raut miris.


"Kasian sekali ya,tapi kamu tidak apa-apa memangnya? Harus menikah dengan pengantin pengganti yang mungkin tidak kamu cintai?"


Iris menggeleng. "It's okay. Damar sangat baik dan sabar,dan saya rasa saya mulai menyukainya. Lagipula kami sudah kenal sedari kecil. Dia anak yang cerdas dan pekerja keras." Jawab Iris membanggakan Damar.


Ibu-ibu tadi mengangguk paham.


"Haduh,syukurlah kalau ternyata kamu dapat suami pengganti yang baik. Ya walaupun sepertinya Damar tidak sekaya kamu,tapi dari keliatannya dia memang pekerja keras. Semoga kalian langgeng ya."

__ADS_1


"Amin bu." Jawab Iris lagi.


Dalam hati Iris juga berguman senang. "Ibu-ibu ini baik,aku kira mereka akan seperti teman-teman sosialita ku dan mama,yang menghina saat tau aku menikah dengan Damar,bukan dengan Ardo. Tapi ternyata mereka baik,aku bersyukur bisa berkenalan dengan orang-orang seperti mereka." Batin Iris.


"Oh iya,Ris. Itu,ngomong-ngomong kemarin-kemarin kami sering liat suami kamu berangkat dan pulang bersama seorang gadis dan kalau tidak salah gadis itu bukan kamu deh? Dia siapanya Damar? Maaf kalau terlalu pribadi,bukannya apa-apa. Takutnya.."


Ibu-ibu itu tak melanjutkan ucapannya karena merasa tak enak.


"Ah..,tidak apa-apa kok bu." Jawab Iris tenang. "Dia nona Rima,anaknya pak Ridwan itu,atasannya Damar di kantor,dia baik kok. Kami juga berteman cukup akrab,makanya kemarin-kemarin dia sering ke sini mengantar dan menjemput Damar. Berhubung,Damar memang belum punya kendaraan sendiri karena kemarin tabungannya di pakai untuk membeli rumah ini untuk kami."


"Makhlum,Damar tidak mau merepotkan saya. Walaupun papa pernah beberapa kali menawarkan pekerjaan di kantor bahkan jabatan tinggi,Damar menolaknya karena ia ingin kami memulai rumah tangga kami murni atas kerja keras kami berdua."


Jelas Iris sedikit di lebih-lebihkan.


Ibu-ibu tadi mengangguk paham dan langsung percaya,mereka pun tidak bertanya lagi tentang hubungan Damar dan Iris karena di rasa sudah cukup informasinya.


"Oh iya Ris,kamu kan baru menikah dan mungkin belum berpengalaman juga tentang apa saja peran ibu rumah tangga. Apalagi kamu,emm,maaf. Maksud saya,kamu kan anak orang berada. Mungkin kamu belum pernah ikut ibu-ibu belanja di bakul-bakul sayur keliling. Kamu mau ikut tidak? Sekalian belajar-belajar jadi ibu rumah tangga biasa seperti kami ini,mau tidak?"


"Maksud ibu belanja sayur di tukang sayur keliling?" Tanya Iris menerka.


Ibu-ibu tadi mengangguk kompak.


"Iya,mau ikut?"


Iris mengangguk cepat. "Mau bu,tapi sebentar.."


Iris mengeluarkan ponselnya,membuka casingnya dan melihat isi di belakang Hp nya.


Ada uang seratusan dua lembar di sana. Iris tersenyum lega.


"Ayo bu,saya ikut. Kebetulan saya bawa uang."


Iris berkata dengan nada semangat.


Namun sesaat Iris menyadari sesuatu. Ia tidak membawa keranjang ataupun tas belanja seperti yang ibu-ibu itu bawa.


"Bu,saya gak bawa tas buat belanja,gimana dong?"


"Tenang,nanti di sana di kasih kresek. Gampang kok." Jawab ibu-ibu tersebut menenangkan Iris.


Iris pun kembali lega dan mereka pun berangkat menuju gang depan untuk membeli sayuran dari tukang sayur keliling.


♡♡♡


Tetap nulis walaupun gak mood


Maaf ya kalau rada absurd...

__ADS_1


Jangan lupa like dan lainnya...


Kirim bunga kek, kopi kah,apa gitu..(ngelunjak nih gue😂)


__ADS_2