Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Ayo Pulang!!


__ADS_3

"Siapa yang memasak makanan ini?" Tanya nyonya Bagas.


Iris dan Damar kompak menunjuk satu sama lain membuat kedua orang tua yang ada di sana bingung.


"Jadi siapa yang memasak??" Tanya nyonya Bagas lagi.


"Damar.."


"Nona Iris.."


Jawab keduanya lagi dengan berbarengan.


Tuan Bagas menatap heran ke arah putrinya itu.


"Memang sejak kapan Iris bisa memasak?" Tanya tuan Bagas terang-terangan.


Muka seketika memerah. Ia pun tahu jika dirinya memang tidak bisa memasak,tapi ya...


Tidak usah di perjelas juga kali. Mau di taruh di mana mukanya saat ini??


"Pa..."


Iris memberenggut dengan raut masam.


"Loh,memang benar kan? Papa taunya kamu tidak bisa memasak loh Ris. Bukannya memang begitu?"


Iris mencebikkan bibirnya. "Iya,iya. Papa benar. Iris memang tidak bisa memasak. Yang memasak semua ini adalah Damar,awalnya memang aku yang berniat memasak. Tapi bukannya memasak,aku malah membuat dapur berantakan. Akhirnya Damarlah yang membantuku hingga terhidanglah makanan yang kalian santap sekarang." Jelas Iris dengan sejujur-jujurnya.


Nyonya Bagas yang sudah selesai makan,kini meletakkan sendoknya dengan posisi telungkup di atas piring. Ia kemudian beralih menepuk bahu Iris sambil bangun dari kursinya.


"Baguslah. Ka.u memang tidak seharusnya memasak dan menyentuh peralatan dapur Iris,kamu itu seorang nyonya muda. Akan sangat di sayangkan jika tangan lembutmu itu kau gunakan untuk menyentuh bawang-bawang yang berbau ini dan juga..."


"Ma,cukup! Jangan mengajari Iris yang tidak-tidak. Biarkan Iris menjalankan tugasnya sebagai istri,membantu dan melayani Damar juga mendukungnya di dalam pekerjaan adalah peran Iris."


"Jangan membuat Iris menjadi istri durhaka yang acuh tak acuh dan kurang ajar pada suaminya sendiri. Mama paham kan?"


"Mama ini sudah lebih dulu berumah tangga ketimbang Iris,mama ibunya Iris. Harusnya mama mengajarkan yang baik-baik pada Iris. Bukannya mengajari Iris menjadi istri yang tidak tau posisinya."

__ADS_1


Tuan Bagas benar-benar mengomeli sang istri dengan raut kecewanya.


Dulu setahunya nyonya Bagas itu wanita yang lemah-lembut dan tidak sombong. Bisa-bisanya hanya karena Iris menikah dengan seorang yang berbeda kasta,sikapnya berubah drastis.


"Kecewa papa sama sikap mama sekarang." Lanjut tuan Bagas lagi sambil beranjak dari kursi setelah mengelap bibirnya dengan menggunakan tisu.


Damar tertunduk di tempat saat melihat kedua mertuanya ribut. Ia merasa tidak enak karena menjadi sumber masalah di dalam keluarga Bagaskara.


Apalagi ini pertama kalinya ia melihat kedua mertuanya berseteru. Dan sialnya itu karena dirinya.


Sementara itu,Iris juga terlihat menyusul mama dan papanya yang saat ini terdengar kembali berdebat di ruang tamu rumah Damar.


"Ma..,pa..!!"


Sentak Iris pada kedua orangtuanya yang tengah bersitegang itu.


"Ris,kamu ikut mama pulang dulu ke rumah. Pikirkan baik-baik keputusan kamu sebelumnya,ingat Ris! Damar hanya suami pengganti kamu dan kurang dari satu bulan lagi kamu dan Damar akan bercerai. Tidak baik jika kalian malah tinggal serumah seperti ini! Ayo pulang!!"


Nyonya Bagas bermaksud untuk menarik tangan Iris namun gadis itu mengelak dan lari ke belakang Damar yang baru keluar dari arah dapur.


Mata nyonya Bagas melotot tak suka melihatnya.


"Iris gak mau pulang ma! Rumah Iris di sini,bersama Damar. Suami Iris."


"Ris!"


"Mama CUKUP!!" Sentak tuan Bagas dengan nada tinggi.


"Jangan memaksa Iris. Biarkan dia di sini. Pilihannya sudah tepat. Lagipula tidak ada yang akan menceraikan mereka berdua. Biarkan mereka saling memahami dan jika memang merasa cocok lanjutkan pernikahan mereka."


"Lagipula Damar itu lelaki yang cerdas dan pekerja keras. Apa mama lupa? Sekarang Damar sudah bukanlah pelayan,dia bekerja di kantor Ridwan dengan jabatan yang tinggi. Anak kita tidak akan mati kelaparan bersama dengannya. Lagipula jika pun Damar hanya seorang pelayan,ia tetap punya pekerjaan kan?"


"Jadi apa lagi yang mama khawatirkan? Jangan mengatur jodoh ma! Anak presiden saja belum tentu menikah dengan anak raja,apalagi Iris yang hanya anak pengusaha kecil seperti papa. Di sini mungkin keluarga kita terpandang ma,tapi mama jangan sombong."


"Di belahan dunia lain sana,ada banyak yang lebih kaya dari kita ma. Jangan terlalu meninggi karena di atas langit masih ada langit!"


"Hormati orang lain sebagaimana mama ingin di hormati. Mama mengerti kan?"

__ADS_1


Nyonya Bagas terlihat menundukkan kepalanya takut mendengar nada bicara suaminya yang sedari tadi terdengar tegas dan tinggi.


Jauh di sudut hatinya sepertinya wanita itu sadar jika apa yang ja perbuat memang keterlaluan dan sangat memojokkan Damar.


"Maaf.." Lirih nyonya Bagas setelah beberapa saat terdiam.


"Maafkan mama pa. Mama hanya terlalu sakit hati dengan gunjingan teman-teman arisan mama,mama malu karena selalu dijadikan bahan pembicaraan saat berkumpul. Saking sakit hatinya,mama akhirnya melampiaskan semuanya pada Damar. Mama minta maaf pa."


Kata nyonya Bagas dengan nada sungguh-sungguh.


Tuan Bagas menepuk pelan pundak istrinya itu kemudian merangkulnya.


"Sudahlah ma. Intinya jangan diulangi lagi,minta maaflah pada Damar dan biarkan ia dan Iris tinggal bersama di sini."


"Dan untuk urusan teman-teman arisan mama,besok papa yang akan temani mama di setiap acar mama dan kalau mereka berani berbicara yang tidak-tidak. Biar papa yang bungkam ucapan mereka."


"Atau kalau perlu,mama tidak usah lagi ikut acara begituan dan carilah lingkungan baru. Tidak baik berteman dengan orang-orang toxic ma,mereka bukannya menjadi support system yang baik malah memojokkan satu sama lain. Lebih baik mama jauhi mereka ya."


Nyonya Bagas mengangguk dalam diam.


Tuan Bagas kemudian beralih pada Damar yang terlihat lebih banyak diam dan menduduk.


Ia berjalan mendekati Damar dan menarik Iris yang berada di belakang Damar.


Setelah membuat posisi Damar dan Iris sejajar,tuan Bagas mengambil masing-masing tangan keduanya dan membuatnya bertautan.


"Damar,jaga putri saya ya. Sebentar lagi papa dan mama akan kembali ke rumah. Karena sekarang kamu suami Iris dan Iris sudah memilih untuk bersama kamu dan tinggal di sini maka mulai hari ini kami serahkan sehat sakitnya Iris untuk kamu jaga."


"Jika nanti atau suatu saat Iris membuat masalah,tolong tegur dia dan jika sebaliknya kamu merasa sudah tidak mampu menjaga Iris. Maka kembalikan dia secara baik-baik kepada kami. Kamu mengertikan dan mau kan menerima Iris sebagai istri kamu?" Tanya tuan Bagas memastikan.


Damar tersentak dengan ucapan tuan Bagas barusan.


Ia menarik napas dengan dalam kemudiaj menoleh pada Iris yang terlihat menatapnya penuh harap. Damar juga mengalihkan pandangannya pada nyonya Bagas.


Wanita paruh baya itu terlihat mengangguk kemudian berjalan mendekati Damar dan Iris lalu ikut menggenggam tangan keduanya.


"Mama merestui kalian berdua. Kamu Ris,jadilah istri yang baik untuk Damar. Dan Damar,jaga dan lindungi Iris sebagaimana mestinya peranmu sebagai suami. Kamu siapkan??"

__ADS_1


♡♡♡


Jangan lupa like vote komen...


__ADS_2