Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Pulang Bersama Rahma


__ADS_3

Hari ini Wawan akan kembali bekerja. Maka dari itu dia bangun lebih awal, mandi mencuci pakaian dirinya termasuk milik istri lalu menyiapkan sarapan.


Pintu kamar sang istri masih tertutup sejak kejadian tadi. Wawan berdiri di sana ingin mengetuk pintu namun tak lama pintu terbuka.


"Heh ngagetin aja," sentak Sofia sembari memegangi dada. "Bisa gak sih gak usah kayak gitu. Kamu itu kaya sengaja banget mau buat aku cepet mati."


Wawan mengerutkan kening, lalu tersenyum. "Justru aku ingin kamu panjang umur agar kita tetap bersama. Sarapan yo, sudah siang 'Aa harus kembali bekerja."


"Kerja? Terus nanti sakit lagi. Bikin aku repot lagi gitu maksudnya?" Sofia berjalan dan duduk lebih dulu, Wawan mengikuti di belakangnya.


"Justru Aa gak mau merepotkan kamu. Kalau aa gak kerja Neng mau dikasih makan apa? Cinta? Itu gak cukup."


"Terserahlah, gimana baiknya aja." Menyantap saran dan memilih mengakhiri perdebatan itu lebih baik ketimbang terus berdebat yang tidak akan menemukan ujung karena saling merasa benar.


Usai sarapan Wawan berangkat dan diantar sampai ke pintu oleh Sofia. Sebelum berangkat Wawan sempat berbalik badan dan mengizinkan istrinya ke luar rumah jika bosan. Karena sudah pasti bosan, Sofia pun memilih main ke rumah temannya yang sama-sama sudah menikah. Sayangnya nasib dia dan temannya tak sama karena pria yang menikahinya bukan pria yang diharapkan. Sedangkan temannya beruntung karena kisah cintanya tidak berakhir tragis seperti kisah dia dengan Hakim. Apa kabar nasib pria itu, apa keadaannya sudah membaik?


"Sean kok pipinya makin gemoy aja," ujar Sofia mencubit pipi anak dari temannya.


"Jelas dong siapa dulu mamahnya? Kamu kapan, Fi? Buruan bikin, biar nanti kita jadi besan," balas Usi dengan maksud bercanda.


"Kalau nikahnya sama hakim aku gak keberatan, Si."


"Maksud kamu?" Usi memicingkan mata, "jangan bilang kalau kamu belum ...."


Sofia mengangguk membenarkan tebakan Usi

__ADS_1


"Kenapa, Fi? Wawan tidak pernah meminta haknya?" Usi kembali bertanya penasaran. Bukankah kebanyakan laki-laki menyukai kegiatan tersebut. Bahkan syahwat yang terlalu besar membuat sebagian dari  mereka memilih jajan di luar.


"Bukan, tapi aku yang belum siap, Si. Kalau saat itu aku nikahnya sama Hakim sudah pasti aku akan siap. Berat, Si, kalau harus melayani orang yang  tidak kita cintai."


Usi menghela nafas, tidak salah apa yang dikatakan Sofiia. Dia sendiri belum tentu sanggup menghadapi pernikahan dengan orang yang tidak dicintai. Tidak pantas jika ia menghakimi, karena dirinya tidak sedang memakai sepatu Sofia. Akan tetapi kita punya kewajiban untuk saling mengingatkan. "Wawan tidak marah? atau sedikit memaksa?"


Sofia menggelengkan kepala karena Wawan memang tidak pernah memaksa dan meminta. Ucapan Wawan semalam sebelum dirinya benar-benar lelap kembali teringat.


"Si, menurut kamu dosa gak sih apa yang aku lakukan ini?"


"Kalau dari ilmu yang aku dengar saat pengajian, istri yang menolak melayani akan dilaknat para malaikat sampai pagi jika suaminya tidak ridho kecuali isrtinya sedang berada dalam keadaan tertentu. Misal haid atau sakit. Kalau suaminya ridho maka perempuan itu termasuk perempuan beruntung."


"Kamu sedang mengatakan aku perempuan beruntung karena dinikahi  Wawan?"


Usi tergelak melihat ekspresi Sofia, "Aku tidak mengatakan itu kamu. Kalau kamu merasa beruntung ya sudah," balas Usi acuh memangku putranya untuk dikasih Asi.


"Udah kemarin dia ke sini nanyain kamu, katanya mau main. Dia kerumah kamu gak?"


Sofia mengangguk, "Kamu tahu kalau Rahma mengagumi Wawan?"


Usi menoleh dengan wajah terkejut, "Kata Siapa?"


Sejak jaman sekolah mereka bertiga memang berteman akrab. Kemana-mana selalu bertiga sampai akhirnya Usi menikah lebih dulu. Rahma pergi ke kota untuk kuliah, dan Sofia tetep di kampung sampai akhirnya dinikahi Wawan. Meskipun mereka dekat, Rahma termasuk orang yang jarang menceritakan kehidupan pribadinya, termasuk perihal kekasih dan orang yang dia kagumi.


"Dia sendiri yang bilang waktu di klinik. Menurut kamu Wawan yang dimaksud Rahma itu Wawan suamiku bukan?" Sofia sudah tahu jawabannya kemarin tapi dia ingin tahu reaksi Usi.

__ADS_1


"Cie sekarang diakui suami ya biar gak direbut Rahma," ledek Usi diiringi kekehan kecil. "Bisa jadi benar, bisa jadi juga enggak. Tapi menurutku wajar sih kalau dia mengagumi Kang Wawan-mu itu. Dia punya pesona sendiri, kalau saja dia dilahirkan dari keluarga kaya raya sudah pasti banyak perempuan menghayal jadi istrinya. Apalagi dia pekerja keras. Selama Rahma tidak mengibarkan bendera perang untuk merebut Wawan ya kamu aman."


Di tempat lain orang yang tengah mereka bicarakan tengah menuju rumah Mang Dahlan. Di suruh Pak lurah untuk mengantarkan kain yang akan dibuat untuk seragam para pegawai desa. Kebetulan Pak Lurah sendiri sedang sibuk jadi meminta bantuan putrinya.


"Eh ada Neng Rahma. Masuk, Neng!" kata Teh Ai yang menyadari kedatangan tamu. Refleks para pegawai yang tengah bekerja menoleh ke arah pintu, termasuk Wawan. Tatapan mereka bertemu, terkunci untuk beberapa detik.


"Cie, cinta lama bertemu kembali. celebeka celebeka" goda Adin yang pernah tahu kedekatan mereka. Kompak yang lain ikut menggoda.


"Hus ah kalian ini. Ada apa, Neng?" Teh Ai menengahi mereka karena merasa tidak enak sama Rahma juga Wawan yang sudah menikah. Khawatir ada yang menyampaikannya pada Sofia.


"Disuruh Bapak nganterin kain untuk seragam, Teh. Kata bapak ukurannya seperti biasa ya." Rahma menyerahkan kain yang dia bawa.


"Oh siap, nanti kalau sudah selesai dikabarin ya. Ibu sudah sehat?"


"Alhamdulillah sudah membaik, Teh. Aku pamit ya." Rahma langsung undur diri setelah urusannya selesai. Dia merasa tidak enak dengan tatapan para perempuan yang juga bekerja di rumah Mang Dahlan. Pikiran dan hati orang tidak ada yang tahu, bisa saja mereka berpikir yang tidak-tidak  tentang dirinya dan Wawan.


"Buru-buru amat, Neng. Wawan aja masih di sini," kata Adin kembali menggoda. Sedangkan Wawan hanya tersenyum dan terus mengerjakan pekerjaannya tanpa menoleh lagi pada Rahma.


***


Tak terasa hari sudah sore, Wawan bergegas untuk pulang. Dia  mampir sebentar di toko Haji Soleh untuk membeli bahan maknan.


"Belanja, Kang Wan?" sapa Haji Soleh yang selau ramah kepada setiap pembeli.


"Iya Pak Haji."

__ADS_1


Setelah mendapat apa yang dibutuhkan Wawan segera membayar kemudian pulang. DI tengah perjalanan dia melihat Rahma tengah berjalan kaki seorang diri padahal hari sudah sore dan jarak ke rumahnya masih sangat jauh.


"Rahma?" Wawan menghentikan motornya dan memanggil gadis itu tapi sepertinya gadis itu tidak mendengar atau bahkan menghentikan langkah. Gadis itu terus berjalan, "Rahma!"


__ADS_2