Bukan Suami Idaman

Bukan Suami Idaman
Lebih tajam daripada Pisau


__ADS_3

Tidak menunggu Sofia bangun, Wawan keluar dari kamar dengan wajah segar, rambutnya basah. Bukan bermaksud mengelabui mertuanya agar dikira telah melakukan malam Zafaf, tapi lebih kepada ingin menyegarkan diri saja.


Semalam apa yang dia dengar begitu jelas dalam pendengaran. Hati terasa dicubit saat sang istri menyebut nama pria lain. Apalah daya dia tidak bisa menegur Sofia. Hal tersebut bisa saja terjadi di alam bawah sadar.


"Eh, manten sudah bangun," goda Hanifa keponakan Sofia yang baru SMA. "Basah loh rambutnya." Gadis itu terkekeh dan menutup mulut.


"Haniiii ...." Pak Yanto kelur dari dapur dengan menggelengkan kepala pada cucunya. Di tangannya memegang Mug berisi teh manis. "Mau kemana? ini masih subuh?" tanya Pak Yanto pada Wawan.


"Mau ke masjid, Pak. Biar sekalian membangunkan warga." Wawan merengkuhkan tubuh saat menjawab pertanyaan bapak mertuanya.


"Nanti saja bareng bapak. Sofia belum bangun?" tanya Bu Asmirah yang menyusul Pak Yanto dari dapur. Permpuan tua itu membawa pisang gorang bersama rengginang di atas nampan. Ada juga kripik singkong sisa hajatan kemarin. Ia menoleh pada pintu kamar yang ditempati anak serta menantunya.


"Neng masih di dalam, Bu. Capek katanya."


Jawaban Wawan membuat kedua mertua serta keponakan saling lirik. Apalagi rambut basah Wawan menambah keyakinan pada apa yang tengah mereka pikirkan. Wawan sendiri menggaruk pelipis merasa salah ucap tapi benarkan apa yang dia ucapkan. Istrinya mungkin memang kecapean setelah acara kemarin.


Niat berangkat ke masjid lebih awal menjadi urung karena Pak Yanto mengajaknya duduk lebih dulu. Berbincang tentang hasil panen di kebun dan di sawah hingga pada obrolan serius yang membahas dirinya dengan sang istri.


"Bapak titipkan putri bapak sama kamu, Nak Wawan. Tolong didik dia yang masih kekanakan."


"Insyaallah, Pak. Doakan aku bisa menjalankan amanah bapak dengan baik."


Adzan subuh memutus percakapan mereka. Bersamaan dengan langkah mereka menuju masjid, Bu Asmirah mengetuk kamar Sofia. Tidak mendapat jawaban, Bu Asmirah langsung masuk dan mendapati putrinya masih tertidur lelap. Selimut menutupi sampai bagian kepala.


"Bangun Sofia, bangun!" Selimut itu di tarik oleh sang Ibu.


Tubuh itu menggeliat namun tak langsung membuka mata. Butuh waktu untuk benar-benar terjaga.

__ADS_1


"Sofia!"


"Apa sih, Bu?" jawab Sofia meregangkan otot sambil menguap.


"Kebiasan." Lap piring yang dipegang bu Asmirah mendarat di mulut yang tengah terbuka. "Suamimu sudah berangkat ke masjid sama bapak. Jangan sampai bapak pulang dan mendapati kamu belum bangun. Cepat mandi dan siapkan sarapan untuk suami-mu."


Sofia menggeram dan beranjak bangun, "suami, suami, suami. Fibet amat sih punya suami." Dia sambar handuk kemudian mandi tanpa keramas.


Saat keluar kamar kakak iparanya memicingkan mata melihat rambut Sofia yang kering. "Kamu tidak mandi?"


"Mandi lah," jawab Sofia sewot. Dia tuangkan air mineral ke dalam gelas untuk diri sendiri. Kerongkongan terasa kering setelah tadi teriak-teriak di kamar mandi.


"Tuh rambut masih kering." Ilah menunjuk rambut Sofia dengan bibir. "Jangan bilang semalam kalian tidak ...," bisik Ilah.


Sofia mendelik enggan membahas hal tersebut. Dia lirik ke luar jendela, di luar masih terlihat gelap samar-samar. Istilahnya carangcang tihang. Bapak dan Wawan belum juga kembali. Mungkin mereka mendengarkan ceramah subuh lebih dulu.


"Duh Maliq suami idaman banget sih. Sudah cakep kaya lagi, beruntung banget yang jadi istrinya. Paket komplit banget. Lah aku? Jangankan kaya minimal cakep aja enggak," ucap Sofia tanpa mengalihkan tatapan dari layar televisi.


"Huss, jangan gitu. Bersyukur! Ujian setiap orang itu beda-beda, termasuk ujian harta. Jangan bandingkan ujian kita sama ujian orang lain. Ukuran sepatu saja sudah pasti berbeda jadi jangan berharap sama," kata Bu Asmirah mengingatkan. Dia tenteng ember berisi pakaian basah untuk dijemur. Saat melangkah di pintu dia terhenyak ternyata Wawan sedang duduk di teras rumah. "Nak Wawan? Kenapa tidak masuk? Loh bapak mana?"


Bu Asmirah celingukan mencari suaminya. Tadinya dia ingin bertanya sejak kapan menantunya ada di sana. Khawatir menantunya mendengar apa yang diucapkkan oleh Sofia.


"Nunggu matahari terbit dulu, Bu. Dingin pengen berjemur. Kalau bapak tadi katanya mau ke rumah Haji Soleh dulu sebentar."


Wawan tetap memamerkan senyum meski untuk kedua kalinya Sofia menyakiti dirinya. Sabar, hanya kata itu yang selalu ia ucapkan di dalam hati. Resiko menikahi Sofia ya harus sabar.


***

__ADS_1


"Mau jalan-jalan?" tawar Wawan saat Sofia menemani dirinya berganti pakaian di dalam kamar. Kalau bukan karena kedatangan bapak, belum tentu Sofia mau melakukan hal tersebut.


"Memang punya uang?" Bibir Sofia melengkung seperti mengejek.


"Sepertinya cukup untuk membeli es campur," jawab Wawan bercanda namun dibalas delikan mata oleh istrinya. "Kalau mau, kita berangkat sekarang biar tidak terlalu panas."


Sofia mengira kalau dirinya akan diajak jalan-jalan ke alun-alun kota atau paling bagus ke pasar murah. Ternyata dugaanya salah, Wawan mengajaknya jalan ke sebuah mall yang ada di pusat kota. Setelah perjalanan hampir dua jam melalui kemacetan, akhirnya mereka sampai.


"Ayo, mau nonton dulu atau mau belanja dulu?" Bukan karena banyak uang seperti mereka yang terlahir kaya. Wawan hanya mencoba untuk menyenangkan hati istrinya. Siapa tahu dengan begitu hati sang istri sedikit terbuka untuknya. Semoga saja.


"Jangan sok kaya," dengus Sofia meninggalkan Wawan lebih dulu. Dia yang baru sekali merasakan nonton di bioskop bersama Hakim ingin mengulangnya. Sayang pria itu memilih pulang membawa hati yang patah. Padahal mereka belum mencoba berjuang.


Sofia mengintip isi dompet Wawan saat suaminya tengah membeli tiket nonton. Hanya ada lima lembar uang seratus ribu saja so-soan mau terlihat kaya. Miskin ya miskin aja, cacinya di dalam hati.


"Jangan sok dekat ah," sergah Sofia saat pria yang menjadi suaminya berjalan di sisinya. Ia bahkan menepis tangan yang hendak menggandeng.


Hanya dengan cara ini yang diyakini Sofia bisa menyakiti hati Wawan. Ia yakin pria itu pasti tidak akan tahan dan akan segera menceraikan dirinya. Ya dia seyakin itu.


Usai nonton Sofia minta belanja. Untungnya dia masih sedikit menggunakan hati dengan tidak meminta belanja barang mewah dan bermerk. Bukan hanya suaminya yang akan malu, dia pun akan terseret jika uang Wawan tidak cukup untuk membayar. Uang lima ratus ribu yang sudah diambil untuk membeli tiket memang mana cukup untuk membeli barang mewah. Maka dari itu dia memilih turun ke swalayan dan mengambil cemilan yang dia mau. Lupa membawa keranjang membuat dia kerepotan sendiri karena tangannya penuh. Beberapa barang yang dia ambil bahkan jatuh dan mengundang perhatian pengunjung juga petugas swalayan.


"Belanjaanya masukan ke sini!" Wawan menyodorkan keranjang belanjaan. Di dalamnya ada ******, deo-lotion untuk ketiak dan sampo untuk pria. Hanya tiga macam yang Wawan beli untuk diri sendiri. Sedangkan Sofia entah berapa macam. Yang jelas Wawan tidak keberatan dan tetap membayarnya.


Dua kantong kresek berukuran besar Wawan jinjing saat keluar dari pusat belanja. Sofia tidak mau membantunya sama sekali. Padahal belanjaan tersebut lebih banyak miliknya.


"Cepetan panas!"


Nasib sial, motor Wawan susah menyala. Sofia yang sudah naik langsung turun lagi. Dia berdecak, "makanya jangan so-soan mau terlihat kaya. Benerin tuh motor butut."

__ADS_1


__ADS_2