
Dari tempatnya duduk, Sofia menatap suaminya yang tampak akrab berbincang dengan Pak Lurah. Entah apa yang tengah mereka bicarakan yang jelas Sofia hanya melihat tawa riang dari ke empat orang itu. Ya termasuk Salma.
Hani menghampiri bibinya. Dia juga mengikuti ke mana arah sang bibi menatap. Dia pun tersenyum jahil lalu menghampiri bibinya.
"Teh Salma cantik banget ya hari ini," celetuk Hanifa membuat Sofia menoleh dan mendelik.
"Cantik? Mata mu tuh harus pakai kacamata sepertinya," balas Sofia dengan mencibir.
"Lah emang beneran cantik. Noh Aa-Aa di sana aja neglihatin dia dari tadi." Hani menunjuk sekelompok muda-mudi seusia Wawan. "Bibi mah udah kegeser posisinya."
"Gak penting juga status kembang desa. Udah bukan kembang lagi sekarang."
"Oh iya lupa," balas Hani dengan senyum yang menambah kadar pada bibinya. "Sekarang udah jadi bunga layyyyuu. Hati-hati status istri ke geser juga."
Sofia berbalik badan, menatap tajam pada keponakannya yang menyebalkan itu.
"Hati-hati ya kalau bicara. Kamu itu masih anak SMA, tapi cara bicara kamu udah kayak ibu-ibu anak enam yang suka gosip. Cerminkan kalau kamu itu orang berpendidikan," tukas Sofia bangkit meninggalkan Hanifa.
"Sensi amat."
"Apa sih Hani, teriak-teriak kayak gitu. Malu dong sama tamu," tegur Pak Yanto yang saat itu lewat di depan meja penerima tamu. "Bibi mana?"
"Tuh lagi sensi."
Pak Yanto geleng-geleng kepala melihat sikap anak perempuan dengan cucunya. Kadang mereka begitu akur kadang juga seperti tikus dan kucing. Dia pun tak menemui Sofia dan memilih menyapa tamu yang hadir.
Sementara itu Sofia masih menggerutu. Saat ini dia sedang butuh pelampiasan. Pelampiasan yang paling tepat ya memang makan. Makan yang banyak agar tenaga kuat.
Saat dia tengah mengambil makanan, kejadian tak terduga terjadi di tempat itu. Seorang anak yang lagi lincah-lincahnya bermain kejar-kejar dengan temannya. Alhasil dia menyenggol sop panas yang baru mau dipindahkan.
Sontak anak itu menjerit kepanasan. Semua orang terkejut, Wawan yang paling dekat dengan posisi kejadian sigap mengangkat anak kecil yang menjerit kesakitan. Begitu juga dengan Rahma yang langsung meminta kunci mobil milik ayahnya.
"Bawa ke mobil bapak," kata Rahma berjalan lebih dulu untuk membuka pintu mobil. anak itu di bawa ke puskesmas.
__ADS_1
Kondisi di acara itu sangat kaos, Pak Lurah bersama Dani meminta tamu untuk tetap tenang, acara harus tetap berjalan. Orang tua si anak tadi sudah diantar ke puskesmas dan yang lain membereskan sop yang tumpah serta melanjutkan acara.
Di antara mereka tidak ada yang memperhatikan perasaan Sofia. Wawan pun tidak sadar kalau dia meninggalkan istrinya dan pergi dengan Rahma. Yang penting anak kecil itu mendapatkan perawatan dulu.
Setelah memastikan anak kecil itu mendapatkan perawatan mereka kembali ke acara. Mobil baru saja berhenti tapi warga yang penasaran langsung menyerbu mobil milik pak lurah itu.
"Gimana keadaan ali?'
"Dia selamat kan?"
"siapa yang nungguin di sana?"
Wawan dan Rahma menjawab pertanyaan mereka satu persatu, menjelaskan kalau anak yang bernama Ali itu sudah mendapatkan perawatan. "Semoga Ali baik-baik saja," tutup Wawan yang masih dikerubungi orang-orang yang penasaran.
Dari kejauhan Sofia melihat suaminya berdampingan dengan perempuan lain.
"Neng Rahma sama Wawan mah dari dulu emang serasi ya, kompak kalau ada apa-apa," kata ibu-ibu yang tidak menyadari keberadaan Sofia di dekat mereka.
"Cocok," timpal Sofia melengos dan menjauh dari mereka.
Sampai acara bubar Wawan belum bertemu kembali dengan istrinya. Entah kemana perginya perempuan itu. Dia sudah bertanya kepada beberapa orang namun mereka menjawab tak melihatnya.
Hari hampir gelap namun hati Wawan tak juga tenang. Entah di mana keberadaan snah istri sekarang dia cek ke kamar yang disiapkan Dani untuk mereka tapi kamar itu kosong. Di rumah yang menjadi tempat tinggal mereka pun sama. Kunci rumah pun masih di pegang sama Wawan.
"Han, Hani, lihat Bi Sofi gak?" Wawan vertanya pada keponakan istrinya. Seingatnya tadi sebelum kecelakaan sop panas tumpah dia sempat melihat sang istri bersama keponakannya.
"Gak tahu, emang belum ketemu juga?"
Wawan menggelengkan kepala. Apa sang istri kabur lagi? tapi karena apa? Beberapa hari ini mereka sempat dekat rasanya Wawan tak perlu was-was lagi jika mengingat hal itu. Akan tetapi soal hati siapa yang tahu. Bisa jadi Sofia memang kabur lagi.
"Aku telepon deh." Hani langsung melakukan panggilan. Berdering namun tidak diangkat. "Berdering, Mang."
Karena panggilan yak kunjung dijawab, rentetan pesan pun dikirim oleh Wawan juga Hani.
__ADS_1
Usai hajatan bukannya istirahat, mereka malah mencari keberadaan Sofia. Sedangkan yang dicari tengah meringkuk di rumah orang tuanya yang tak jauh dari rumah Dani. Matanya sembab karena habis menangis. Dia cemburu namun begitu gengsi untuk mengakui.
Panggilan juga pesan dari orang-orang yang mencari dia abaikan.
"Bodoh banget sih mereka. Kenapa gak ada yang mencari ke sini? Hah." Sofia menghempaskan tubuhnya ke kasur.
Kenangan malam pertama yang begitu dingin kembali terulang. Dia menyadari kalau dirinya terlalu membenci Wawan sehingga kini dia harus jatuh cinta pada pria itu.
"Aku di rumah ibu." Akhirnya Sofia memilih membalas pesan dari suaminya.
"Dia di rumah bapak sama ibu," pekik Wawan yang terlampau senang.
Pak Yanto dan yang lain kenepuk kening. Bisa-bisanya mereka tidak kepikiran untuk memeriksa rumah.
Gegas Wawan menemui istrinya. Saat dia tiba, Sofia tengah memejamkan mata. Tidak ingin menganggu, pintu kamar Wawan tutup kembali. Saat hampir rapat dia mendengar suara Sofia.
"Samperin kek bukan dilihat doang. Katanya tadi nyariin," celetuk Sofia yang tadi hanya pura-pura tidur.
Salah lagi
Wawan menggatuk pipi kemudian menghampiri istrinya sambil senyum-senyum. "Kenapa gak bilang ada di sini?" tanya Wawan duduk di sisi ranjang.
"Bilang. Kan tadi aku balas pesan kamu." Katanya Cinta tapi ketusnya masih ada.
"Orang-orang sibuk nyariin kamu loh. Bukannya istirahat, mereka malah harus repot-repot nyariin kamu."
"Terus aku yang salah?" tanya Sofia, kini ia duduk menghadap pada suaminya. "Salah sendiri gak dicek dulu ke sini. Kalian pasti mikir aku kabur lagi kan? Emangnya aku gak bisa berubah apa?"
Wawan terlihat kikuk. Padahal tadi dia sudah hati-hati dalam memilih kalimat, tau-taunya salah lagi.
"Puas bisa jalan sama mantan?"
"Sama mantan? Mantan siapa?" Wawan mengerutkan kening. "Dari tadi aku ngebantuin A Dani di bawah. Kok bisa kamu berpikiran aku jalan sama mantan? Lagian aku gak merasa punya mantan."
__ADS_1
"Gak punya mantan," ledek Sofia dengan gaya bibir yang mencebik membuat suaminya gemas dan ingin menerkam.