
Seminggu berlalu semenjak acara peresmian rampung dilaksanakan. Pekerjaan di kantor Parsena kembali berjalan sebagai mana mestinya,namun walau begitu seminggu belakangan ini Iris agak merasakan perubahan pada sikap Damar.
Seringkali ia memergoki Damar tengah tersenyum-senyum kecil di depan layar ponselnya dan beberapa kali juga Iris tak sengaja menguping Damar yang tengah berbicara dengan Oliv menggunakan telepon seluler.
Ya Oliv,atau tepatnya Olivia. Manager EO yang jasa perusahaannya sempat dipakai oleh perusahaan Parsena Group untuk acara peresmian hotel Centaury minggu kemarin.
Sebenarnya Iris tak merasa dirinya cemburuan,ia juga bukan tipe-tipe istri posesif yang harus selalu mencampuri semua urusan suaminya.
Namun untuk yang kali ini sikap Damar benar-benar berhasil membuat Iris panas. Seperti halnya siang ini. Menjelang jam istirahat makan siang Damar tiba-tiba keluar melewati meja kerja Iris tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kelakuan Damar yang tampak semena-mena membuat Iris tak bisa lagi menahan kejengkelannya.
Dikemasinya seluruh dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja dan setelah beres,segera ia bangkit dari duduknya dan menyusul langkah Damar secepat yang ia bisa.
"Pak Damar tunggu!" Dengan sedikit kesusahan Iris akhirnya berhasil menyusul langkah kaki Damar.
Damar yang sudah tersusul oleh langkah Iris pun terlihat menghentikan langkahnya lalu sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Iris.
"Ada apa?" Tanya Damar dengan nada formal selayaknya atasan pada bawahan.
"Mau kemana?" Intensitas kesopanan yang sudah Iris terapkan mendadak buyar karena rasa jengkelnya pada sikap Damar.
"Aku mau makan siang." Jawab Damar singkat.
"Makan siang dengan siapa?"
"Dengan nona Oliv. Aku ada urusan sedikit dengannya dan sudah berjanji akan menemuinya di jam makan siang ini. Oh ya,kau siang ini tidak apakan? Jika harus makan siang sendiri?"
Iris mendengus. "Damar,tidak bisakah kau izin dulu jika ada janji temu dengan seseorang di luar jam kerja? Kau tau kemarin aku membeli cukup banyak bahan makanan dan subuh tadi aku juga memasak cukup banyak sekalian untuk bekal makan siang kita. Andai pun kau ada janji temu,setidaknya beritahu aku dari semalam. Lantas bekal yang aku buat bagaimana?
Damar menggaruk-garuk ujung hidungnya dengan ekspresi berpikir.
"Um,begini saja. Sebelumnya aku minta maaf karena lupa memberi tahu mu dan untuk bekalnya. Kau boleh berikan bagianku pada pekerja di sini. Mereka pasti tak menolak. Apalagi jika masakan mu enak."
Iris melotot tak percaya dengan ucapan Damar barusan.
__ADS_1
"Yang benar saja Damar! Aku memasak makanan ini khusus untukku dan untukmu. Lalu kau seenaknya menyuruhku memberikan makanan ini pada orang lain?"
"Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Biasanya kau suka makan masakanku kenapa setelah berkenalan dengan manager EO itu sifatmu jadi berubah begini? Dengan menolak masakanku sama artinya kau tidak menghargai usahaku sebagai istrimu Damar. Kau tidak paham cara menghargai ya?"
Suara Iris meninggi dan bergema di lorong tersebut. Beruntung memang keadaan kantor sudah sepi karena rata-rata pekerja sudah keluar untuk makan siang,jadi keribuatan keduanya tak menjadi tontonan.
Damar maju selangkah sambil mengusap kedua pundak Iris dengan lembut.
"Hei,tenanglah. Kenapa marah-marah sih. Aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai masakanmu Ris. Tapi memang siang ini aku ada janji makan siang mana bisa aku makan dua kali. Begah nanti."
"Alasan! Kau menghindariku karena nona Oliv,iya kan?"
Damar menggeleng cepat. "Astaga Iris,kau mencurigai aku?"
Iris mengusap wajahnya dengan kasar.
"Damar coba kau pikir,istri mana yang tidak curiga saat suaminya pergi,janjian dengan seorang gadis hanya untuk makan siang?"
"Tapi aku ada urusan Ris." Damar mencoba membela diri.
"Ckk..,Iris dengar ya. Aku benar-benar sedang tidak ingin berdebat atau pun bersilat kata dengan mu. Saat ini waktu terus berputar dan jika kita terus di sini,kita akan melewatkan jam makan siang. Sementara itu di cafe depan nona Oliv juga sudah menungguku. Aku pergi dulu,kau makan sianglah dengan bekal yang kau bawa atau kalau mau lebih ramai bawa saja bekalnya itu ke kantin. Sudah ya,aku pergi dulu."
Damar langsung melajukan kembali kaki jenjangnya meninggalkan Iris yang tampak kesal setengah mati karena lagi-lagi ditinggal di jam makan siangnya.
"Padahal aku sudah membawa bekal. Bisa-bisanya dia meninggalkan ku dan memintaku memakan bekalnya sendiri. Keterlaluan kau Damar!"
♡♡♡
Sore ini sepulang bekerja,Damar tiba-tiba menawarkan untuk mengantarkan Iris pulang terlebih dahulu. Iris yang merasa ada yang aneh tak dapat mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Kenapa harus ngantar aku duluan? Memangnya setelah ini kamu mau kemana?"
Damar yang tengah memasang sabuk pengaman lantas menoleh. "Aku ada sedikit urusan dengan seseorang,tidak lama. Aku janji sebelum jam tujuh aku pasti sudah ada di rumah."
__ADS_1
Iris terdiam mendengar jawaban Damar barusan.
"Urusan dengan seseorang ya?" Gumamnya dalam hati.
"Um,kalau begitu biar aku pulang sendiri saja naik taxi. Jadi kau tidak usah mengantar,lagi pula jarak dari kantor ini ke rumah kita tak terlalu jauh. Aku bisa pulang sendiri."
Mendengar pengajuan dari Iris,diam-diam Damar setuju. Usulan Iris barusan akan mempercepat urusannya.
"Ya sudah. Kalau begitu aku pesankan kau taxi ya? Aku juga akan menunggu di sini sampai taxi nya datang."
Iris mengangguk saja tanpa banyak protes.
♡♡♡
Lima belas menit menunggu,taxi yang di tunggu akhirnya datang. Setelah memastikan Iris naik Damar pun melajukan mobilnya meninggalkan area Parsena Group.
Tanpa Damar sadari,taxi yang Iris kendarai berputar balik mengikuti mobil Damar dari jarak sekitar tiga meter di belakangnya.
"Ikutin terus ya pak,jangan sampai kehilangan jejak." Intruksi Iris pada sopir taxi.
Kedua kendaraan roda empat itu terus melaju membelah jalan raya hingga tak jauh dari perempatan yang terdapat halte mobil yang Damar kendarai berhenti.
Taxi yang Iris kendarai ikut berhenti. Iris menyipitkan matanya saat melihat seorang perempuan yang ia kenali masuk ke dalam mobil Damar.
Mobil Damar terlihat berjalan lagi,meninggalkan arela halte dan berbelok ke kiri.
Taxi yang Iris tumpangi terus berjalan mengikuti hingga tak lama setelahnya mobil Damar berbelok menuju ke Sofia Syafir,sebuah toko perhiasan yang cukup sering Iris datangi dulu.
Iris mengernyit setahunya toko perhiasan tersebut merupakan toko perhiasan yang menyediakan perhiasan-perhiasan mahal.
"Apa tujuan Damar membawa nona Oliv ke sini?" Batin Iris.
"Pak Berhenti di depan ya."
__ADS_1
Setelah membayar ongkos taxi Iris pun turun dan melangkah masuk ke dalam toko mengikuti Damar dan Oliv yang sudah lebih dulu masuk.
♡♡♡