
Raut wajah Iris seketika berubah jadi manyun.
"Ishh,tadi kan kau yang menawarkan. Lagipula kau kan tau kalau aku tidak bisa memasak. Nanti kalau masakannua gosong dan tidak bisa dimakan,kau malah marah. Jadi apa salahnya kakau kau saja yang memasak. Nanti aku membantu menyiapkan bahannya. Kau tinggal sebutkan saja. Bagaimana?"
Damar tak langsung menjawab,ia menyempatkan diri untuk melihat jam di pergelangan tangannya terlebih dahulu.
"Pukul tujuh dua lima." Batin Damar.
"Okey. Masih ada waktu. Nona Iris,saya minta tolong pada anda. Ambilkan roti tawar enam lembar,kornet,dua lembar keju,tiga butir telur,lalu blue band yang ada disana. Setelah itu bawa semua bahannya ke sini biar saya buatkan sandwich goreng yang nona mau."
Iris mengangguk cepat lalu mengantarkan satu persatu bahan-bahan yang Damar sebutkan tadi ke atas meja.
Damar pun mulai memecahkan tiga butir telur tadi dan menggorengnya dengan bentuk mata sapi.
Setelah itu Damar membersihkan pinggiran roti tawar dan membuangnya,setelah pinggirannya dibuang,Damar meletakkan rotinya ke atas piring.
Ia kemudian mengangkat telur yang tadi sudah matang,berlanjut dengan membuka kaleng kornet,setelah selesai membuka kaleng kornet,Damar lalu meletakkan satu persatu lembaran keju tadi ke atas roti tawar yang sudah dibuang pinggirannya.
Selesai meletakkan keju,ia menyendokkan kornet ke atas keju dan merapikannya dengan sendok,setelah itu Damar juga meletakkan telur goreng di atas keju berlapis kornet lalu menutupnya dengan selembar roti tawar lagi.
Kini keenam roti tadi sudah berubah menjadi tiga porsi. Waktunya untuk sentuhan akhir.
Damar mengambil beberapa sendok blue band dan memasukkannya ke dalam teflon yang sudah disiapkan di atas kompor. Setelah kompor dinyalakan dan minyaknya mulai panas,Damar pun mulai menggoreng sandwich tadi hingga berwarna kuning kecoklatan.
Setelah sandwichnya berubah warna,Damar lalu mematikan kompor,mengangkat sandwich dan menaruhnya di atas piring yang sudah disiapkan Iris.
Terlihat kedua bola mata Iris berbinar menatap menatap sandwich yang masih mengepul tersebut.
"Wah...,rasanya pasti enak..!" Puji Iris sembari mengendus-endus aroma yang terkuar dari dalam piring.
Damar tak menanggapi pujian Iris. Ia lebih memilih mengambil pisau dan piring,lalu memotong sandwich dan memasukkan ke dalam piringnya sendiri.
"Sarapan pagi lebih penting daripada menanggapi ocehanmu nona." Batin Damar sambil mengunyah sandwich yang tadi sudah ia potong-potong menggunakan pisau.
Iris yang melihat Damar makan tanpa menawarinya,berubah jadi memasang wajah manyun lagi.
"Ishh,Damar!! Jahat sekali kau jadi suami ya! Setidaknya tawarilah diriku juga. Kenapa hanya mengurusi.."
"Makanlah nona Iris. Saya tidak punya banyak waktu untuk sekadar berbasa-basi. Jika nona lapar makanlah,jika haus minumlah,tidak perlu menunggu saya menawari. Lagipula,nona sendiri kan yang bilang kalau nona istri saya. Jadi barang-barang di rumah ini,milik nona juga. Tidak usah membuat segala sesuatu jadi runyam. Nona bukan anak kecil lagi. Saya harap nona mengerti dan tidak tersinggung pada ucapan saya barusan.".
Damar mengakhiri nasehat pada Iris dengan berdiri dari meja makan karena memang kebetulan sarapannya juga sudah selesai.
__ADS_1
Ia beranjak pergi dari meja makan meninggalkan Iris yang masih tercekat di tempatnya.
Tiga menit kemudian,Damar kembali lagi dengan sudah mengenakan jas dan membawa tas di salah satu tangannya.
"Nona,saya berangkat bekerja dulu. Jaga rumah baik-baik dan jangan dibuat berantakan seperti kemarin. Nona mengertikan?"
Iris yang masih setengah melamun hanya mengangguk-angguk pelan. Namun saat telinganya menangkap bunyi daun pintu di buka,kesadarannya pulih seketika.
Iris berlari keluar dari ruang makan menuju ke halaman depan. Terlihat di sana,Damar tengah memasang sepatu miliknya.
Bergegas Iris berjongkok dan berniat mengikatkan tali sepatu Damar. Namun belum juga jari Iris sampai di sana,Damar sudah lebih dulu menahan tangan Iris.
Iris mendongak dengan tatapan merajuk. "Kenapa di cegah? Aku hanya ingin membantumu memasang sepatu.."
"Tidak perlu nona. Saya bisa sendiri,daripada nona repot-repot di sini. Lebih baik nona masuk,lalu mandi. Ada banyak hal yang sepertinya harus nona perbaiki jika memang ingin menjadi seorang istri yang baik."
"Saya berangkat dulu,nona hati-hatilah di rumah." Pamit Damar sambil melangkahkan kakinya keluar teras.
"Tap.."
Lagi-lagi Iris menahan tangan Damar yang hendak pergi.
"Huh..,ada apa lagi nona? Saya.."
"Boleh aku mencium tanganmu?" Tanya Iris to the point.
Damar terdiam sejenak mendengar pertanyaan Iris.
Melihat Damar yang hanya diam,Iris tanpa rasa malu langsung mengambil inisiatif dengan mengambil tangan kanan Damar dan menciumnya dengan lembut selama beberapa detik.
Setelah itu Iris memajukan kepalanya ke dekat wajah Damar membuat pria itu menatapnya heran.
"Anda mau apa...?"
"Cium keningku juga,boleh?"
Tak ada sahutan dari Damar,namun beberapa detik setelahnya. Iris bisa merasakan sapuan lembut dari bibir Damar mendarat ke dahinya.
Semburat merah seketika menjalar memenuhi raut wajah Iris. Sepenuhnya Iris sadari,jika ada hati yang berdesir dan jantung yang kini berdebar semakin ia dekat dengan Damar.
"Saya berangkat nona. Jaga diri anda baik-baik."
__ADS_1
Pamit Damar yang kali ini langsung berbalik meninggalkan Iris. Tanpa Iris ketahui,Damar pun sama malunya dengan dirinya.
"I Love U...!!"
Teriak Iris,tepat sebelum Damar naik ke dalam taxi yang sudah ia pesan sebelumnya.
Damar hanya membalas teriakan Iris dengan lambaian tangan dan detik berikutnya,taxi yang Damar tumpangi melaju meninggalkan area kompleks.
♡♡♡
Iris masuk ke dalam rumah dengan perasaan bahagia karena merasa mulai menjalani peran sebagai istri.
Rasa antusias di dalam hatinya membangkitkan rasa penasaran juga di dalam diri Iris,tentang apa saja tugas seorang istri yang sebenarnya.
"Aku harus cari di google deh,tentang apa saja tugas istri. Aku mau jadi istri yang baik,supaya Damar percaya kalau aku bukan hanya gadis manja yang hanya bisa memerintah. Lihat saja,akan aku buktikan pada dunia kalau aku pun bisa menjadi istri sempurna!!"
Iris bergegas mengambil handphonennya yang ketinggalan di kamar dan setelah di ambil,ia pun mulai searching di google tentang apa saja peran sebagai seorang istri.
Iris mengikuti mulai dari yang paling sederhana.
Ia membersihkan seluruh rumah, memindahkan pakaian di keranjang kotor menuju ke mesin cuci lalu mencucinya dengan bantuan tutorial youtube.
Setelah selesai mencuci,Iris pun menjemur pakaiannya di halaman belakang.
Keringat di sekitar wajah Iris sudah terlihat bercucuran. Namun tidak menyurutkan semangat dalam diri gadis itu.
"Tinggal satu pekerjaan lagi." Gumam Iris setelah menyelesaikan kegiatannya menjemur pakaian.
Iris membawa kembali keranjang kosong tadi ke dalam rumah dan setelah meletakkannya di sisi pintu kamar mandi,ia keluar lagi menuju dapur.
Sesampainya di sana,Iris mulai menyiapkan wajan dan beberapa peralatan masak lainnya.
"Pagi ini,aku akan kembali mencoba memasak lalu nanti aku akan antarkan hasil masakanku ke kantor Damar. Semoga saja dia suka dan dia senang.."
"Go Iris!! Semangat!!"
Teriak Iris menggema memenuhi dapur.
♡♡♡
Jangan lupa like vote komen...
__ADS_1