
Damar dibuat kelimpungan sepagi ini oleh kelakuan Iris. Sebenarnya bukan sepagi ini sih,tapi tepatnya sejak semalam. Sejak kepulangan ia dan Iris dari Sofia Syafir.
Semalam Iris nyaris pulang ke rumah orangtuanya jika saja Damar tak mengempeskan ban mobil Iris dan membuat gadis itu mau tak mau pulang semobil dengannya.
Semalam juga saat sampai di rumah Iris nyaris menelpon supir di rumah orangtuanya agar menjemputnya namun Damar segera merampas handphone Iris dan menyembunyikan bahkan Damar melakukan tindakan konyol dengan mengunci dirinya dan Iris di kamar lalu berjaga di depan pintu kamar sepanjang malam tanpa tidur hanya agar Iris tidak kabur.
"Damar! Let me out!!" Iris memberontak saat Damar lagi-lagi menahan dirinya yang hendak keluar.
"Sayang tenang sebentar. Kau tidak mau mendengar penjelasanku?"
"Tidak mau!! Aku mau pulang."
"Tapi.."
"Selesaikan dulu urusanmu dengan selingkuhanmu itu baru setelahnya kau boleh temui aku lagi."
"Tapi sayang,aku.."
"Dughh.."
"Arghh.."
Damar nyaris pingsan saat aset berharganya disikut oleh punggung kaki Iris.
Dengan posisi Damar yang menggelepar Iris akhirnya berhasil lolos dan kabur menuju pintu depan. Selanjutnya Irislah yang mengunci Damar di dalam rumah sebelum akhirnya ia kabur keluar rumah dan pergi mengendarai mobilnya.
♡♡♡
"Loh,tumben pulang?"
Kedatangan Iris di rumahnya pagi itu mengundang tanda tanya besar di kepala sang mama.
Keliatan dari awal Iris masuk mamanya sudah langsung menanyakan perihal kepulangan perempuan itu ke rumah.
"Emangnya Iris gak boleh pulang?" Perempuan itu bertanya balik dengan nada jutek karena merasa kehadirannya tidak diharapkan.
"Bukan gak boleh sih,tapi.."
Nyonya Bagas terlihat celingukan mengintip ke belakang Iris.
"Suami kamu mana?" Perempuan paruh baya itu bertanya lagi untuk yang kedua kalinya.
Iris membuang pandangannya ke samping. "Sudah Iris kurung di dalam rumah."
Jawabnya dengan nada jutek.
"Loh.." Nona Bagas menutup mulutnya dengan ekspresi kaget.
"Di kurung di dalam rumah bagaimana? Kamu jangan macam-macam loh Ris."
"Memangnya suami kamu kenapa sampai harus di kurung?"
"Selingkuh."
"Selingkuh? Jangan bercanda Iris!"
"Siapa yang bercanda ma! Iris serius! Dia selingkuh sama Olivia si manager EO itu."
"Asal mama tau aja,semalam Iris juga memergoki Damar dan Olivia itu keluar jalan-jalan ke Sofia Syafir. Mama tau mereka ngapain di sana?"
Nyonya Bagas menggeleng dengan raut polos. "Memangnya mereka di sana ngapain?"
"Mereka beli perhiasan ma,perhiasan. Kurang ajar sekali,bahkan Iris sendiri belum pernah dibelikan perhiasan oleh Damar."
"Pokoknya ya ma. Iris bakalan buat perhitungan Iris gak bakalan pulang ke rumah Damar sampai Damar putusin hubungan dia sama si manager EO itu. Iris juga bakalan kirim gas beracun ke rumah Damar kalau sampai dia lebih milih si manager EO itu ketimbang Iris."
"Enak aja kalau dia sampai berani buang Iris,Iris kan udah di apa-apain nanti kalau dia buang Iris terus Iris hamil anak Iris mau di tanggung jawab-in kemana?"
Mendengar luapan emosi Iris yang begitu berapi-api nyonya Bagas mengigit bibirnya menahan tawa.
"Oh..,jadi udah di apa-apa-in nih sama Damar?" Goda Nyonya Bagas.
Iris menatap mamanya dengan nyalang. "Mama Iris lagi serius!!"
Nyonya Bagas menutup mulutnya lagi dengan tangan sembari menahan tawa.
Kelakuan nyonya Bagas tentu saja mengundang pelototan dari Iris.
"Mama,pokoknya Iris gak mau tau ya! Kalau sampai Damar milih selingkuhannya mama harus potong aset berharganya Damar biar dia gak bisa kasih keturunan ke cewek lain. Mama paham kan perasaan Iris??"
Nyonya Bagas memutar bola matanya dengan malas.
"Iya,iya Iris. Mama paham! Udah kan curhatnya? Kalau udah mama tinggal nih,mama mau siap-siap soalnya."
Mendengar kata "siap-siap" yang keluar dari mulut mamanya,Iris langsung memasang raut penasaran. Kedua alisnya terangkat,memberi kode pada sang mama untuk memperjelas kalimatnya.
"Siap-siap kemana?" Tanya Iris setelah kodenya tak mendapat jawaban dari sang mama.
Nyonya Damar yang tadi niat berbalik kini malah berbelok menuju nakas yang terletak di sudut ruangan. Setelah mengambil sesuatu dari atas sana,ia kembali lagi lalu menunjukkan sebuah kartu undangan ke hadapan Iris.
__ADS_1
"Ada anak kolega bisnis papa yang mau menikah. Kamu gak liat nih,pakaian mama udah rapi begini?"
Jawaban nyonya Bagas membuat Iris refleks menyadari sesuatu.
Memang benar adanya,pakaian nyonya Bagas terlihat seperti orang yang hendak pergi ke suatu acara.
"Kamu mau ikut gak?" Tiba-tiba nyonya Bagas menawari Iris membuat gadis itu menghentikan kegiaran mengamatinya.
"Emangnya boleh?" Tanya Iris lagi.
Nyonya Bagas hendak menyahut lagi namun urung saat menangkap kedatangan tuan Bagas yang baru turun dari lantai atas.
"Nah itu papa kamu sudah selesai siap-siapnya. Kamu kalau mau ikut,siap-siap sana."
"Loh Ris,di sini kamu?" Keberadaan Iris membuat tuan Bagas bertanya dengan nada heran.
"Dimana suami kamu?" Tanya pria paruh baya itu lagi.
"Lagi sibuk!" Jawab Iris dengan raut yang berubah jutek seketika.
Melihat Iris yang kembali jutek,nyonya Bagas memberi kode dengan menyenggol lengan suaminya itu.
"Ekhm,Ris,jadi ikut? Kalau jadi,ganti baju sana." Nyonya Bagas mengalihkan pembicaraan ayah dan anak tersebut.
Mendapat perintah langsung dari sang mama,Iris pun langsung naik ke atas menuju kamar lamanya untuk mengganti pakaiannya.
"Sebentar Ris!" Teriakan nyonya Bagas berhasil menghentikan langkah kaki Iris yang tengah menaiki anak tangga menuju lantai dua tersebut.
"Kenapa ma?" Tanya gadis itu sembari memiringkan tubuhnya sedikit.
"Di kamar mama ada gaun yang couple kayak yang di pakai mama sama papa sekarang. Kamu pake gih." Suruh nyonya Bagas pada Iris.
Tanpa banyak bertanya lagi Iris kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar sang mama.
♡♡♡
"Acaranya dimana sih ma?" Tanya Iris saat mereka sudah berada di perjalanan.
"Di mana ya? Mama lupa,coba tanya papa kamu." Suruh nyonya Bagas sembari fokus mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Di mana pa?" Iris kini beralih pada sang papa yang sedari tadi terlihat sibuk memperhatikan pemandangan di luar jendela mobil.
Entah kenapa Iris merasa kedua orangtuanya itu sengaja mengabaikan dirinya.
"Pa.." Iris megulangi panggilannya dan kali ini berhasil.
"Acaranya pernikahannya dimana?"
"Kamu tau Hello You Restaurant?" Tanya tuan Bagas balik.
Iris mengangguk singkat.
"Nah,acaranya di sana." Jawab tuan Bagas lagi.
Iris mengerutkan alisnya dengan ekspresi tampak bingung.
"Pah,ini acaranya pernikahan kan? Kok bisa di restoran? Papa yakin kalau tang punya acaranya gak salah kirim alamat?"
Tuan Bagas mengangkat bahunya dengan acuh.
"Terserah mereka lah Ris. Sekali-sekali menghadirkan nuansa berbeda kan tidak salah." Nyonya Bagas tiba-tiba menyambar jawaban dari arah samping.
Iris kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Tidak menyangkal ataupun menyanggah jawaban yang baru saja diberikan oleh mamanya itu.
♡♡♡
Iris mengerutkan dahinya hingga membentuk lipatan-lipatan kecil yang jelas menimbulkan garis kerut yang menggambarkan jika perempuan itu kini tengah berada dalam kondisi bingung.
"Mama yakin pestanya di sini?" Iris benar-benar tidak bisa membuang rasa bingungnya saat melihat keadaan restoran yang tidak menampakkan kesan pesta sedikitpun.
Hiruk pikuk pengunjung restoran yang tengah makan justru menjadi ciri khas keadaan restoran di pagi menjelang siang itu.
"Kalau menurut undangan,memang di sini Ris alamatnya." Tuan Bagas memperhatikan keadaan sekeliling dengan pandangan yang sama herannya pikiran Iris.
"Bentar ya Ris. Papa coba hubungi yang punya pesta dulu."
Tuan Bagas berjalan keluar restoran diikuti Iris dan nyonya Bagas yang membuntuti pria paruh baya itu dari arah belakang.
"Halo.."
"Bagaimana? Acaranya di undur jadi nanti malam?"
"Jam setengah delapan?"
"Oh,baik-baik pak Iwan. Ya,ya tidak masalah."
"Sama-sama."
"Siang kembali."
__ADS_1
Telepon di tutup,tuan Bagas berbalik menatap anak dan istrinya dengan raut lesu.
"Kenapa pa?" Tanya nyonya Bagas sembari menghampiri sang suami."
"Acaranya ditunda nanti malam katanya. Kita pulang dulu sekarang,tidak apa-apakan?"
Pertanyaan sang papa membuat Iris membulatkan matanya. "Hah? Bisa gitu pah? Acara pernikahan ditunda setelah undangan di sebar?"
Tuan Bagas mengangguk. "Ya,katanya si pengantin laki-laki ada meeting dadakan dengan investor dari luar negeri."
"Apa???" Iris makin-makin membelalakan matanya.
Lelucon macam apa ini?? Batin perempuan itu sambil menatap kembali ke dalam restoran.
Pyur..,keadaan benar-benar menunjukkan jika pesta tidak akan berlangsung. Sudahlah,tak ada pilihan lain bagi Iris selain kembali berjalan mengikuti langkah papa dan mamanya yang sudah lebih dulu kembali ke mobil.
♡♡♡
Setelah pagi tadi dilanda drama pesta pernikahan yang di undur akibat sang pengantin laki-laki kedatangan investor dari luar negeri.
Malam ini menjelang jam tujuh malam Iris akhirnya sudah siap kembali dengan riasan on point dan gaun berwarna putih tulang yang sudah ia kenakan di tubuh langsingnya.
Kedua orangtuanya juga sudah lebih dahulu ke mobil sementara Iris tertinggal sedikit untuk memantapkan riasan pada rambutnya.
♡♡♡
"Sudah siap pergi?" Nyonya Bagas bertanya begitu Iris membuka pintu mobil dan bersiap untuk masuk.
"Sudah ma,kali ini acaranya benar jadi kan? Gak batal-batal lagi?"
"Enggak." Jawab nyonya Bagas terdengar yakin.
Iris akhirnya masuk ke dalam mobil dan setelahnya mobil berwarna hitam tersebut melaju meninggalkan area rumah keluarga Bagaskara.
"Kamu gak ada hubungin Damar sama sekali Ris?" Tanya tuan Bagas di tengah perjalanan.
Mendengar nama sang suami yang menurut Iris menyebalkan itu di sebut,Iris langsung membuang pandangannya keluar jendela.
"Ngapain ngehubungin dia. Dia aja gak ngehubungin Iris. Palingan lagi asyik-asyikan telponan atau mungkin jalan-jalan sama selingkuhannya yang kecentilan itu. Ihk..,jijik."
Iris melakukan gaya seolah dirinya ingin muntah saat mengucapkan nama Olivia dan Damar.
Melihat kelakuan akward Iris,nyonya Bagas memberi kode pada tuan Bagas agar tidak melanjutkan pembicaraan seputar Damar lagi.
Mobil akhirnya melaju dengan penuh keheningan. Hanya deru napas dari masing-masing saja yang terdengar sahut-menyahut.
♡♡♡
Suasana restoran yang di kunjungi malam itu tak terlalu berubah dari keadaan siang tadi. Hanya saja kali ini lebih sepi,hanya ada beberapa orang yang kalau Iris tidak salah dari beberapa orang yang ada di di sana wajahnya tidak asing bagi Iris.
"Mah,pah,beneran jadikan pestanya?" Iris mengulangi lagi pertanyaan yang sempat ia tanyakan sebelum berangkat tadi.
Nyonya dan tuan Bagas mengangguk. Jadi kok,acara tuh liat ke dalam. Restorannya juga sudah di reservasi sedemikan rupa kan?"
Iris mengamati lebih ke dalam,ada benarnya memang ucapan papanya itu. View di dalam restoran tersebut memang sudah di ubah menjadi romantis dengan nuansa penerangan dari lilin di setiap sudut ruangannya.
"Kita ke rooftop dulu yuk." Tiba-tiba nyonya Bagas menggandeng tangan Iris diikuti oleh tuan Bagas yang juga menggandeng tangan Iris yang sebelahnya.
"Loh,ke rooftop mau ngapain emang?"
Tanya Iris agak gelagapan karena di gadeng tiba-tiba oleh kedua orangtuanya.
"Udah ikut aja,memangnya kamu gak ketemu sama pengantinnya?"
Iris melongo melongo tak percaya mendengar pertanyaan mamanya barusan.
"Hah? P..pengantinnya di rooftop sana?" Tanya perempuan itu dengan perasaan makin bingung.
"Mah,pah." Iris melepaskan kedua tangannya dari rangkulan papa dan mamanya kemudian berbalik agar bisa melihat wajah kedua orangtuanya.
"Ini benaran pesta pernikahan atau prank sih ma? Kok konsepnya aneh gini? Mama sama papa gak lagi dikerjain sama yang punya acara ini kan?"
"Yang ngundang bukan saingan bisnis papa kan? Kok perasaan Iris gak enak ya? Papa sama mama gak curiga?"
Lagi-lagi tuan dan nyonya Bagas menggeleng. "Udah ya,ikut aja dulu ke atas. Nanyanya nanti lagi,sampai di atas kamu akan dapat jawaban dari semua pertanyaan kamu tadi jadi sekarang diam dan ikutin apa yang papa sama mama arahin ke kamu. Pahamkan?"
Mau tak mau Iris mengangguk. "Iya deh Iris paham. Sekarang Iris ikut naik tapi papa sama mama harus janji jangan gandengin lengan Iris kayak tadi,Iris jadi ngerasa kayak mempelai yang mau diserahin ke pengantin prianya tau!"
Pernyataan Iris barusan membuat tuan dan nyonya Bagas saling pandang kemudian mengangguk dengan menyelipkan senyuman penuh arti.
♡♡♡
Hayyy guyss,udah mau end aja nih.
Sambil nunggu2 eps terakhir di up,mampir lah ke Terjerat Pesona Anak Majikan.
Di sana sudah UP sekitar 27 Bab nah setelah ini end aku bakalan lanjutin up lagi novel Terjerat Pesona Anak Majikan dan juga sekalian UP novel tantangan dari NT.
Terimakasih dan sampai jumpa di final eps besok...
__ADS_1